SENGETI Signalberita.com — Kemarau yang berkepanjangan masih melanda kabupaten Muaro Jambi, kondisi ini membuat Kasus Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Muaro Jambi terus mengalami peningkatan.
Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Muaro Jambi tercatat, hingga 12 Agustus 2026, total sudah terjadi 22 kasus karhutla sepanjang tahun ini.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Muaro Jambi, Anari Hasiholan Sitorus, mengatakan delapan kasus pada Agustus tersebut terjadi sejak 2 hingga 12 Agustus.
“Keseluruhan ada 22 kasus karhutla. Untuk bulan Agustus ini sudah ada delapan kasus, terhitung dari tanggal 2 sampai 12 Agustus 2026,” katanya.
Angka tersebut menjadi perhatian karena delapan kasus dalam 12 hari sudah menyumbang hampir sepertiga dari seluruh kejadian karhutla yang tercatat sepanjang tahun.
Karhutla terjadi di enam kecamatan, yakni Jaluko, Sekernan, Kumpeh, Mestong, Maro Sebo, dan Sungai Gelam.
Sepanjang 2026, luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 39,78 hektare. Namun, angka tersebut belum final karena luas lahan yang terbakar di dua lokasi pada Agustus masih dalam proses pendataan.
Salah satu lokasi berada di Desa Persiapan Air Merah, Kecamatan Sungai Gelam. Kebakaran berlangsung sejak 5 hingga 12 Agustus dan melanda lahan gambut milik masyarakat.
Vegetasi yang terbakar di lokasi tersebut antara lain sawit, nanas, dan semak belukar.
Belum rampung pendataan di Sungai Gelam, kebakaran kembali terjadi di Desa Rondang, Kecamatan Kumpeh, pada 11 dan 12 Agustus.
“Untuk luasan lahan yang terbakar di Desa Rondang juga masih dalam perhitungan,” ujar Anari.
Secara umum, lahan yang terbakar di Muaro Jambi terdiri dari lahan mineral dan semi-gambut. Mayoritas merupakan lahan masyarakat dengan vegetasi berupa pepohonan dan semak belukar.
BPBD Muaro Jambi mengingatkan bahwa status siaga darurat bencana karhutla masih berlaku hingga 15 Oktober 2026.(Tim)




















