KERINCI, SB – Di saat publik mengira partai Nasional Demokrat (Nasdem) Kerinci tengah berlayar tenang di atas gelombang kemenangan, pucuk pimpinan partai justru di guncang keputusan mengejutkan. Tanpa gejala badai, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Nasdem mencopot H. Salman dari kursi Ketua DPD dan menunjuk Murison yang tak lain adalah Wakil Bupati Kerinci sebagai nakhoda baru.
Langkah ini di umumkan secara resmi lewat Surat Keputusan DPP Partai Nasdem yang di serahkan langsung oleh Ketua DPW Nasdem Provinsi Jambi, Syarif Fasha, pada Jumat malam (10/10/2025) di Villa Boekit Diza, Kota Sungai Penuh. Ruang tertutup, malam pekat, dan keputusan yang tak disangka-sangka komposisi yang sempurna untuk sebuah drama politik.
Pertanyaan pun mencuat dari akar rumput hingga pengamat lokal: Mengapa Salman tersingkir? Padahal rekam jejaknya masih basah oleh tinta kemenangan 4 kursi DPRD Kerinci berhasil diamankan, bahkan kursi pimpinan dewan jadi milik Nasdem. Di Pilkada 2024, partai ini sukses mengusung pasangan Monadi–Murison hingga ke puncak kemenangan. Namun saat kemenangan belum genap setahun dirayakan, komando justru berpindah tangan.
Perubahan Internal Partai
Isyarat perubahan muncul dari lorong internal. Sumber partai menyebut, DPP ingin “menyegarkan struktur” demi menghadapi dinamika politik Kerinci yang makin cair dan tak terduga. Langkah strategis atau manuver halus? Waktu yang akan menjawab.
H. Salman, yang disebut-sebut “disingkirkan”, memilih nada teduh:
“Masa periode sayo sudah habis dari tahun kemarin dan sayo sudah dilantik menjadi pengurus dpw nasdem prov.jambi. dan juga sayo banyak stay di kota jambi. Kami sangat mendukung keputusan dpp dan dpw menunjuk pak murison sebagai ketua dpd nasdem kerinci. Kami berharap nasdem kerinci bisa lebih besar lagi,” kata Salman saat dikonfirmasi via WA.
Pernyataan itu terdengar damai, namun tak meredam spekulasi: apakah ini pergantian normatif atau ada tekanan elektoral di balik tirai?
Sementara Murison kini memegang dua kemudi sekaligus pemerintahan dan partai, mata publik tertuju pada satu hal: apakah ia akan membawa Nasdem lebih dominan atau terseret dalam pusaran tarik-menarik kepentingan.
Secara teoritis, posisi eksekutif memberi Murison akses ke birokrasi, jaringan anggaran, dan magnet elektoral yang tidak dimiliki Salman. Kombinasi jabatan wakil bupati dan ketua partai bisa menjadi mesin dominasi jika dimainkan dengan presisi. Nasdem berpotensi menjadi poros penentu dalam koalisi Pilkada mendatang, bahkan memaksa partai lain merapat sebelum terlambat.
Yang jelas, perubahan ini menandai babak baru dalam perjalanan politik Nasdem Kerinci. Konsolidasi kader, rekonstruksi loyalitas, dan pengamanan elektabilitas kini jadi tugas pertama sang ketua baru. Panggung belum dibuka, tapi dramanya sudah dimulai. (tim)









