JAKARTA, Signalberita.com – Persaingan di industri telekomunikasi semakin ketat seiring penyesuaian tarif internet rumah yang dilakukan sejumlah operator. Riset Mirae Asset Sekuritas Indonesia per 23 Oktober 2026 mencatat tarif internet rumah mengalami penurunan rata-rata 2,2% secara bulanan pada Oktober 2026.
Penurunan tersebut terjadi setelah sejumlah penyedia layanan, termasuk IndiHome, XL Satu, ICON+, dan Biznet, melakukan penyesuaian harga. Kondisi ini membuat operator harus menjaga daya saing tarif sekaligus meningkatkan pendapatan dari setiap pelanggan.
Di tengah persaingan tersebut, kinerja PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) diperkirakan membaik pada 2027. Prospek ini didukung peluang monetisasi jaringan 5G, peningkatan pendapatan rata-rata per pengguna atau average revenue per user (ARPU), serta normalisasi belanja modal.
Monetisasi 5G Berpotensi Tingkatkan ARPU EXCL
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, Imam Gunadi, menilai penyesuaian harga paket seluler yang dilakukan operator pada akhir Agustus hingga September 2026 merupakan bagian dari strategi untuk menjaga ARPU.
Selain penyesuaian tarif, EXCL dan PT Indosat Tbk (ISAT) sejak Agustus 2026 juga menggandakan kuota pada paket berukuran besar. Strategi tersebut ditujukan untuk mendorong pelanggan beralih ke layanan 5G sekaligus meningkatkan monetisasi jaringan.
Peningkatan penetrasi 5G dinilai berpotensi mendukung pertumbuhan ARPU EXCL pada 2027. Pasalnya, ARPU layanan 5G perseroan diperkirakan sekitar 20% lebih tinggi dibandingkan layanan 4G.
Imam memproyeksikan pertumbuhan ARPU EXCL pada 2027 dapat mencapai 6% secara tahunan. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan asumsi dasar sebesar 4%.
Sementara itu, ARPU perseroan diperkirakan mencapai Rp47.800 pada kuartal III-2026 dan meningkat menjadi Rp49.300 pada kuartal IV-2026.
Pendapatan dan Laba Bersih Diproyeksikan Meningkat
Perbaikan ARPU dan monetisasi jaringan diperkirakan turut mendorong pertumbuhan keuangan EXCL.
Pendapatan perusahaan diproyeksikan mencapai Rp47,86 triliun pada 2026, kemudian meningkat menjadi Rp49,45 triliun pada 2027.
Dari sisi EBITDA, nilainya diperkirakan naik dari Rp22,18 triliun pada 2026 menjadi Rp24,22 triliun pada 2027.
Adapun laba bersih inti EXCL diproyeksikan berbalik dari kerugian Rp2,46 triliun pada 2026 menjadi laba Rp3,68 triliun pada 2027.
Proyeksi tersebut mencerminkan ekspektasi perbaikan kinerja operasional dan efisiensi biaya. Meski demikian, pencapaiannya tetap bergantung pada realisasi pertumbuhan pelanggan, kemampuan meningkatkan ARPU, serta pengendalian biaya perusahaan.
Integrasi Jaringan EXCL Hampir Rampung
Kemajuan integrasi jaringan menjadi salah satu faktor yang mendukung prospek EXCL. Proses integrasi melalui skema Multi Operator Core Network (MOCN) dilaporkan telah mencapai sekitar 90%, sedangkan pembongkaran aset mencapai 95%.
Dengan kemajuan tersebut, sisa biaya teknologi informasi yang berkaitan dengan proses integrasi diperkirakan relatif kecil.
Imam memperkirakan margin EBITDA EXCL meningkat dari 46% pada 2026 menjadi 49% pada 2027. Peningkatan itu diperkirakan didukung pertumbuhan pendapatan, monetisasi layanan 5G, serta normalisasi belanja modal.
Namun, investor tetap perlu mencermati perkembangan realisasi ARPU dan biaya yang masih timbul dari proses integrasi jaringan. Kedua faktor tersebut dapat memengaruhi pencapaian proyeksi kinerja perusahaan.
Bisnis Internet Rumah TLKM Masih Menghadapi Tantangan
Berbeda dengan prospek EXCL, bisnis internet rumah PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) masih menghadapi sejumlah tantangan di tengah persaingan tarif.
ARPU segmen fixed broadband TLKM diperkirakan mencapai Rp219.000 per bulan. Angka tersebut mencerminkan pertumbuhan 5% secara tahunan dan 4% secara kuartalan.
Dari sisi pelanggan, jumlah pengguna layanan internet tetap perusahaan diproyeksikan mencapai 9,86 juta. Angka itu turun 4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, tetapi meningkat 4% dibandingkan kuartal sebelumnya.
Selain persaingan bisnis, TLKM juga menghadapi risiko tambahan pencadangan penurunan nilai aset atau impairment sebesar Rp6 triliun hingga Rp8 triliun pada semester II-2026.
Apabila pencadangan tersebut dilakukan, laba bersih yang dilaporkan berpotensi tertekan. Biaya terkait penerapan sistem enterprise resource planning (ERP) juga diperkirakan menjadi salah satu faktor yang membebani kinerja perusahaan pada kuartal III-2026.
Rekomendasi Saham EXCL dan Valuasi Sektor Telekomunikasi
Di tengah prospek perbaikan kinerja tersebut, Imam mempertahankan rekomendasi buy untuk saham EXCL dengan target harga Rp5.300 per saham.
Rekomendasi itu didasarkan pada peluang peningkatan ARPU melalui monetisasi jaringan 5G, kemajuan integrasi jaringan, dan normalisasi belanja modal pada 2027.
Berdasarkan estimasi 2027, saham EXCL diperdagangkan pada rasio adjusted enterprise value to EBITDA (EV/EBITDA) sekitar 4,3 kali. Sementara itu, rasio price to earnings (PER) diperkirakan berada pada kisaran 11,6–11,7 kali.
Secara sektoral, valuasi saham telekomunikasi berada di sekitar 4,1 kali EV/EBITDA berdasarkan estimasi 12 bulan ke depan. Posisi tersebut disebut sekitar dua standar deviasi di bawah rata-rata historisnya.
Meski demikian, rekomendasi analis dan target harga bukan jaminan keuntungan bagi investor. Pergerakan saham tetap dipengaruhi realisasi kinerja perusahaan, kondisi persaingan, kebutuhan belanja modal, serta sentimen pasar.
Perkembangan tarif internet rumah dan strategi monetisasi jaringan 5G menjadi sejumlah faktor penting yang perlu diperhatikan dalam menilai prospek emiten telekomunikasi. Kemampuan perusahaan menjaga pelanggan, meningkatkan pendapatan per pengguna, dan mengendalikan biaya akan turut menentukan arah kinerja ke depan.




















