• Home
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan
  • Kode Etik
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Advetorial
  • Artikel
  • Berita Daerah
    • Batanghari
    • Bute
    • Kerinci
    • Kota Jambi
    • Muaro Jambi
    • Provinsi Jambi
    • Sungai Penuh
    • Tanjab
    • Sarko
  • BERITA TERPOPULER
  • EDITORIAL
  • Ekonomi & Bisnis
  • Internasional
  • Nasional
  • LAINNYA
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Milenial
    • Politik
    • Otomotif
    • Sastra & Budaya
    • Teknologi
    • Wisata Kita
    • Opini
    • Uncategorized
    • Video Viral
Selasa, Agustus 11, 2026
signalberita.com
  • Home
  • BERITA TERPOPULER
  • Berita Daerah
    • Kerinci
    • Sungai Penuh
    • Kota Jambi
    • Batanghari
    • Provinsi Jambi
    • Muaro Jambi
    • Bute
    • Sarko
    • Tanjab
  • Ekonomi & Bisnis
  • Sastra & Budaya
  • Video Viral
  • EDITORIAL
  • LAINNYA
    • Advetorial
    • Milenial
    • Opini
    • Nasional
    • Politik
    • Otomotif
    • Wisata Kita
    • Olahraga
    • Internasional
    • Kesehatan
  • Kode Etik
  • Pedoman Pemberitaan
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Redaksi
No Result
View All Result
  • Home
  • BERITA TERPOPULER
  • Berita Daerah
    • Kerinci
    • Sungai Penuh
    • Kota Jambi
    • Batanghari
    • Provinsi Jambi
    • Muaro Jambi
    • Bute
    • Sarko
    • Tanjab
  • Ekonomi & Bisnis
  • Sastra & Budaya
  • Video Viral
  • EDITORIAL
  • LAINNYA
    • Advetorial
    • Milenial
    • Opini
    • Nasional
    • Politik
    • Otomotif
    • Wisata Kita
    • Olahraga
    • Internasional
    • Kesehatan
  • Kode Etik
  • Pedoman Pemberitaan
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Redaksi
No Result
View All Result
signalberita.com
No Result
View All Result

Menelisik Keberadaan Gajah Purba di Flores dan Asal-usul Gading

Redaksi SB by Redaksi SB
14 Agustus 2025
0
Foto Ilustrasi Gajah Purba flores

Foto Ilustrasi Gajah Purba flores

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke WhatsApp

Menelisik Keberadaan Gajah Purba di Flores dan Asal-usul Gading

Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah pulau yang unik dan kaya akan peninggalan sejarah binatang purba. Selain binatang  purba Komodo yang masih eksis hingga saat ini, juga di temukan binatang purba gajah yang kemudian melahirkan batang-batang gading. Peninggalan dari batang gading tersebut masih ada hingga saat ini. Dan sejak dahulu, batang gading  kemudian di jadikan mahar (mas kawin) karena mahal harganya.Tradisisi adat perkawinan ini masih bertahan hingga saat ini, meskipun sudah tidak terlalu dominan.

Pertanyaannya, dari manakah datangnya gajah-gajah  yang hidup dan berkembang di Flores sejak berabad-abad lamanya? Lalu dari mana asal gajah dan mengapa gajah bisa punah? Apakah nenek moyang orang Flores pemakan gajah? Menurut banyak situs atau media,tertulis  sejarah asal-usul gajah yang di duga sudah ada sejak jaman pra sejarah. Di mana, beberapa kawasan di Flores menjadi tempat tinggal dan berkembangbiaknya gajah purba

Menurut penulis Inilahflores.com  ada fakta budaya yang membuktikan bahwa gading gajah sangat dekat dengan masyarakat di Flores dari ujung Timur sampai Barat. Beberapa ritual adat seperti pernikahan erat kaitannya dengan gading. Gading itu menjadi kesepakatan belis (mahar) dalam menentukan di terima atau tidaknya lamaran seorang pria kepada wanita.

