JAKARTA, Signalberita.com – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) kembali menyiapkan dana maksimal Rp1 triliun untuk membeli kembali sahamnya atau buyback tahap II. BRI menjadwalkan aksi korporasi ini berlangsung mulai 22 Oktober 2026 hingga 21 Januari 2027.
Corporate Secretary BRI, Dhanny, menjelaskan bahwa perusahaan menjalankan buyback sebagai bagian dari strategi untuk meningkatkan nilai bagi pemegang saham. BRI juga mempertimbangkan kondisi keuangan dan mematuhi seluruh ketentuan yang berlaku dalam melaksanakan aksi korporasi tersebut.
Dhanny menegaskan bahwa rencana buyback mencerminkan keyakinan manajemen terhadap fundamental bisnis dan prospek pertumbuhan jangka panjang BRI.
“Langkah buyback saham ini mencerminkan keyakinan BRI terhadap fundamental bisnis dan prospek pertumbuhan jangka panjang. Perseroan tetap mengedepankan kecukupan permodalan, prinsip kehati-hatian, serta penerapan tata kelola perusahaan yang baik sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” ujar Dhanny dalam keterangan resminya, Rabu (28/10/2026).
BRI Perhitungkan Dinamika Pasar Global
Dhanny mengatakan bahwa BRI turut memperhitungkan kondisi pasar global sebelum mengambil keputusan buyback. Ketidakpastian ekonomi dan ketegangan geopolitik menjadi sejumlah faktor yang memengaruhi pertimbangan perusahaan.
Selain itu, BRI mencermati pergerakan harga komoditas dan arus modal yang turut memengaruhi volatilitas pasar keuangan Indonesia.
Melalui pembelian kembali saham, BRI berupaya mengoptimalkan nilai bagi pemegang saham di tengah perubahan kondisi pasar. Namun, manajemen tetap menjaga kesehatan keuangan perusahaan dan mengikuti ketentuan regulator.
Dalam praktiknya, buyback memungkinkan perusahaan membeli kembali saham yang beredar di pasar. Langkah ini dapat mengurangi jumlah saham beredar, bergantung pada pelaksanaan dan perlakuan terhadap saham hasil buyback.
Meski demikian, aksi tersebut tidak otomatis menaikkan harga saham. Kondisi pasar, kinerja perusahaan, dan sentimen investor tetap memengaruhi pergerakan harga BBRI.
BRI Lanjutkan Program Buyback hingga Rp3 Triliun
BRI melaksanakan buyback tahap II sebagai bagian dari program pembelian kembali saham yang telah mendapat persetujuan pemegang saham.
Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 24 Maret 2025, pemegang saham menyetujui program buyback dengan nilai maksimal Rp3 triliun.
Persetujuan tersebut memungkinkan BRI membeli kembali saham melalui bursa efek maupun di luar bursa. Perusahaan juga dapat melaksanakan pembelian secara bertahap atau sekaligus sesuai ketentuan yang berlaku.
Pada 2026, BRI melanjutkan program tersebut melalui buyback tahap I. Berdasarkan keterbukaan informasi pada 12 Juni 2026, perusahaan menyiapkan dana maksimal Rp500 miliar untuk periode pelaksanaan 12 Juni hingga 11 September 2026.
Selanjutnya, BRI mengalokasikan dana maksimal Rp1 triliun untuk buyback tahap II yang berlangsung hingga 21 Januari 2027.
BRI Bukukan Laba Bersih Rp31,2 Triliun
Di tengah pelaksanaan aksi korporasi, BRI mencatatkan kinerja keuangan yang positif hingga akhir triwulan II 2026.
BRI membukukan laba bersih sebesar Rp31,2 triliun. Pada periode yang sama, perusahaan meningkatkan total aset sebesar 11,7 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp2.352 triliun.
Dari sisi pendanaan, BRI menghimpun dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp1.581 triliun, atau tumbuh 6,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
BRI juga memperluas penyaluran kredit dan pembiayaan hingga Rp1.646 triliun. Angka tersebut meningkat 16,2 persen secara tahunan.
Pertumbuhan aset, penghimpunan dana, dan penyaluran kredit tersebut menunjukkan perkembangan aktivitas bisnis BRI dalam menjalankan fungsi intermediasi perbankan.
BRI Jaga Permodalan dan Likuiditas
Selain mencatat pertumbuhan bisnis, BRI mempertahankan rasio permodalan dan likuiditas yang mendukung kegiatan operasional perusahaan.
BRI mencatat rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 21,5 persen. Sementara itu, rasio kredit terhadap dana pihak ketiga atau Loan to Deposit Ratio (LDR) mencapai 90,8 persen.
Manajemen menilai posisi tersebut memberikan ruang bagi BRI untuk terus menyalurkan kredit, menghimpun dana masyarakat, dan menjaga pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan.
“Dengan fundamental dan permodalan yang kuat, kami optimistis BRI memiliki ruang untuk terus bertumbuh serta memberikan hasil yang optimal bagi pemegang saham dalam jangka panjang,” kata Dhanny.
Investor Perlu Mencermati Dampak Buyback BBRI
Rencana buyback senilai maksimal Rp1 triliun menjadi salah satu faktor yang dapat dipertimbangkan investor ketika mengevaluasi prospek saham BBRI.
Melalui aksi ini, BRI berupaya mengoptimalkan pengelolaan modal dan memberikan nilai bagi pemegang saham. Namun, investor tidak dapat menganggap buyback sebagai jaminan kenaikan harga saham atau keuntungan investasi.
Investor perlu mencermati perkembangan laba, kualitas kredit, pertumbuhan bisnis, kondisi pasar, dan valuasi saham sebelum mengambil keputusan.
Dengan demikian, investor sebaiknya menilai rencana buyback tahap II bersama dengan fundamental dan prospek bisnis BRI. Langkah tersebut membantu investor mempertimbangkan peluang sekaligus risiko sebelum membeli atau menjual saham BBRI.(*)




















