JAMBI, Signalberita.com – Hujan kembali mengguyur Kota Jambi dan sejumlah wilayah di Provinsi Jambi dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini sempat menimbulkan pertanyaan, apakah musim kemarau di9 Jambi sudah berakhir dan kapan musim hujan akan benar-benar tiba?
Ketua Tim Data dan Informasi Stasiun Meteorologi BMKG Sultan Thaha Jambi, Jaya Martuah Sinaga, menjelaskan hujan yang turun di sejumlah wilayah Jambi bukan berasal dari Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Menurut Jaya, saat ini tidak ada pelaksanaan OMC di wilayah Jambi. Hujan terjadi secara alami akibat pertumbuhan awan hujan yang mulai berkembang di sejumlah daerah.
“Untuk saat ini tidak ada OMC di wilayah Jambi. Hujan yang terjadi merupakan hujan alami akibat pertumbuhan awan hujan,” kata Jaya.
Pertumbuhan awan hujan tersebut mulai meluas, tetapi kemunculannya tidak terjadi secara bersamaan di seluruh wilayah Jambi. Karena itu, ada daerah yang sudah mengalami hujan, sementara wilayah lainnya masih menghadapi cuaca panas dan kering.
Meski hujan mulai turun, kondisi tersebut belum dapat menjadi tanda bahwa musim kemarau di Jambi telah berakhir sepenuhnya.
BMKG memperkirakan musim kemarau di Jambi masih berlangsung hingga akhir Oktober 2026. Setelah periode tersebut, wilayah Jambi diperkirakan mulai memasuki musim hujan secara bertahap.
Artinya, masyarakat masih akan menghadapi kondisi cuaca yang berubah-ubah dalam beberapa pekan ke depan. Hujan dapat turun di sejumlah wilayah, tetapi secara umum Jambi masih berada dalam periode kemarau.
Hujan yang terjadi belakangan ini juga memberikan dampak positif terhadap kondisi udara. Turunnya hujan dapat membantu membasahi permukaan lahan sekaligus mengurangi konsentrasi kabut asap yang muncul akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Namun, Jaya mengingatkan bahwa hujan yang turun saat ini belum berarti ancaman karhutla telah sepenuhnya berakhir. Akumulasi curah hujan masih belum terlalu signifikan sehingga potensi kebakaran lahan tetap perlu diwaspadai selama musim kemarau berlangsung.
Apabila kembali terjadi periode panas panjang dengan minim hujan, potensi munculnya titik panas dan kebakaran lahan masih dapat terjadi.
Di sisi lain, peningkatan peluang hujan dalam beberapa pekan mendatang menjadi bagian dari proses peralihan menuju musim hujan. Perubahan tersebut tidak berlangsung serentak di seluruh wilayah Jambi karena intensitas dan frekuensi hujan dapat berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya.
Dengan demikian, hujan yang mengguyur Kota Jambi dan sejumlah wilayah pada Kamis (24/9/2026) merupakan fenomena hujan alami. Sementara musim kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga akhir Oktober sebelum Jambi secara bertahap memasuki periode musim hujan.(Tim)




