BacaJuga

Dr. Suci Nora Julina Putri Pimpin Diskusi Seminar Nasional 2026, Bahas Masa Depan Pendidikan Islam di Era Digital

Banyak Event Bersepeda Sukses Digelar, Sport Tourism Kota Madiun Kian Bergeliat

Gading Gajah Sulit di temukan

Pada masa kini, jumlah gading yang beredar di masyarakat tidaklah banyak. Kendati demikian, pola lamaran dengan gading sebagai pembayaran belum juga di tinggalkan. Adat dan kebiasaan itu masih tetap di pertahankan oleh sebagian kalangan masyarakat adat di Flores. Namun, ada juga yang sudah menggantikan peran gading dengan sejumlah uang tunai. Gading hanya menjadi parameter untuk menentukan perhitungan uang tunai yang harus di sediakan pihak pria pada acara lamaran resmi. Lalu dari mana asal batang gading?  Menurut Inilahflores.com, dari berbagai penelurusan, ada beberapa fakta adanya gajah di Flores, yaitu:

Flores habitat gajah pada zaman dulu kala. Ketika Pulau Flores masih merupakan satu kepulauan dengan Benua Australia, di sinyalir bahwa gajah-gajah Flores datangnya dari Benua Australia. Gajah-gajah itu beranak-pinak di pulau tersebut dan berhasil mempertahankan speciesnya dan beradaptasi dengan lingkungan sekitar pada masa yang cukup lama. Namun, sejak gajah-gajah itu mulai di bunuh untuk kebutuhan makan nenek moyang, jumlahnya makin terbatas dan akhirnya punah. Sejak itu, tidak ada migrasi lagi karena Pulau Flores sudah terpisah oleh karena pergeseran kerak bumi.

Nenek moyang orang Flores pemakan gajah. Menurut versi ini tidak mendukung teori gajah yang bermigrasi. Gading-gading itu datangnya dari nenek moyang orang Flores, yang umumnya adalah pendatang. Mereka datang dan menempati Pulau Flores dengan membawa gading-gading tersebut. Mereka memang suku pemakan daging dan salah satunya adalah gajah. Gading-gading itu di simpan sebagai bukti sebuah suku telah berhasil membunuh beberapa ekor gajah, sesuai jumlah gading yang ada.

Gading Pembayaran Sewaan Asal Flores

Gading sebagai pembayaran pasukan sewaan asal Flores. Pada masa perang, terutama di daratan Pulau Sumatera dan Kalimantan, juga daerah-daerah lain di Nusantara kala itu, sebagian masyarakat Flores di duga menjadi tentara bayaran dari beberapa suku di luar Pulau Flores. Jasa tentara sewaan itu akan dibayar dengan menggunakan gading.

Gading ibu dapat beranak gading. Alasan yang mistis magis adalah soal keberadaan ‘Gading Ibu’ yang bisa beranak gading lain. ‘Gading Ibu’ itu biasanya di simpan pada sebuah rumah adat dan di jaga sebagai warisan leluhur. ‘Gading Ibu’ itu tidak bisa di jualbelikan atau di pindahtangankan. Di yakini, gading ibu itu, dalam dua atau tiga tahun, akan melahirkan anak gading baru. Anak-anak gading itulah yang akan di gunakan dalam berbagai ritual adat untuk keperluan tertentu.

Sementara itu, menurut situs lainnya , dari beberapa penelusuran di Flores, di temukan beberapa penjelasan tentang asal-usul dari gading gajah itu. Bahwa pada zaman prasejarah kawasan Flores pernah di gunakan sebagai tempat tinggal gajah purba. Bukti itu menguat  adanya taring gajah (gading) yang ada kemungkinan juga berasal dari fosil-fosil yang di temukan. Selain dari fosil, gading yang ada di sana juga konon di bawah oleh raja Sikka. Pada abad ke-17, dia pergi ke Malaka yang masih di kuasai oleh Portugal. Saat pulang, dia membawa banyak gading gajah yang akhirnya banyak di berikan kepada tuan tanah dan bangsawan. Dengan demikian, bisa jadi juga gajah pun beradada atau hidup di Malaka atau juga dari perdagangan kala itu.

Penelitian Pastor Belanda, Theodor Verhoeven

Dari berbagai sumber lisan dan tulisan yang di tulis oleh berbagai penulis, ada sebuah temuan sejarah baru yang kemudian menyimpulkan bahwa memang benar dahulu kala di Flores ada binatang purba raksasa yang bernama gajah. Fakta itu mencuat setelah seorang Pastor Belanda melakukan penelitian bertahun-tahun di Pulau Flores.

