DENPASAR, Signalberita.com – Ampas kopi yang selama ini dianggap sebagai limbah, ternyata memiliki nilai ekonomi jika diolah menjadi produk bernilai jual. seperti di Denpasar, Bali, berhasil memanfaatkan ampas kopi sebagai bahan baku pembuatan dupa yang sekaligus membuka peluang penghasilan bagi para anggotanya, termasuk penyintas skizofrenia.
Produk dupa ramah lingkungan tersebut dipasarkan dengan harga Rp15.000 per bungkus yang berisi sekitar 60 batang. Kegiatan ini tidak hanya menghasilkan produk bernilai ekonomi, tetapi juga memberikan ruang bagi anggota komunitas untuk bekerja dan mengembangkan keterampilan sesuai kemampuan masing-masing.
Inisiatif pemberdayaan tersebut turut diperkenalkan dalam pameran The 9th ASEAN Council on Petroleum (ASCOPE) Conference and Exhibition 2026 yang digelar di Bali beberapa waktu lalu.
Pendiri Rumah Berdaya, I Nyoman Sudiasa, mengatakan pemanfaatan ampas kopi untuk bahan baku dupa mulai dikembangkan sejak 2023. Sebelumnya, komunitas tersebut menggunakan serbuk yang dibeli dari pasaran.
“Kami awalnya menggunakan serbuk yang tersedia di pasaran. Namun, kemudian mencoba mengolah ampas kopi sebagai bahan baku dupa dan ternyata hasilnya cukup baik,” kata Sudiasa dalam keterangan tertulis, Senin (2/11/2026).
Proses Pembuatan Dupa dari Ampas Kopi
Dalam proses produksinya, Rumah Berdaya mendapatkan pasokan ampas kopi dari sejumlah mitra. Bahan tersebut terlebih dahulu dijemur selama kurang lebih satu hari hingga benar-benar kering.
Setelah pengeringan, ampas kopi diayak untuk mendapatkan tekstur yang lebih halus. Selanjutnya, bahan dicampur dengan serbuk kayu sebagai perekat, kemudian ditambahkan air dan aroma kopi.
Adonan yang sudah tercampur merata kemudian dicetak menjadi batang dupa. Produk tersebut kembali dijemur sampai kering sebelum dikemas dan dipasarkan kepada konsumen.
Dalam kondisi produksi yang optimal, Rumah Berdaya mampu mengolah sekitar delapan kilogram bahan baku setiap hari.
Dari setiap satu kilogram bahan, kelompok ini dapat menghasilkan kurang lebih 12 bungkus dupa. Namun, kapasitas produksi masih dipengaruhi kondisi cuaca karena proses pengeringan membutuhkan sinar matahari.
Ketika musim hujan tiba, waktu penjemuran menjadi lebih panjang sehingga jumlah dupa yang dihasilkan ikut mengalami penurunan.
Libatkan Penyintas Skizofrenia dalam Kegiatan Ekonomi
Rumah Berdaya saat ini memiliki 27 anggota. Dari jumlah tersebut, sekitar 10 hingga 12 orang terlibat langsung dalam proses pembuatan dupa.
Setiap anggota mendapatkan tugas sesuai kemampuan dan kondisi masing-masing. Ada yang bertanggung jawab mencetak dupa, menjemur bahan, menyiapkan kemasan, hingga memasukkan produk ke dalam bungkus.
Pembagian pekerjaan tersebut memungkinkan anggota komunitas tetap berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi tanpa harus mengerjakan seluruh tahapan produksi.
Sudiasa menegaskan, kegiatan usaha ini tidak hanya mengejar keuntungan komersial. Lebih dari itu, produksi dupa menjadi sarana pemberdayaan agar para anggota, termasuk penyintas skizofrenia, memiliki kesempatan berkarya dan memperoleh penghasilan.
Hasil penjualan terlebih dahulu digunakan untuk memenuhi kebutuhan operasional dan biaya produksi. Apabila terdapat keuntungan lebih, dana tersebut dibagikan kepada anggota yang ikut terlibat.
Melalui pengolahan ampas kopi menjadi dupa, Rumah Berdaya menunjukkan bahwa limbah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dapat menjadi sumber ekonomi sekaligus membuka kesempatan kerja bagi kelompok masyarakat yang membutuhkan ruang pemberdayaan.




















