JAKARTA, Signalberita.com – Teknologi jaringan generasi kelima (5G) semakin berkembang di Dunia. Berdasarkan Laporan terbaru Ericsson Mobility Report (EMR) Juni 2026 mencatat jumlah pelanggan 5G global telah melampaui tiga miliar pada kuartal pertama tahun ini, dengan tambahan sekitar 162 juta pelanggan baru dalam tiga bulan pertama 2026.
Ericsson memperkirakan adopsi teknologi 5G akan terus meningkat hingga mencapai 6,4 miliar pelanggan pada 2031. Pertumbuhan tersebut di yakini akan menjadi fondasi penting bagi pengembangan kecerdasan buatan (AI), komputasi awan (cloud), serta transformasi digital di berbagai sektor industri.
5G Menjadi Infrastruktur Strategis
Presiden Direktur Ericsson Indonesia, Nora Wahby, menegaskan bahwa transformasi digital berbasis AI sangat bergantung pada kesiapan jaringan telekomunikasi yang di bangun saat ini.
Menurutnya, 5G tidak lagi hanya di pandang sebagai teknologi komunikasi, melainkan telah berkembang menjadi infrastruktur strategis nasional yang membutuhkan dukungan kebijakan jangka panjang, kolaborasi lintas sektor, serta standar keamanan tingkat tinggi.
“Jaringan yang di bangun hari ini akan menjadi fondasi berbagai layanan digital dan aplikasi masa depan,” ujarnya.
Indonesia Berpotensi Miliki 200 Juta Pelanggan 5G
Head of Government and Industry Relations Ericsson Indonesia, Ronni Nurmal, menyebutkan Indonesia memiliki peluang besar dalam pengembangan ekonomi digital berbasis teknologi 5G, AI, dan cloud.
Berdasarkan proyeksi Ericsson, jumlah pelanggan 5G di Indonesia dapat menembus lebih dari 200 juta pengguna pada 2031. Namun, pencapaian tersebut membutuhkan infrastruktur yang aman, tangguh, dan di dukung ekosistem inovasi yang kuat.
Ronni menilai keberhasilan transformasi digital tidak hanya di tentukan oleh luasnya cakupan jaringan, tetapi juga kemampuan menghadirkan layanan yang andal dan berkelanjutan.
Operator Global Beralih ke 5G Standalone
Saat ini sekitar 390 operator telekomunikasi di seluruh dunia telah mengoperasikan layanan 5G secara komersial. Dari jumlah tersebut, lebih dari 90 operator telah mengadopsi teknologi 5G Standalone (5G SA), yang memungkinkan jaringan bekerja lebih optimal tanpa bergantung pada infrastruktur 4G.
Ericsson mencatat jaringan 5G SA telah menangani sekitar 48 persen trafik data seluler global pada akhir 2025. Angka tersebut di perkirakan meningkat hingga 85 persen pada 2031.
Selain itu, layanan network slicing berbasis 5G SA juga semakin banyak di terapkan. Teknologi ini memungkinkan operator menyediakan kualitas jaringan yang berbeda sesuai kebutuhan pelanggan maupun sektor industri tertentu.
AI Dorong Lonjakan Trafik Data
Laporan EMR Juni 2026 juga menyoroti dampak perkembangan kecerdasan buatan terhadap kebutuhan jaringan telekomunikasi.
Head of Network Solutions Ericsson South East Asia, Stanislaus Bawono, menjelaskan bahwa penggunaan aplikasi AI di perkirakan akan meningkatkan trafik jaringan secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan.
Tidak hanya trafik unduhan (downlink), trafik unggahan (uplink) juga menunjukkan pertumbuhan yang lebih cepat. Sebanyak 43 dari 55 operator yang dianalisis Ericsson mencatat peningkatan trafik uplink yang lebih tinggi di bandingkan downlink.
Fenomena tersebut di picu oleh meningkatnya penggunaan layanan video konferensi, kolaborasi digital, konten buatan pengguna, hingga layanan penyimpanan berbasis cloud.
Bahkan, volume trafik uplink di perkirakan bisa meningkat hingga tiga kali lipat pada 2031 di bandingkan kondisi tahun 2025.
FWA Jadi Solusi Perluasan Internet
Selain 5G SA, Ericsson juga menyoroti potensi besar Fixed Wireless Access (FWA) sebagai solusi perluasan akses internet broadband.
Layanan berbasis jaringan nirkabel ini di nilai mampu menjangkau wilayah yang sulit di layani jaringan fiber optik, termasuk daerah kepulauan dan wilayah terpencil.
Pengalaman negara seperti Filipina menunjukkan implementasi 5G FWA dapat menjadi solusi efektif untuk meningkatkan konektivitas digital. Kondisi geografis Filipina yang mirip dengan Indonesia membuat teknologi ini di nilai memiliki peluang besar untuk diterapkan secara lebih luas di Tanah Air.
Persiapan Menuju Era 6G
Di tengah percepatan pengembangan 5G, industri telekomunikasi global juga mulai mempersiapkan teknologi jaringan generasi keenam atau 6G.
Ericsson memperkirakan proses standardisasi awal 6G akan selesai pada 2028 hingga 2029, sementara peluncuran komersial pertamanya diproyeksikan terjadi sekitar tahun 2030.
Teknologi tersebut di gadang-gadang mampu menghadirkan integrasi lebih erat antara jaringan darat dan satelit, sekaligus meningkatkan efisiensi energi melalui pemanfaatan AI secara lebih luas.
Fondasi Indonesia Digital 2045
Ericsson menilai keberhasilan mewujudkan visi Indonesia Digital 2045 akan sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur telekomunikasi nasional.
Selain pembangunan jaringan yang kuat, diperlukan ketersediaan spektrum frekuensi yang memadai, dukungan regulasi yang konsisten, serta ekosistem industri yang sehat dan kompetitif.
Dengan kombinasi 5G, AI, cloud, dan berbagai inovasi digital lainnya, Indonesia berpeluang mempercepat transformasi ekonomi digital sekaligus meningkatkan daya saing nasional di tingkat global.(*)