Menurut tulisan Jublina Tode Solo, Arkeolog, seorang pejabat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi NTT dalam Poskupang.Com, bahwa berdasarkan sejarah, Pulau Flores mengandung potensi yang sangat menakjubkan di bidang geologi dan arkeologi. Peneliti Indonesia dan peneliti asing melakukan penelitian ilmiah secara berkala setelah membaca hasil temuan fosil gajah purba di lokasi Ola Bula (Ngada) pada tahun 1956. Penelitian tersebut di lakukan oleh seorang Pastor Belanda, Theodor Verhoeven. Verhoeven adalah seorang guru bahasa Latin di Seminari Mataloko, dan memiliki minat  dalam ilmu prasejarah.

Theodor menghabiskan hampir seluruh waktu luangnya untuk mengeksplorasi situs prasejarah di Propinsi  Nusa Tenggara Timur. Dia sangat peduli pada artefak (alat batu) dan fosil. Selama tahun-tahun berikutnya Verhoeven juga menemukan sisa-sisa gajah purba dan hewan lainnya di Matamenge dan Boa Lesa.  Pada lokasi Matamenge dan Boa Lesa Verhoeven juga menemukan alat-alat batu primitif yang terkait dengan fosil gajah purba, namun, tidak seperti di Jawa, tidak ada fosil manusia yang di temukan di Flores untuk dapat mengungkapkan identitas dari pembuat alat batu tersebut.

Temuan Pertama di Indonsia yang Spektakuler

Survei dan ekskavasi di lakukan secara berkala oleh Pusat Survei Geologi Bandung dan Centre for Archaeology Science, School of Earth and Environmental Sciences University of Wollongong, Australia.  Pada tahun 2010 hingga 2014 penelitian bertemakan In Search Of The First Hominins. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan misteri seputar temuan manusia endemik Homo floresiensis yang hidup sekitar 100.000 hingga 16.000 tahun lalu di daerah gua Liang Bua, Manggarai dan secara khusus melacak keberadaan moyangnya yang di perkirakan berasal dari manusia pembuat alat batu di Cekungan Soa yang hidup sekitar 1.000.000 hingga 700.000 tahun yang  lalu.

Situs Matamenge tahun 2011 di buka sebanyak 19  trench dan penggalian dibantu oleh 130 tenaga lokal dari Desa Mengeruda dan Desa Piga, Kecamatan Soa, Kabupaten Ngada. Dari hasil penggalian di temukan hampir 3.000 spesimen fosil dan yang terbanyak adalah fosil gajah purba (Stegodon florensis). Di temukan juga alat batu (artefak) berupa batu inti (core) dan serpih (flake) yang terbuat dari batu vulkanik seperti andesit dan basalt, tapi juga terbuat dari bahan batu yg berkualitas lebih bagus, seperti chert (batu api) dan jasper.

Penemuan

Temuan yang spektakuler yakni fosil gading Stegodon florensis yang panjangnya 230 cm (sekitar 20 cm hilang, jadi gading asli panjangnya 250 cm) dan merupakan ukuran gading terpanjang hingga saat ini. Proses penggalian di lakukan sangat hati-hati agar fosil gading gajah purba ini tidak rusak atau retak. Setelah fosil ini menyembul ke permukaan tanah maka di biarkan agar cepat kering kemudian di lakukan proses gypsum ke seluruh bagian fosil sebelum proses pengangkatan.

“Stegodon” berasal dari bahasa Yunani kuno yang berarti “gigi  berbentuk atap.” Stegodon adalah sejenis mamalia yang kini punah dan di klasifikasikan sebagai anggota dari Ordo Proboscidea, atau hewan yang mempunyai belalai. Stegodontidae merupakan cabang dari garis keturunan yang mengarah ke gajah modern. Stegodon tertua hidup sekitar 4 juta tahun yang lalu di Asia. Fosil Stegodon tertua telah di temukan di Thailand, Jepang, Cina dan India.

