JAKARTA, SIGNALBERITA.COM – Password yang di buat menggunakan kecerdasan buatan (AI) ternyata tidak seaman yang di bayangkan. Perusahaan keamanan siber Irregular menemukan bahwa sandi yang di hasilkan model AI seperti OpenAI melalui ChatGPT, Anthropic lewat Claude, serta Google dengan Gemini, cenderung memiliki pola yang berulang dan mudah di tebak.
Dalam pengujian terbaru, para peneliti meminta model AI membuat password enam karakter yang memuat huruf, angka, dan simbol. Hasilnya, banyak sandi yang tidak benar-benar acak. Pada uji coba terhadap Claude Opus 4.6, dari 50 password yang di hasilkan hanya 30 yang unik. Sebanyak 20 lainnya merupakan duplikasi, bahkan 18 di antaranya identik.
Pola serupa juga di temukan pada ChatGPT dan Gemini. Mayoritas password di mulai dengan huruf tertentu secara konsisten, di ikuti angka atau simbol yang sama. Meski terlihat kompleks, struktur sandi tersebut menunjukkan keteraturan statistik yang justru mengurangi tingkat keamanannya.
Peneliti menjelaskan, akar persoalan terletak pada cara kerja large language model (LLM). Sistem ini di rancang menghasilkan teks berdasarkan probabilitas pola bahasa, bukan menciptakan angka acak murni. Akibatnya, password yang di buat AI memiliki entropi rendah—istilah dalam keamanan siber yang merujuk pada tingkat keacakan.
Dalam praktik keamanan digital, kekuatan sandi bukan di tentukan oleh kombinasi huruf besar-kecil, angka, atau simbol semata, melainkan oleh seberapa acak pola tersebut. Jika pola mudah di tebak, risiko peretasan meningkat.
Irregular menegaskan bahwa kelemahan ini bersifat mendasar dan tidak dapat di atasi hanya dengan mengubah prompt atau parameter model. Pengguna dan pengembang disarankan memanfaatkan password manager atau generator khusus berbasis kriptografi untuk membuat sandi yang benar-benar acak.
Temuan ini menjadi pengingat bahwa AI memang memudahkan banyak hal, namun tidak selalu tepat untuk kebutuhan krusial seperti perlindungan akun digital.









