JAKARTA, Signalberita.com – Kondisi ban menjadi salah satu hal penting yang perlu diperhatikan pemilik mobil bekas. Pasalnya, kebiasaan berkendara dan perawatan yang kurang tepat dapat membuat ban lebih cepat aus atau botak sebelum waktunya.
Jika dibiarkan, pemilik kendaraan harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mengganti ban. Padahal, usia pakai ban sebenarnya bisa lebih panjang apabila pengemudi memperhatikan sejumlah hal sederhana.
Ferky, pemilik bengkel dan toko suku cadang Tango Motor di Cengkareng, Jakarta, menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang mempercepat keausan ban. Di antaranya tekanan angin yang tidak sesuai, muatan berlebihan, hingga gaya mengemudi yang agresif.
Menurut Ferky, masih banyak pengemudi yang kurang memperhatikan tekanan angin dan jarang melakukan spooring sehingga kondisi ban cepat memburuk.
Berikut lima kebiasaan yang bisa membuat ban mobil bekas lebih cepat botak.
1. Mengabaikan Tekanan Angin Ban
Kesalahan paling umum adalah mengisi tekanan angin ban tidak sesuai dengan rekomendasi pabrikan.
Tekanan angin yang terlalu rendah membuat bagian pinggir ban mengalami keausan lebih cepat. Sebaliknya, tekanan yang terlalu tinggi menyebabkan bagian tengah tapak ban lebih cepat botak.
Untuk mencegahnya, pengemudi perlu memeriksa tekanan angin secara berkala. Idealnya, pemeriksaan dilakukan setiap dua minggu sekali atau sebelum melakukan perjalanan jauh.
2. Membawa Muatan Melebihi Kapasitas Mobil
Kebiasaan membawa barang terlalu banyak juga dapat memperpendek usia pakai ban.
Muatan yang melebihi kapasitas kendaraan membuat ban menerima tekanan lebih besar. Kondisi tersebut tidak hanya mempercepat keausan, tetapi juga berpotensi mengganggu kinerja sistem suspensi.
Karena itu, pemilik mobil sebaiknya memperhatikan batas kapasitas angkut kendaraan dan menghindari membawa beban berlebihan.
3. Jarang Melakukan Rotasi Ban
Banyak pemilik mobil mengabaikan rotasi ban, padahal komponen ini memiliki tingkat beban dan pola keausan berbeda antara bagian depan dan belakang.
Ferky menjelaskan, rotasi ban secara berkala dapat membantu menjaga tingkat keausan agar lebih merata.
Ia menyarankan pengemudi melakukan rotasi ban setiap menempuh jarak sekitar 6.000 kilometer. Dengan perawatan tersebut, umur pakai ban bisa lebih panjang.
4. Mengabaikan Spooring dan Balancing
Kondisi kaki-kaki mobil yang tidak tepat juga bisa menyebabkan ban cepat aus.
Spooring yang tidak sesuai membuat posisi roda tidak sejajar dengan arah kendaraan. Akibatnya, permukaan ban mengalami gesekan yang tidak merata dan lebih cepat terkikis pada bagian tertentu.
Ferky mengingatkan pengemudi agar memperhatikan perubahan posisi kemudi saat berkendara.
Jika setir terasa miring ketika mobil melaju lurus, kondisi tersebut bisa menjadi salah satu tanda kendaraan membutuhkan spooring.
Selain itu, balancing juga perlu diperhatikan untuk menjaga keseimbangan putaran roda dan mengurangi getaran saat mobil melaju.
5. Mengemudi Terlalu Agresif
Kebiasaan mengemudi secara agresif menjadi faktor lain yang dapat mempercepat kerusakan ban.
Mengerem secara mendadak, menikung dengan kecepatan tinggi, serta melakukan akselerasi secara tiba-tiba membuat permukaan ban menerima gesekan dan tekanan lebih besar.
Jika kebiasaan tersebut terus dilakukan, tapak ban akan lebih cepat terkikis sehingga masa penggunaannya menjadi lebih pendek.
Sebaliknya, mengemudi dengan halus, menjaga kecepatan, dan menghindari pengereman mendadak dapat membantu mempertahankan kondisi ban.
Perawatan Sederhana Bisa Menghemat Biaya
Lima kebiasaan tersebut kerap dianggap sepele oleh pemilik kendaraan. Padahal, jika terus diabaikan, kondisi ban bisa cepat memburuk dan memaksa pemilik mobil mengeluarkan biaya untuk membeli ban pengganti.
Karena itu, pemeriksaan tekanan angin, rotasi ban, spooring, balancing, serta kebiasaan berkendara yang baik perlu menjadi bagian dari perawatan rutin.
Dengan perawatan yang tepat, ban mobil bekas bisa digunakan lebih awet, perjalanan lebih nyaman, dan pengeluaran untuk perawatan kendaraan dapat ditekan.(*)