Fosil Stegodon pertama dari Indonesia di temukan di Jawa, sejumlah besar fosil Stegodon yang di gali pada 1890-1892 di  Situs Trinil, Jawa Tengah, oleh Dokter Eugene Dubois, yang terkenal karena penemuan Pithecanthropus erectus (sekarang di klasifikasikan sebagai Homo Erectus). Usia fosil dari Trinil adalah  900.000 tahun.  Stegodon dari Trinil diberi nama ilmiah Stegodon trigonocephalus, yang berarti Stegodon dengan kepala berbentuk segitiga.

Stegodon florensis  tinggi badan antara 1.5 – 2 m, gadingnya lebih bengkok dan jumlah lempeng giginya lebih banyak. Berdasarkan bukti paleomagnetic dan “fission track” dating lapisan abu-abu, usia Stegodon florensis dan asosiasi artefak batu yang terkait berumur di antara 700.000 dan 600.000 tahun.

Gading gajah di bawa oleh para pedagang

Meskipun ada bukti sejarah melalui berbagai penelitian, seperti peneliti Belanda Pastor Theodor, namun berdasarkan sumber tulisan lain, seperti di lansir situs Reinha,  menguraikan bahwa ada dugaan kuat gading gajah yang adalah barang mewah (mahal) di bawa oleh para pedagang dari luar tempo dulu.

Menurut penulis dalam situs ini, dahulu ada hubungan kerja sama yang panjang. Dalam dokumen perusahaan India Timur Belanda (Nederlands(ch)-Indië) atau VOC dan tradisi lokal memberikan bukti tentang peran kerajaan Jawa Majapahit, suku Aceh dan Gowa (Makasar) melalui perdagangan rempah-rempah di dunia Internasional. Perdagangan ini melibatkan berbagai jenis rempah-rempah Indonesia (cengkeh, pala, bunga pala), kayu aro (kayu manis, cendana), dan produk kayu (kulit penyu).

Gading Gajah

Gading gajah dan nekara perunggu sebagai komoditas perdagangan dapat di telusuri jauh ke masa lalu ke peradaban yang sangat awal. Di mana gading diukir menjadi gelang dan juga di gunakan untuk karya pengabdian religius.

Menurut beberapa catatan, jarang sekali isi dari gading di pertahankan secara utuh. Ketika hal itu terjadi biasanya di kaitkan dengan “Gajah Agung”. Kettledrum (sejenis drum) perunggu dalam berbagai ukuran dan bentuk ‘akomodasi’ lain memiliki asal kuno dan dapat di temukan tersebar di seluruh China Selatan dan Asia Tenggara.Sementara mereka berfungsi sebagai instrumen musik di beberapa komunitas, di komunitas lain mereka di simpan sebagai objek berharga untuk di tampilkan pada kesempatan yang mulia.

Di pulau-pulau Indonesia bagian timur, seperti Nusa Tenggara Timur (NTT) dan di selatan Maluku ada masyarakat tertentu yang sangat menghargai  gading  gajah yang belum di pahat dan atau drum perunggu sebagai hal penting.  Gajah tidak di temukan di pulau-pulau ini, begitu juga dengan drum perunggu, namun dalam prakteknya barang-barang ini di butuhkan dalam perkawinan dan hal tersebut terjadi sampai saat ini.

Pusat-pusat redistribusi utama di Asia Tenggara untuk rempah-rempah terjadi pada masa kerajaan Sriwijaya (sekitar abad ketujuh hingga sebelas) di Sulawesi Selatan, Malaka (sekitar 1.400-1511), kerajaan Majapahit di Jawa Timur (akhir abad ke-13 hingga awal abad ke-16) dan kerajaan kembar Makassar dari Gowa-Tallo (abad keenam belas hingga kedelapan belas) di semenanjung barat daya Sulawesi. Salah satu pemberhentian di sepanjang rute perdagangan itu adalah Bantaeng, di pantai selatan pulau Sulawesi, tepat di seberang pulau Salayar.

Kerajaan Sriwijaya

Sriwijaya saat itu menempatkan posisi kejayaannya, di mana pedagang Arab dan peziarah China mengatakan sebagian besar kejayaanya di peroleh dari perdagangan rempah-rempah. Perpindahan langsung gagasan atau ide-ide dari India ke Indonesia bagian timur adalah melalui kerajaan kembar mahajaya Goa-Tallo, menyumbang beberapa ide, salah satunya yang paling penting adalah pandangan tentang Hindu-Budha.

