JAKARTA, Signalberita.com — Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dinilai dapat membawa perubahan besar terhadap kehidupan manusia, termasuk cara negara menjalankan pemerintahan dan bagaimana masyarakat memperoleh informasi.
Peringatan tersebut di sampaikan sejarawan sekaligus profesor Harvard, Jill Lepore, dalam podcast Hard Fork yang diproduksi The New York Times. Ia membahas kemungkinan munculnya konsep yang di sebut sebagai “negara buatan” atau artificial state, yakni kondisi ketika semakin banyak fungsi negara tradisional beralih kepada sistem teknologi dan korporasi.
Menurut Lepore, dunia saat ini memang belum sepenuhnya berada dalam kondisi tersebut. Namun, perkembangan teknologi dan AI di nilai telah mendorong terbentuknya sistem yang berpotensi mengurangi peran manusia dalam berbagai pengambilan keputusan.
AI Di nilai Bisa Menggeser Peran Pemerintah
Dalam gambaran “negara buatan”, sejumlah keputusan yang sebelumnya berada di tangan pemerintah dan masyarakat dapat semakin banyak dilakukan dengan bantuan mesin.
Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran karena infrastruktur digital yang menjadi dasar sistem tersebut sebagian besar dikuasai oleh perusahaan teknologi besar.
Lepore menilai gagasan tersebut juga berkaitan dengan pandangan sebagian elite teknologi yang menganggap perkembangan AI sebagai sesuatu yang tidak dapat dihentikan.
Ia mempertanyakan kondisi ketika kepentingan masyarakat tidak lagi menjadi faktor utama dalam menentukan arah perkembangan teknologi.
“Karena kenyataannya, apa yang di inginkan masyarakat adalah tidak adanya AI dan tidak adanya data center. Jadi, itulah krisisnya,” kata Lepore, seperti di kutip dari Futurism.
Media Sosial dan AI Mempengaruhi Informasi Politik
Perubahan teknologi juga dapat memengaruhi cara masyarakat memperoleh berita dan informasi politik.
Jika pada masa lalu televisi dan radio menjadi media utama, kini media sosial semakin dominan dalam membentuk cara masyarakat mendapatkan informasi, termasuk informasi mengenai pemilu dan kandidat politik.
Lepore menyoroti kemungkinan masyarakat semakin mengandalkan AI untuk memperoleh jawaban mengenai berbagai persoalan politik. Misalnya, seseorang dapat bertanya kepada chatbot mengenai pilihan dalam pemilu di bandingkan berdiskusi langsung dengan lingkungan sekitar, pejabat, atau pakar.
Di sisi lain, konten politik yang di terima masyarakat juga berpotensi dibuat atau di bantu oleh AI. Kondisi tersebut membuat batas antara informasi yang di buat manusia dan mesin menjadi semakin sulit dibedakan.
AI Juga Memperkuat Kemampuan Pengawasan
Selain memengaruhi informasi, AI memiliki kemampuan untuk mengolah data dalam jumlah sangat besar. Kemampuan tersebut dapat di manfaatkan untuk berbagai keperluan, termasuk pengawasan.
Menurut Lepore, semakin banyak data yang di kumpulkan dari aktivitas manusia, semakin besar pula kemampuan sistem teknologi untuk menganalisis perilaku masyarakat.
Hal tersebut menjadi salah satu persoalan yang perlu di perhatikan ketika perkembangan AI berlangsung lebih cepat dibandingkan aturan yang mengaturnya.
Perdebatan Regulasi AI
Perkembangan AI juga memunculkan perdebatan mengenai regulasi. Salah satu pandangan yang berkembang di Silicon Valley adalah anggapan bahwa regulasi yang terlalu ketat dapat menghambat inovasi.
Pendukung pandangan tersebut menilai pemerintah sebaiknya memberikan ruang yang lebih luas bagi pengembangan teknologi AI.
Namun, Lepore mempertanyakan anggapan bahwa perkembangan teknologi secara otomatis akan memperkuat demokrasi. Menurutnya, teknologi juga dapat menghadirkan risiko baru terhadap demokrasi jika tidak disertai pengawasan dan tata kelola yang memadai.
Gagasan mengenai artificial state tersebut menjadi bagian dari buku terbaru Lepore berjudul The Rise and Fall of the Artificial State yang akan membahas lebih jauh mengenai hubungan antara teknologi, korporasi, pemerintahan, dan masyarakat.
Perkembangan AI pada akhirnya tidak hanya menjadi persoalan teknologi. Cara manusia mengatur penggunaan AI, menjaga privasi, mempertahankan peran masyarakat dalam demokrasi, serta memastikan keputusan penting tetap berada dalam kendali manusia menjadi tantangan yang semakin besar di masa depan.(*)



















