SIGNALBERITA.COM – Sejumlah orang tua siswa di Sragen mengeluhkan kualitas menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang di terima anak-anak mereka selama Ramadan. Salah satunya di sampaikan Idris Muhammad, 36 tahun, yang mengaku heran dengan isi paket makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Menurut Idris, kedua anaknya yang masih duduk di jenjang PAUD enggan mengonsumsi menu MBG karena di nilai kurang enak dan tidak segar. Selama Ramadan, makanan di bagikan dalam bentuk kering dan di bawa pulang menggunakan kantong plastik.
Ia menuturkan, menu yang di terima antara lain roti kemasan berukuran kecil, satu buah pir, serta sebungkus kacang. Idris juga menyebut tidak menemukan keterangan masa kedaluwarsa pada kemasan tersebut. Sebelumnya, anaknya juga sempat menerima kurma yang kondisinya kering. Ia mengaku khawatir karena menu yang di berikan di nilai cenderung berupa makanan olahan atau ultra processed food (UPF).
Dugaan Mark Up
Idris menduga ada ketidaksesuaian antara kualitas makanan dengan anggaran yang di tetapkan. Ia memperkirakan nilai makanan yang di terima tidak mencapai Rp8 ribu hingga Rp15 ribu per porsi dan mencurigai adanya praktik mark up. Selain itu, ia mempertanyakan peran tenaga ahli gizi karena komposisi gizi di nilai tidak jelas.
Kondisi yang sama juga terjadi di kota Sungai Penuh, Makanan yang di berikan untuk siswa tidak sesuai dengan nilai dan tidak memenuhi gizi. “Masa hanya segitu saja yang di berikan kepada anak-anak. Kalau dilihat MBG yang dapatkan siswa tidak sampai Rp 10 ribu,”ucap Beni salah seorang orang tua siswa.
Hingga berita ini di tulis, pihak SPPG Kota Sragen belum memberikan tanggapan atas keluhan tersebut.
Sementara itu, Badan Gizi Nasional (BGN) telah menerbitkan Surat Edaran Nomor 3 Tahun 2026 tentang pelayanan MBG selama Ramadan dan Idul Fitri 1447 H. Aturan tersebut mengatur standar pengemasan, keamanan pangan, hingga larangan penggunaan makanan kemasan pabrikan jenis UPF.
Wakil Kepala BGN, Nanik Sudaryati Deyang, menjelaskan anggaran bahan makanan di tetapkan sebesar Rp8.000 per porsi untuk balita hingga kelas III SD, serta Rp10.000 per porsi untuk kelas IV SD ke atas hingga ibu menyusui. Ia menegaskan bahwa sebagian anggaran lainnya di alokasikan untuk operasional dan insentif mitra pelaksana.
Kepala BGN, Dadan Hindayana, juga meminta SPPG meningkatkan standar pengemasan dengan penggunaan alat vakum agar makanan lebih higienis dan tahan lama, serta menghindari penggunaan plastik sederhana demi menjaga mutu makanan saat di distribusikan.(Tim)