Dalam kitab jawa yang di tulis di era Majapahit oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365, terdapat daftar dari pulau-pulau dan semua negara yang mencari perlindungan ke Majapahit. Di antara tempat-tempat yang terdaftar secara langsung dan relevan dengan tulisan ini adalah Sumbawa dan Bima (di Pulau Sumbawa), Bantaeng, Salayar, dan Makassar, Galiyao (Alor Pantar), Solor, Seram, Timor, Banda, Ambon, Maluku, dan Onin (di Papua).

Sebagian besar ahli sepakat bahwa hubungan tersebut merupakan hubungan ekonomi, meskipun pengaruh budaya Majapahit juga di sebutkan masuk dalam tradisi lokal. Ada legenda di pulau-pulau ini yang menceritakan tentang orang-orang Jawa yang pergi dari tempat tinggal mereka setelah masa hukuman Majapahit dan mendapat tempat di daerah yang mereka datangi seperti Flores, Alor, Pantar, Sawu, dan pulau-pulau lain. Masyarakat Indonesia Timur Laut lainnya juga memiliki hubungan tradisi yang kuat tentang benda atau praktik spiritual dengan kerajaan Jawa yang legendaris tersebut.

Peninggalan India

Sumber peninggalan penting dari India di Indonesia dapat di temukan di Kerajaan Gowa-Tallo. Di Semenanjung barat daya Sulawesi terdapat situs arkeologi kuno yang menunjukkan hubungan panjang dengan dunia luar. Hubungan dagang yang luas yang memfasilitasi aliran arus India ke Sulawesi barat daya dan lebih jauh ke timur.

Sementara, Gowa awalnya fokus pada pertanian dan tanah, orientasi Tallo adalah ke arah laut dan perdagangan. Perdagangan maritim yang berhasil di Tallo di konsentrasikan dalam kronik-kronik Tallo. Dalam sejarah di katakan terjadi pernikahan antara pangeran Tallo dan seorang putri dari Siang, pendahulu Gowa-Tallo sebagai pengusaha terkemuka di Sulawesi barat daya. Putra yang lahir dari pernikahan ini kemudian mengambil seorang wanita Surabaya sebagai istrinya.

Surabaya adalah pelabuhan Majapahit yang penting di ujung timur Jawa yang menjadi pusat perdagangan internasional. Para penguasa Tallo di katakan melakukan kunjungan terhadap kawan-kawan mereka di luar negeri seperti suku Barat dan suku India di daratan (Flores), Banda, dan Nusa Tenggara (Nusa Tenggara).

Gajah dan Simbolisme

India tanpa di ragukan memiliki salah satu legenda dan ritual paling luas dan kompleks di dunia tentang gajah, dan banyak dari kepercayaan ini di transmisikan ke Asia Tenggara selama periode Indianisasi pada milenium pertama dan setengah dari Era Umum. Kekuatan gajah yang sangat besar dan luar biasa di anggap menguntungkan masyarakat, di mana gajah mampu di jadikan sebagai senjata yang tangguh dan memicu teror dalam perang.

Di bawah Kesultanan Mughal di India abad keenam belas dan ketujuh belas, unit gajah merupakan inti dari pasukan kaisar. Di Siam, seorang utusan Perancis pada tahun 1687 mengamati bahwa gajah di bentuk menjadi pasukan utama. Beberapa orang Siam mengklaim bahwa penguasa memiliki sekitar 10.000 gajah, dan bahwa setidaknya tiga orang di percayakan untuk merawat satu gajah. Gajah tersebut di kaitkan dengan kekuatan dan keagungan para penguasa.

Simbol Kekuasaan

Dalam Veda India, gajah di gambarkan sebagai simbol kekuasaan kerajaan. Seorang cendekiawan mengatakan bahwa Indra, dewa utama di Gunung Meru yang suci, tempat tinggal para dewa, “sama seperti gajah.”  Ini adalah gagasan yang kemudian di  pertahankan dalam dewa berkepala gajah, Ganesha, dan bahkan meluas ke legenda Buddhis, ketika gajah putih menjadi pertanda lahirnya Buddha.

