JAKARTA, Signalberita.com – Pasar Otomotif saat ini lagi Tren kendaraan ramah lingkungan, di perkirakan semakin berkembang pada 2026. Salah satu segmen yang di prediksi mengalami pertumbuhan signifikan adalah Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV), terutama berkat agresivitas merek-merek mobil asal Cina yang menawarkan harga lebih terjangkau.
Sebelumnya, kendaraan PHEV di Indonesia identik dengan harga premium yang menembus angka Rp1 miliar. Namun situasi mulai berubah setelah sejumlah produsen otomotif Cina menghadirkan model PHEV dengan banderol yang jauh lebih kompetitif.
Beberapa contoh di antaranya adalah Chery Tiggo 8 CSH yang di pasarkan mulai kisaran Rp400 jutaan. Sementara itu, BYD turut meramaikan pasar melalui M6 DM-i yang di tawarkan dengan harga mulai Rp298 juta hingga Rp390 jutaan.
PHEV Jadi Solusi Transisi Menuju Kendaraan Listrik
Pengamat otomotif sekaligus akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menilai kendaraan hybrid, termasuk PHEV, memiliki peran penting dalam masa transisi menuju elektrifikasi penuh.
Menurutnya, teknologi hybrid menjadi pilihan yang lebih aman bagi masyarakat karena mampu menghemat konsumsi bahan bakar tanpa ketergantungan pada infrastruktur pengisian daya yang saat ini belum merata.
“Hybrid menjadi jembatan paling realistis karena lebih hemat bahan bakar dan tidak membutuhkan fasilitas pengisian daya khusus seperti kendaraan listrik murni,” ujarnya.
Yannes menambahkan, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kendaraan ramah lingkungan serta potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dapat menjadi faktor pendorong pertumbuhan pasar PHEV di Indonesia.
Strategi Merek Cina Dinilai Tepat
Produsen otomotif Cina di nilai mampu membaca kebutuhan konsumen Indonesia dengan menghadirkan kendaraan elektrifikasi yang tetap praktis di gunakan sehari-hari.
Selain PHEV, beberapa pabrikan juga mulai memperkenalkan teknologi Range Extender Electric Vehicle (REEV), yang menggabungkan motor listrik dengan mesin pembangkit daya untuk memperpanjang jarak tempuh kendaraan.
Strategi tersebut di anggap lebih sesuai dengan kondisi Indonesia di bandingkan langsung mendorong penggunaan kendaraan listrik murni secara masif.
“Pendekatan yang di lakukan merek Cina menawarkan solusi transisi yang lebih realistis bagi pasar Indonesia,” kata Yannes.
Deretan PHEV Cina Semakin Banyak
Persaingan di segmen PHEV juga semakin ketat. Setelah meluncurkan Tiggo 8 CSH, Chery memperluas lini produknya melalui Tiggo 9 CSH yang menyasar kelas lebih tinggi.
Di bawah grup yang sama, Jaecoo turut menghadirkan model J7 SHS dan J8 SHS yang bermain di segmen Sport Utility Vehicle (SUV).
Sementara itu, BYD mulai memperkenalkan teknologi DM-i di Indonesia. Setelah menghadirkan M6 DM-i, perusahaan tersebut juga di kabarkan akan membawa Denza B5 PHEV dan Seal 6 DM-i ke pasar domestik.
Harga Kompetitif Jadi Daya Tarik
Salah satu faktor utama yang membuat PHEV semakin di minati adalah harga jual yang lebih terjangkau dibandingkan kendaraan listrik murni maupun PHEV generasi sebelumnya.
Saat ini, mayoritas model PHEV dari merek-merek Cina di pasarkan dengan harga di bawah Rp1 miliar. Kondisi tersebut membuka peluang lebih besar bagi konsumen kelas menengah untuk beralih ke kendaraan elektrifikasi.
Di tengah keterbatasan infrastruktur pengisian daya dan harga kendaraan listrik murni yang masih relatif tinggi, PHEV di nilai menjadi opsi yang paling realistis bagi banyak konsumen Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.(*)










