Oleh: [Novia Rahayu] — Guru Biologi SMA Negeri 2 Sungai Penuh | Mahasiswa S2 MPI IAIN Kerinci.
Ada seorang siswa kelas XII yang selalu meraih peringkat pertama sejak SMP. Nilai rapotnya nyaris sempurna. Piala berjejer di lemari ruang tamunya. Namun ketika ia tidak lolos seleksi perguruan tinggi favoritnya pada percobaan pertama, ia mengurung diri selama dua minggu, menolak makan, dan berulang kali mengatakan bahwa hidupnya telah berakhir.
Kisah ini bukan fiksi. Ini adalah satu dari sekian banyak cerita nyata yang tersebar di ruang-ruang guru, di meja BK, di grup orang tua — cerita yang jarang diangkat ke permukaan karena kita terlalu sibuk merayakan prestasi.
Pertanyaannya kemudian: apakah sekolah kita pernah benar-benar mengajarkan cara menghadapi kegagalan?
Prestasi Tanpa Ketangguhan: Paradoks Pendidikan Kita
Sistem pendidikan kita telah lama membangun sebuah narasi yang kuat: nilai tinggi adalah segalanya. Sejak kelas satu SD, anak-anak diajarkan bahwa angka di atas kertas adalah cermin dari kecerdasan mereka. Ranking kelas menjadi identitas. Kesalahan adalah aib. Kegagalan adalah bencana.
Hasilnya? Kita berhasil mencetak generasi yang cerdas secara akademik, namun seringkali rapuh secara emosional. Data Kementerian Kesehatan tahun 2023 mencatat bahwa sekitar 1 dari 3 remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental. Riset UNICEF menunjukkan tekanan akademik menjadi salah satu pemicu utama kecemasan pada pelajar. Di lapangan, para guru menyaksikan langsung: siswa yang panik saat mendapat nilai jelek, yang menangis sesenggukan di toilet sebelum ujian, bahkan yang menyontek bukan karena malas — tetapi karena takut dianggap bodoh.
Inilah paradoks pendidikan kita: semakin kita membangun sistem yang berorientasi prestasi, semakin kita melupakan fondasi yang sesungguhnya — yaitu kemampuan untuk bangkit.
Sekolah Fullday: Banyak Waktu, Tapi untuk Apa?
Dengan diterapkannya sistem fullday school di banyak sekolah, siswa kini menghabiskan 8 hingga 9 jam sehari di dalam gedung sekolah. Secara teori, ini adalah kesempatan emas. Lebih banyak waktu seharusnya berarti lebih banyak ruang untuk pembentukan karakter, eksplorasi diri, dan pembelajaran yang bermakna.
Namun faktanya, waktu yang panjang itu kerap diisi dengan padatnya mata pelajaran, tugas berlapis, dan persiapan ujian tanpa jeda. Hampir tidak ada ruang untuk membiarkan siswa merasakan kegagalan kecil yang justru paling mendidik: proyek yang tidak berhasil, percobaan yang meleset, presentasi yang berantakan — lalu bangkit kembali dari sana.
Sebagai guru biologi, saya mengamati hal ini setiap hari. Ketika siswa diminta melakukan praktikum dan hasilnya tidak sesuai hipotesis, respons pertama mereka bukan rasa ingin tahu — melainkan kepanikan. Bukan “mengapa ini terjadi?” melainkan “bagaimana supaya nilainya tetap bagus?” Kita telah mengajarkan mereka untuk takut salah, bukan untuk belajar dari kesalahan.
Kegagalan Adalah Kurikulum yang Belum Ditulis
Dalam ilmu manajemen pendidikan, kita mengenal konsep growth mindset — keyakinan bahwa kemampuan dapat berkembang melalui usaha dan ketekunan, termasuk melalui kegagalan. Carol Dweck, psikolog dari Stanford, membuktikan bahwa anak-anak yang diajarkan untuk merangkul kegagalan sebagai bagian dari proses belajar tumbuh menjadi individu yang lebih adaptif, lebih kreatif, dan lebih tangguh menghadapi tantangan hidup.
Sayangnya, konsep ini nyaris tidak mendapat tempat dalam dokumen kurikulum kita. Kompetensi Dasar penuh dengan target kognitif. Rapot dipenuhi angka. Bahkan dalam implementasi Kurikulum Merdeka sekalipun — yang sejatinya memberi ruang lebih luas bagi pengembangan karakter — praktiknya di lapangan masih sering tersandera oleh tekanan penilaian dan tuntutan administrasi.
Padahal dunia nyata tidak mengenal rapot. Dunia nyata mengenal kegagalan proyek, penolakan lamaran kerja, usaha yang bangkrut, hubungan yang retak. Dan dunia nyata hanya bisa dihadapi oleh mereka yang tidak hancur ketika kenyataan tidak berjalan sesuai rencana.
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Perubahan tidak harus dimulai dari revisi kurikulum nasional. Ia bisa dimulai dari hal-hal kecil yang kita lakukan di dalam kelas setiap hari.
Guru bisa mulai dengan mengubah cara merespons kesalahan siswa — bukan dengan koreksi merah yang mempermalukan, tetapi dengan pertanyaan yang memantik refleksi: “Menurutmu, mengapa ini bisa terjadi? Apa yang bisa diperbaiki?” Orang tua perlu berhenti menjadikan nilai sebagai satu-satunya topik pembicaraan tentang sekolah. Dan sekolah, sebagai lembaga yang paling bertanggung jawab atas pembentukan generasi, perlu secara serius memasukkan pendidikan resiliensi ke dalam desain pembelajaran sehari-hari.
Dalam perspektif manajemen pendidikan Islam, pembentukan insan kamil — manusia yang utuh dan paripurna — tidak hanya menyentuh aspek akal, tetapi juga aspek jiwa yang kokoh. Manusia yang kokoh bukan yang tidak pernah jatuh, melainkan yang tahu bagaimana cara berdiri kembali setelah jatuh.
Penutup: Sekolah Harus Berani Mengajarkan Cara Kalah
Kita tidak kekurangan siswa yang pintar. Yang kita butuhkan adalah siswa yang tangguh. Bukan tangguh karena tidak pernah merasakan kegagalan, tetapi tangguh karena pernah gagal — dan diajarkan bagaimana menghadapinya dengan kepala tegak.
Sudah saatnya kita bertanya dengan jujur: sudahkah sekolah kita mengajarkan hal itu? Atau kita masih terlalu sibuk mengejar angka di atas kertas, sementara generasi kita perlahan rapuh di hadapan kehidupan yang sesungguhnya?
Jawaban atas pertanyaan itu bukan di tangan kurikulum semata. Ia ada di tangan setiap guru yang hadir di kelas setiap hari — termasuk kita.
Tentang Penulis
[Novia Rahayu] adalah guru mata pelajaran Biologi di SMA Negeri 2 Sungai Penuh, Kerinci, Jambi. Saat ini sedang menempuh studi Magister Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) di IAIN Kerinci. Aktif mengamati isu-isu pendidikan di daerah dan pembentukan karakter generasi muda.









