JAKARTA SB — Pemerintah Amerika Serikat (AS) menuduh lebih dari 40 negara, termasuk Kanada, Meksiko, Jepang, dan Uni Eropa (UE), membantu China menghindari tarif impor melalui praktik transshipment.
Praktik tersebut dilakukan dengan mengalihkan rute perdagangan produk China melalui negara lain yang dikenai tarif lebih rendah.Gedung Putih memperkirakan skema itu digunakan untuk menghindari tarif terhadap perdagangan senilai sekitar US$60 miliar.
Mengutip Financial Times, Kamis (13/8), laporan Gedung Putih berjudul The Great Transshipment Scam menyebut nilai perdagangan yang di alihkan melalui praktik tersebut di perkirakan mencapai US$40 miliar hingga US$303 miliar, berdasarkan sejumlah laporan pemerintah AS dan sektor swasta.
Kepala White House Office of Trade and Manufacturing Policy Peter Navarro mengatakan China telah menggunakan metode yang sangat canggih untuk melakukan transshipment sejak Presiden Donald Trump pertama kali memberlakukan tarif terhadap produk China pada 2018.
Ubah jalur pengiriman barang
Menurut Navarro, kebijakan tarif AS terhadap berbagai negara kemudian menciptakan perbedaan tingkat tarif yang mendorong pelaku perdagangan mengubah jalur pengiriman barang.
“Selama bertahun-tahun, penipuan transshipment besar-besaran ini telah memungkinkan China mencuci ekspornya ke lebih dari 40 negara,” ujar Navarro.
Ia menilai praktik tersebut merugikan penerimaan pemerintah AS hingga puluhan miliar dolar dan berdampak terhadap pekerja Amerika.
Navarro juga memperingatkan bahwa praktik serupa berpotensi di lakukan negara lain yang menghadapi tarif tinggi AS, seperti India dan Vietnam.
Untuk mengantisipasinya, US Customs and Border Protection (CBP) mulai menggunakan sistem berbasis kecerdasan buatan (AI) bernama Detective Border. Sistem tersebut membantu mengidentifikasi komposisi barang ekspor dan memastikan negara asal produk di labeli secara tepat sebagai dasar penentuan tarif.
Navarro memperkirakan penggunaan sistem tersebut dapat meningkatkan penerimaan tarif AS hingga puluhan miliar dolar sekaligus membuka ribuan lapangan kerja.
Sementara itu, Perwakilan Dagang AS (USTR) Jamieson Greer mengatakan pemerintahan Trump telah memasukkan ketentuan untuk mengurangi praktik transshipment dalam sejumlah kesepakatan perdagangan yang di negosiasikan dengan negara lain.
USTR juga masih menyusun rules of origin atau aturan asal barang untuk menentukan negara tempat suatu produk sebenarnya di produksi. Aturan tersebut nantinya menjadi salah satu dasar dalam menentukan tarif yang berlaku.
Greer menilai praktik transshipment di lakukan eksportir yang berupaya memanfaatkan kesepakatan perdagangan AS tanpa memenuhi ketentuan yang berlaku.
Laporan Gedung Putih tersebut dirilis ketika hubungan dagang AS-China masih berada dalam kondisi tegang, meski kedua negara sebelumnya telah menyepakati gencatan perdagangan selama satu tahun.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga menyampaikan kekhawatiran kepada Wakil Perdana Menteri China He Lifeng mengenai komitmen Beijing untuk tidak memperlambat ekspor logam tanah jarang (rare earths) ke AS.
China saat ini juga menghadapi sejumlah kebijakan baru dari AS terkait keamanan nasional. Salah satunya keputusan Federal Communications Commission (FCC) yang melarang impor robot asal China. (*)




















