Signalberita.com — Anak yang keras, sulit menurut, dan mudah marah tidak selalu berarti anak nakal. Perilaku tersebut bisa menjadi cara anak menyampaikan kebutuhan, emosi, kelelahan, atau rasa tidak di dengar.
Karena itu, orang tua perlu memahami bahwa yang harus di perbaiki bukan hanya perilaku anak, tetapi juga cara meresponsnya. Pendekatan yang tepat dapat membantu anak belajar mengelola emosi sekaligus memahami batasan.
Berikut tujuh cara yang bisa di coba orang tua:
1. Jangan Melawan Kemarahan dengan Kemarahan
Ketika anak mulai meninggi, orang tua sebaiknya berusaha menurunkan suara dan menjaga ketenangan. Jika orang tua ikut meledak, anak dapat belajar bahwa kemarahan merupakan cara menyelesaikan masalah.
2. Tegas Tidak Harus Keras
Aturan perlu di sampaikan secara singkat, jelas, dan tetap menghormati perasaan anak.
Misalnya, orang tua dapat mengatakan, “Ayah tahu kamu sedang marah, tetapi memukul tetap tidak boleh.”
Anak boleh merasakan marah, tetapi tidak semua tindakan yang dilakukan saat marah dapat dibenarkan.
3. Dengarkan Sebelum Menasihati
Tidak semua situasi membutuhkan ceramah panjang. Terkadang, anak hanya ingin merasa dipahami.
Setelah emosinya lebih tenang, orang tua dapat mengajak anak membicarakan apa yang terjadi dan menjelaskan perilaku yang perlu di perbaiki.
4. Berikan Pilihan yang Terbatas
Daripada selalu memberikan perintah secara langsung, orang tua dapat menawarkan pilihan yang tetap berada dalam batas aturan.
Contohnya, “Kamu mau merapikan mainan sekarang atau lima menit lagi?”
Dengan cara ini, anak tetap mengikuti aturan, tetapi memiliki kesempatan untuk memilih.
5. Terapkan Aturan Secara Konsisten
Aturan yang berubah-ubah dapat membuat anak bingung. Karena itu, orang tua perlu berusaha konsisten dalam menetapkan batasan dan menerapkannya.
Konsistensi membantu anak memahami bahwa aturan berlaku secara jelas, bukan hanya ketika orang tua sedang marah.
6. Puji Perilaku Baik Secara Spesifik
Perhatian orang tua sebaiknya tidak hanya diberikan ketika anak melakukan kesalahan. Ketika anak mau mendengar, menunggu giliran, atau berhasil mengendalikan kemarahannya, berikan apresiasi.
Misalnya, “Ayah senang kamu tadi bisa menahan marah dan bicara baik-baik.”
Pujian yang spesifik membantu anak memahami perilaku positif yang perlu di pertahankan.
7. Periksa Contoh yang Dilihat Anak Setiap Hari
Anak belajar mengelola emosi dari lingkungan terdekatnya. Jika anak sering melihat orang dewasa membentak ketika kecewa, bukan tidak mungkin ia meniru pola tersebut.
Karena itu, orang tua juga perlu menjadi contoh dalam menyampaikan emosi, menyelesaikan perbedaan pendapat, dan menghadapi masalah.
Jangan Melabeli Anak sebagai “Nakal”
Orang tua perlu berhati-hati dalam memilih kata ketika menegur anak. Kalimat seperti “Kamu anak nakal” atau “Kamu memang susah diatur” dapat membuat anak membentuk gambaran negatif tentang dirinya sendiri.
Lebih baik, orang tua memisahkan anak dari perilakunya. Misalnya, “Perbuatanmu tadi tidak baik. Kita perbaiki bersama.”
Dengan begitu, anak memahami bahwa perilakunya dapat di perbaiki tanpa merasa dirinya sebagai pribadi yang buruk.
Pada akhirnya, mendidik anak membutuhkan keseimbangan antara kelembutan dan ketegasan. Lembut bukan berarti lemah, sedangkan tegas tidak harus di lakukan dengan kasar.
Anak perlu belajar bahwa marah merupakan emosi yang boleh di rasakan, tetapi harus di kendalikan. Berbeda pendapat boleh, tetapi tetap harus menghormati orang lain. Kesalahan pun bukan alasan untuk berhenti belajar menjadi lebih baik.(Tim)



















