Kota Jakarta Mencekam 1 Oktober 1965
SIGNALBERITA.COM – Pada suasana di Pagi itu, udara Jakarta terasa berbeda. Matahari baru naik, tapi kota tidak seramai biasanya. Di rumah-rumah orang mendengar siaran Radio Republik Indonesia:
“Hari ini, Dewan Revolusi Indonesia terbentuk dengan pimpinan Letnan Kolonel Untung yang bertujuan untuk menyelamatkan Presiden Sukarno dari Dewan Jenderal”
Suara penyiar terdengar tegas, tapi bagi rakyat biasa, kata-kata itu hanyalah teka-teki yang menambah kebingungan.
Di pasar, ibu-ibu yang biasanya sibuk menawar harga sayur kini saling berbisik dengan wajah tegang. “Katanya ada jenderal diculik semalam… siapa yang berkuasa sekarang?” Banyak pedagang buru-buru menutup lapak, takut terjadi kerusuhan.
Di jalan-jalan utama, tentara banyak yang terlihat, panser, tank dan truk-truk penuh tentara lewat dengan senjata terkokang. Orang-orang yang semula hendak bekerja memilih pulang, menutup pintu rumah rapat-rapat, seolah Jakarta sedang menahan napas.
Siang menjelang, suara tembakan terdengar sesekali di kejauhan. Anak-anak menangis ketakutan, sementara orang tua menenangkan mereka dengan doa. Radio menjadi satu-satunya jendela dunia, tapi berita yang datang silih berganti membuat warga makin bingung. Kadang terdengar suara G30S atau Dewan Revolusi, kadang suara Angkatan Darat.
Sore harinya, siaran radio berubah: suara seorang jenderal, Mayjen Soeharto, mengumumkan bahwa Angkatan Darat telah menguasai keadaan. Warga mulai sedikit lega, tapi tetap tidak ada yang berani keluar malam itu.
Jakarta sunyi. Jalanan gelap, toko-toko tutup, pasar sepi. Sesekali hanya terlihat truk tentara berkeliling patroli. Di balik dinding rumah-rumah, rakyat berdoa agar malam itu berlalu tanpa ledakan perang.
Malam terasa panjang. Kota seolah menunggu jawaban: siapa sebenarnya yang akan memimpin Indonesia setelah malam berdarah itu?
Begitulah secara singkat ulasan cerita peristiwa G30S/PKI yang terjadi di Indonesia, yang membuat sejumlah Jenderal terbunuh.***









