YAMAN, Signalberita.com – Kepulauan Socotra di Yaman menyimpan salah satu ekosistem paling unik di dunia. Di wilayah ini tumbuh pohon dragon blood tree atau pohon darah naga (Dracaena cinnabari) yang memiliki bentuk sangat khas, dengan batang tebal dan tajuk menyerupai payung.
Penampilan pohon tersebut membuat kawasan hutan Socotra kerap di gambarkan seperti lanskap dari planet lain. Lebih menarik lagi, Dracaena cinnabari secara alami hanya dapat di temukan di Kepulauan Socotra.
Dalam sejumlah pembahasan, hutan di Socotra juga sering disebut sebagai “hutan yang berpindah”. Namun, istilah tersebut tidak berarti pepohonan dapat bergerak atau berpindah tempat secara tiba-tiba.
Istilah itu lebih tepat menggambarkan perubahan pola persebaran hutan dalam jangka waktu panjang. Berdasarkan catatan ilmiah, habitat alami pohon darah naga pada masa lalu memiliki cakupan yang lebih luas. Kini, persebarannya semakin menyusut dan terfragmentasi akibat berbagai perubahan lingkungan.
Keunikan Socotra tidak hanya terletak pada bentuk pohon darah naga. Kepulauan yang terisolasi selama jutaan tahun tersebut memiliki tingkat endemisme tumbuhan yang sangat tinggi.
UNESCO mencatat sekitar 37 persen spesies tumbuhan di Socotra merupakan spesies endemik yang tidak di temukan secara alami di wilayah lain di dunia. Proses evolusi yang berlangsung dalam kondisi geografis terisolasi membuat banyak tumbuhan di kawasan tersebut memiliki bentuk yang berbeda di bandingkan flora di daratan utama.
Salah satu tumbuhan yang paling ikonik adalah Dracaena cinnabari. Pohon ini menghasilkan getah berwarna merah yang di kenal sebagai “darah naga”. Keunikan bentuk dan karakteristiknya membuat pohon tersebut menjadi salah satu simbol penting keanekaragaman hayati Socotra.
Namun, keberadaan hutan pohon darah naga kini menghadapi berbagai tekanan. Perubahan lingkungan, sulitnya regenerasi alami, degradasi habitat, serta perubahan kondisi iklim menjadi sejumlah faktor yang mendapat perhatian para peneliti.
Regenerasi menjadi persoalan penting karena pertumbuhan pohon darah naga berlangsung relatif lambat. Ketika habitatnya mengalami perubahan, kemampuan populasi untuk mempertahankan keberlangsungannya juga dapat ikut terpengaruh.
Karena itu, fenomena yang di sebut sebagai “hutan berpindah” sebenarnya menyimpan cerita yang jauh lebih kompleks. Bukan tentang pepohonan yang bergerak, melainkan mengenai perubahan habitat dan persebaran vegetasi dari waktu ke waktu.
Di balik bentuknya yang terlihat seperti berasal dari dunia lain, hutan Socotra menjadi gambaran bagaimana sebuah ekosistem yang telah berkembang secara unik selama jutaan tahun kini menghadapi tantangan untuk bertahan.
Pelestarian habitat menjadi penting agar pohon darah naga dan berbagai spesies endemik Socotra tetap dapat bertahan sebagai bagian dari kekayaan biodiversitas dunia.
Sumber/Referensi: UNESCO World Heritage Centre, UNESCO Man and the Biosphere Programme, serta berbagai jurnal ilmiah mengenai konservasi Dracaena cinnabari.(*)



