Di banyak himne India, gajah di puji berada di level raja, dan “dengan demikian gajah harus di lindungi seperti kehidupan raja.” Legenda satu pihak bahkan menyatakan bahwa “tidak satu pun dari keduanya mengalahkan yang lain, gajah mempunyai porsi sama dengan raja. Sementara gajah adalah hewan yang di hormati, mengapa gading menjadi objek yang sangat di perhatikan?

Satu jawaban sederhana terletak pada nilai komersialnya di mana gading di jadikan ukiran ornamen dan gelang yang di temukan di pasar-pasar dunia termasuk India, Asia Tenggara, dan China. Namun mengenai keseluruhan gading gajah, itu merupakan sumber kesuburan dan otoritas. Keutuhan gading, salah satu fitur paling menonjol dari gajah, datang untuk mewakili binatang itu sendiri sebagai simbol kekuatan dan kekuatan gaib.

Gajah Kerajaan di Musium

Di Museum Istana Suan Pakkad dan Museum Nasional Bangkok di Thailand terdapat gajah-gajah kerajaan yang di anggap sebagai peninggalan suci, hewan yang di hormati di India dan Asia Tenggara. Dalam beberapa praktek menuangkan cairan di atas gading gajah memiliki makna atau simbol sebagai kekuatan “gaib” di mana cairan tersebut kemudian mengalir ke tanah, memberikan kesuburan terhadap tanah tersebut. Tindakan menuangkan air di atas gading gajah juga di maksudkan untuk menyucikan air dan dengan demikian menjadikannya obat yang efektif melawan penyakit.

Thailand dan Burma adalah dua sumber utama gading gajah. Selama pemerintahan Raja Narai dari Siam (1656–1688), gajah liar di temukan berlimpah di dataran tengah, dan bahkan di akhir abad kesembilan kawanan gajah berkeliaran di daerah yang hanya berjarak 20 hingga 30 mil dari ibu kota Bangkok. VOC adalah perantara utama dalam perdagangan gajah, menerima rata-rata gading gajah tahunan antara 10.000-12.000 pon. 4500–5500 kg gading di tahun 1650-an, dan antara 15.000-20.000 pon. 6800–9000 kg pada tahun 1660-an.

Dalam sumber Belanda, mencatat bahwa gading muncul secara teratur sebagai barang dagang, pada kapal dagang lokal yang membawa komoditas lain di laut Indonesia bagian timur( Flores-Lamaholot) di mana taring gajah adalah objek yang sangat berharga sebagai mas kawin.

Gading gajah dalam masyarakat di Indonesia Timur

Wanita di Asia Tenggara memainkan peran penting dalam membangun dan memperkuat aliansi dengan keluarga berpengaruh lainnya melalui perkawinan.  Di antara suku Lamaholot di pulau Solor, Adonara, dan Lembata, serta di antara orang Sikka dan orang-orang di kepulauan Tanimbar dan Aru di Maluku selatan, menentukan pengantin perempuan yang sesuai, masih merupakan tujuan penting dalam negosiasi perkawinan.

Gading gajah secara tradisional menjadi benda yang paling berharga di derah-daerah tersebut. Di masa lalu, ketidakmampuan keluarga laki-laki atau kelompok sosial untuk menyediakan gading yang di perlukan biasanya mengakibatkan pembatalan pertunangan.  Karena alasan ini, kadang di cari jalan keluar agar pernikahan tetap terjadi dengan cara menggantikan mas kawin dari gading gajah di tukar dengan dengan cengkeh, pala, bunga pala, dan kayu lapis.

Pada saat itu di katakan pedagang dari negara-negara kepulauan dan Makasar muncul secara tidak teratur di pasar utama Indonesia timur yang berlokasi di pusat kota Solor, Alor, dan Aru. Nilai perempuan Lamaholot, yang mencerminkan status kelompok, di tampilkan secara resmi dalam jumlah dan ukuran gading gajah yang di sajikan. Di mana di katakan semakin tinggi status kelompok yang di utus oleh mempelai wanita, semakin besar jumlah dan ukuran gading yang di minta.

