SB – Jejak sejarah Perang Banjar kembali terungkap setelah sisa-sisa Kapal Onrust, kapal perang uap milik Pemerintah Hindia Belanda, di temukan di Sungai Barito, Kota Muara Teweh, Kalimantan Tengah.
Kapal tersebut di ketahui tenggelam pada 26 Desember 1859 setelah di serang laskar pejuang yang dipimpin Tumenggung Surapati dalam rangkaian perlawanan terhadap Pemerintah Hindia Belanda.
Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga (Disbudparpora) Barito Utara, Pariadi AR, SKM, bersama perwakilan Kementerian Kebudayaan RI meninjau lokasi sisa Kapal Onrust pada Sabtu (22/8/2026).
Pariadi mengatakan, temuan tersebut akan segera di dokumentasikan dan di laporkan kepada Bupati Barito Utara sebagai bahan tindak lanjut dalam upaya pelestarian situs yang memiliki nilai sejarah tersebut.
Selain bangkai kapal, sebuah jangkar kuno juga di temukan pada 9 Agustus 2026 oleh anggota pengamanan Airud BKO Polda Kalimantan Tengah bersama Tim Security A5.
Jangkar tersebut di duga kuat merupakan bagian dari peninggalan kapal Belanda dari abad ke-19. Namun, kepastian mengenai usia dan statusnya sebagai benda cagar budaya masih menunggu hasil uji laboratorium.
“Tim masih menunggu hasil uji laboratorium untuk memastikan usia dan statusnya sebagai cagar budaya,” kata Pariadi.
Bagian dari Sejarah Perang Banjar
Kapal Onrust memiliki kaitan erat dengan sejarah Perang Banjar yang pecah pada 28 April 1859. Konflik tersebut tidak terlepas dari upaya Pemerintah Hindia Belanda memperluas pengaruh dan kepentingan ekonomi di Kalimantan.
Salah satu kepentingan Belanda adalah menguasai perdagangan komoditas serta industri batu bara. Belanda bahkan membangun tambang batu bara Oranje Nassau di Pengaron yang di resmikan pada 21 September 1849.
Perlawanan terhadap aktivitas dan kebijakan Belanda kemudian berkembang menjadi Perang Banjar.
Dalam salah satu upaya politiknya, Belanda mengirim Kapal Onrust ke wilayah Hulu Sungai Barito untuk menemui Tumenggung Surapati. Pertemuan tersebut berkaitan dengan upaya Belanda membujuk Surapati agar membantu menangkap Pangeran Antasari.
Pertemuan berlangsung di atas Kapal Onrust pada 26 Desember 1859. Namun, upaya tersebut tidak menghasilkan kesepakatan.
Situasi kemudian berubah menjadi bentrokan. Tumenggung Surapati bersama pasukannya menyerang kapal Belanda tersebut. Dalam peristiwa itu, sejumlah awak kapal tewas dan kondisi geladak yang telah terendam air membuat Kapal Onrust akhirnya tenggelam.
Lokasi tenggelamnya kapal di sekitar Kampung Lontontur, Sungai Barito, kini menjadi salah satu jejak arkeologis yang berkaitan dengan sejarah perlawanan masyarakat terhadap kolonialisme Belanda.
Penemuan kembali sisa Kapal Onrust di nilai dapat menjadi bukti penting untuk memperkuat dokumentasi sejarah Perang Banjar sekaligus membuka peluang pelestarian kawasan tersebut sebagai warisan budaya.(*)



















