JAKARTA, Signalberita.com – Harga kopi global mengalami tekanan sepanjang pekan terakhir Oktober 2026. Harga kopi jenis arabika dan robusta sama-sama melemah seiring meningkatnya harapan pasar terhadap pemulihan pasokan dari negara produsen utama, terutama Brasil, Vietnam, dan Indonesia.
Kontrak kopi arabika ICE untuk pengiriman Desember ditutup pada kisaran 287,20 sen AS per pon. Angka tersebut turun 6,59 persen dibandingkan pekan sebelumnya.
Indikator Komposit Organisasi Kopi Internasional (ICO) juga mencatat pelemahan sebesar 5,50 persen menjadi 251,63 sen AS per pon pada 29 Oktober 2026.
Sementara itu, harga kopi robusta mulai bergerak stabil di sekitar US$3.183 per ton setelah sebelumnya menyentuh level terendah sejak Maret 2024.
Pelemahan nilai tukar mata uang real Brasil terhadap dolar AS serta meningkatnya ekspektasi terhadap ketersediaan pasokan menjadi faktor utama yang menekan harga kopi dunia.
Ekspor Brasil Meningkat, Prospek Pasokan Kopi Membaik
Peningkatan ekspor Brasil dan kondisi cuaca yang lebih mendukung di sejumlah negara produsen turut memengaruhi pergerakan pasar kopi global.
Brasil mencatat ekspor sebanyak 4,15 juta karung kopi berukuran 60 kilogram pada Agustus 2026. Jumlah tersebut meningkat 31 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Selain peningkatan ekspor, kondisi cuaca di Brasil, Vietnam, dan Indonesia juga menunjukkan perkembangan yang lebih baik. Situasi ini memperkuat harapan terhadap peningkatan produksi pada siklus panen 2027/2028.
Perkembangan tersebut membuat perhatian pelaku pasar mulai bergeser. Jika sebelumnya pasar mengkhawatirkan kelangkaan pasokan, kini investor mulai memperhitungkan kemungkinan terjadinya surplus produksi dan pemulihan persediaan kopi dunia.
Meski demikian, prospek tersebut masih menghadapi sejumlah ketidakpastian. Perubahan cuaca dan perkembangan tanaman kopi di negara produsen tetap berpotensi memengaruhi hasil panen.
Nilai Tukar Brasil dan Panen Vietnam Jadi Penentu
Pelaku pasar kini mencermati pergerakan nilai tukar real Brasil dan perkembangan panen robusta di Vietnam sebagai dua faktor penting yang memengaruhi harga kopi dalam waktu dekat.
Pelemahan real Brasil berpotensi mendorong eksportir meningkatkan penjualan kopi dalam denominasi dolar AS. Kondisi tersebut dapat menambah tekanan terhadap harga arabika di pasar internasional.
Di sisi lain, perkembangan panen Vietnam akan menentukan seberapa besar tambahan pasokan robusta yang masuk ke pasar global.
Persediaan arabika bersertifikat di bursa ICE juga masih menjadi perhatian. Meskipun jumlahnya mulai meningkat menjadi 225.068 karung, stok tersebut masih berada pada tingkat yang relatif rendah secara historis.
Kondisi ini menciptakan dua kekuatan yang saling berhadapan di pasar kopi dunia. Peningkatan pasokan fisik berpotensi menekan harga, sedangkan keterbatasan stok bersertifikat di bursa dapat menahan penurunan lebih lanjut.
Persaingan antara prospek meningkatnya produksi dan terbatasnya persediaan tersebut diperkirakan masih akan memicu volatilitas harga kopi global dalam waktu dekat.(*)