Nilai material gading gajah

Beberapa indikasi nilai material gading di temukan dalam catatan Belanda abad ke-19, di mana gading gajah memiliki kesetaraan nilai dengan budak atau senapan putar kecil atau gong besar, gading berukuran sedang sama dengan dua lempengan emas atau dua sarung merah atau gong kecil. Perkawinan adalah alasan utama dari perdagangan gading gajah di Indonesia bagian timur, dan peran penting mereka dalam masyarakat tertentu menjadikannya objek yang sangat penting dalam berbagai transaksi.

Setiap kali ada perang di antara dua divisi utama Lamaholot, Paji dan Demong, salah satu barang yang di gunakan untuk menebus tahanan adalah gading gajah. Dalam sebuah episode dari abad ketujuh belas, perdamaian antara Portugis dan Lamahala, sebuah pemukiman di Pulau Adonara, di mana Lamahala akan memberikan kepada Portugal 19 potong kain patola India sebagai imbalan atas hadiah gading gajah yang akan di berikan Portugal. Perjanjian itu tidak pernah di tegakkan karena kegagalan Portugis untuk menyediakan gading gajah.

Menghormati Gajah

Begitu di hormatinya gading gajah ini, sehingga setiap transaksi yang melibatkan benda-benda ini di tandai dengan beberapa pesta. Dalam satu kasus khusus adalah rekonsiliasi dua keluarga yang bertikai pada tahun 1986, yang di resmikan dengan bergabungnya nama keluarga mereka dan pertukaran gading gajah.  Seorang antropolog menyarankan bahwa perkawinan antar kelompok yang menghargai benda yang berbeda dapat menimbulkan masalah. Dia memberi contoh dengan mengatakan bahwa seorang pria dari alor, dia memiliki moko atau durm perunggu kecil, adalah persyaratan dalam pengantin perempuan, akan menghadapi kesulitan karena ia harus mendapatkan gajah gading untuk menikahi seorang wanita dari Solor.

Maka pada saat itu munculah pembentukan federasi “Watan Lema” Solor Watan Lema (Lima Wilayah Pesisir Solor) adalah untuk menyelesaikan masalah perbedaan persyaratan. Dalam tradisi-tradisi kuno menceritakan terdapat banyak gading di Solor bahkan di katakan kapal-kapal dayung mereka di buat dari gading.

Belanda adalah pemasok utama gading gajah ke kepulauan Tanimbar pada abad ke delapan belas, dan orang-orang di pulau Fordata pada pertengahan abad terakhir menceritakan kisah-kisah tentang mendapatkan gading gajah dengan imbalan ambar. Ketika seseorang meninggal di Aru, penting untuk mengirim orang yang sudah meninggal ke dunia lain dengan harta duniawinya, termasuk gading gajah, yang di rusak, di hancurkan sebagai tanda berkabung. Penghancuran gading memiliki kaitan dengan praktik di India kuno, di mana para janda pada kematian suami mereka menghancurkan gelang gading yang di berikan kepada mereka pada saat pertunangan atau pernikahan.

Sumber: Inilahflores/Poskupang.

Previous Post

Unjuk rasa Warga Pati Berakhir Rusuh, Ini jumlah Korban Jiwa

Next Post

Pesantren dalam Kacamata Gus Dur

Related Posts

Dr. Suci Nora Julina Putri Pimpin Diskusi Seminar Nasional
Provinsi Jambi

Dr. Suci Nora Julina Putri Pimpin Diskusi Seminar Nasional 2026, Bahas Masa Depan Pendidikan Islam di Era Digital

by Redaksi SB
5 Agustus 2026
0

JAMBI, Signalberita.com – Seminar Nasional 2026 yang mengangkat tema “Tantangan Pendidikan Islam di Era Digital” sukses digelar oleh Diniyyah Al-Azhar...

Read more

Banyak Event Bersepeda Sukses Digelar, Sport Tourism Kota Madiun Kian Bergeliat

5 Agustus 2026
Wali Kota Alfin Lepas Paskibraka Sungai Penuh

Wali Kota Alfin Lepas Paskibraka Sungai Penuh untuk Tugas Nasional dan Provinsi Jambi

5 Agustus 2026
Eki Penyandang Tunadaksa di Sungai Penuh Punya Toko Berkat Kepedulian Polres Kerinci

Bertahun – tahun Jualan Keliling, Eki Penyandang Tunadaksa di Sungai Penuh Punya Toko Berkat Kepedulian Polres Kerinci

5 Agustus 2026
Enam Program Bansos Cair Selama Agustus 2026

Enam Program Bansos Cair Selama Agustus 2026, Ini Langkah Cara Ceknya

3 Agustus 2026
signalberita.com

Media online yang menyajikan berita terupdate, fokus mengabarkan berita Politik, Nasional, Ekslusif, Hukrim, Sosial Budaya dan berita terpopuler lainnya.

Follow Us

Berita Terbaru

Jorge Martin Antusias Hadapi Paruh Kedua MotoGP 2026

Persaingan Makin Panas, Jorge Martin Antusias Hadapi Paruh Kedua MotoGP 2026

11 Agustus 2026
Booth Honda Scoopy Ramaikan Jakarta Sneaker Day 2026

Booth Honda Scoopy Ramaikan Jakarta Sneaker Day 2026, Suguhkan Motor Retro

10 Agustus 2026

Kategori Populer

  • Advetorial
  • Artikel
  • Batanghari
  • Berita Daerah
  • BERITA TERPOPULER
  • Bute
  • EDITORIAL
  • Ekonomi & Bisnis
  • Internasional
  • Kerinci
  • Kesehatan
  • Kota Jambi
  • LAINNYA
  • Milenial
  • Muaro Jambi
  • Nasional
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Politik
  • Provinsi Jambi
  • Sarko
  • Sastra & Budaya
  • Sungai Penuh
  • Tanjab
  • Teknologi
  • Uncategorized
  • Video Viral
  • Wisata Kita

BERITA TERBARU

Jorge Martin Antusias Hadapi Paruh Kedua MotoGP 2026

Persaingan Makin Panas, Jorge Martin Antusias Hadapi Paruh Kedua MotoGP 2026

11 Agustus 2026
Booth Honda Scoopy Ramaikan Jakarta Sneaker Day 2026

Booth Honda Scoopy Ramaikan Jakarta Sneaker Day 2026, Suguhkan Motor Retro

10 Agustus 2026
Lihat Es Kopi yang Cocok untuk Kamu

Lihat Es Kopi yang Cocok untuk Kamu yang Berdasarkan Bulan Kelahiran

10 Agustus 2026
Dr. Suci Nora Julina Putri Pimpin Diskusi Seminar Nasional

Dr. Suci Nora Julina Putri Pimpin Diskusi Seminar Nasional 2026, Bahas Masa Depan Pendidikan Islam di Era Digital

5 Agustus 2026
Jangan Lewatkan Leg Day Ini 9 Manfaatnya bagi Kesehatan

Jangan Lewatkan Leg Day, Ini 9 Manfaatnya bagi Kesehatan dan Kebugaran

5 Agustus 2026

Banyak Event Bersepeda Sukses Digelar, Sport Tourism Kota Madiun Kian Bergeliat

5 Agustus 2026
  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan
  • Kode Etik
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Advetorial
  • Artikel
  • Berita Daerah
  • BERITA TERPOPULER
  • EDITORIAL
  • Ekonomi & Bisnis
  • Internasional
  • Nasional
  • LAINNYA

Copyright © 2023 www.signalberita.com

No Result
View All Result
  • Home
  • BERITA TERPOPULER
  • Berita Daerah
    • Kerinci
    • Sungai Penuh
    • Kota Jambi
    • Batanghari
    • Provinsi Jambi
    • Muaro Jambi
    • Bute
    • Sarko
    • Tanjab
  • Ekonomi & Bisnis
  • Sastra & Budaya
  • Video Viral
  • EDITORIAL
  • LAINNYA
    • Advetorial
    • Milenial
    • Opini
    • Nasional
    • Politik
    • Otomotif
    • Wisata Kita
    • Olahraga
    • Internasional
    • Kesehatan
  • Kode Etik
  • Pedoman Pemberitaan
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Redaksi

Copyright © 2023 www.signalberita.com