JAKARTA, SIGNALBERITA.COM – Harga Bitcoin (BTC) kembali menunjukkan tren penguatan setelah berhasil naik dari area US$63.000 hingga menembus level US$80.000 dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi ini memunculkan optimisme baru di pasar kripto, terutama setelah sejumlah indikator utama mulai menunjukkan sinyal bullish yang di nilai dapat mendorong BTC menuju level US$85.000.
Sejumlah analis pasar menyebut ada tiga faktor utama yang kini menjadi perhatian trader global. Ketiga indikator tersebut berasal dari data on-chain, pasar futures, hingga options market yang sama-sama mengarah pada potensi kenaikan lanjutan Bitcoin.
Data On-Chain Dinilai Semakin Kuat
Sinyal pertama datang dari data on-chain yang menunjukkan Bitcoin kini berhasil bertahan di atas dua level penting, yakni True Market Mean di kisaran US$78.200 dan Short-Term Holder Cost Basis sekitar US$79.100.
Kondisi ini di anggap penting karena menggambarkan sebagian besar investor aktif saat ini berada dalam posisi keuntungan. Saat mayoritas pelaku pasar masih mencatat profit, tekanan jual biasanya cenderung menurun sehingga membuka peluang penguatan harga lebih lanjut.
Analis Glassnode menyebut perhatian pasar kini tertuju pada area US$85.200 yang di anggap sebagai resistance besar berikutnya. Level tersebut di kenal sebagai Active Realized Price, yaitu rata-rata harga beli seluruh pasokan Bitcoin aktif di pasar.
Selain itu, kemampuan BTC bertahan di atas area US$79.000 di nilai menjadi tanda bahwa fase undervalued yang sempat terjadi sejak awal 2026 mulai berakhir lebih cepat dari perkiraan.
Tekanan Short Futures Mulai Berkurang
Indikator kedua berasal dari pasar futures. Selama beberapa bulan terakhir, funding rate Bitcoin sempat berada di zona negatif yang menandakan dominasi posisi short atau taruhan penurunan harga.
Namun kini kondisi mulai berubah. Funding rate perlahan kembali netral bahkan cenderung positif. Hal tersebut menunjukkan tekanan short mulai melemah dan sebagian trader mulai menutup posisi bearish mereka.
Analis Bitfinex menilai perubahan ini penting karena pasar tidak lagi di bebani tekanan jual besar dari futures market. Jika harga Bitcoin terus bergerak naik, potensi short squeeze juga bisa muncul sewaktu-waktu.
Short squeeze sendiri merupakan kondisi ketika trader yang membuka posisi short terpaksa membeli kembali Bitcoin untuk menutup kerugian akibat harga yang terus naik. Situasi seperti ini kerap memicu lonjakan harga yang lebih agresif dalam waktu singkat.
Options Market Bisa Dorong Kenaikan Lebih Cepat
Sinyal ketiga datang dari options market. Berdasarkan data Glassnode, market maker saat ini berada dalam posisi short gamma di sekitar level US$82.000 dengan eksposur mencapai hampir US$2 miliar.
Dalam kondisi short gamma, market maker biasanya harus melakukan hedging mengikuti arah pergerakan harga. Ketika harga Bitcoin naik, mereka cenderung ikut membeli BTC untuk menjaga posisi tetap netral.
Fenomena tersebut dapat menciptakan efek feedback loop, yakni kondisi ketika kenaikan harga memicu aksi beli tambahan sehingga harga kembali terdorong naik lebih cepat.
Meski demikian, analis mengingatkan kondisi tersebut juga memiliki risiko. Jika harga Bitcoin tiba-tiba berbalik turun, tekanan jual tambahan dari market maker berpotensi mempercepat koreksi pasar.
Bitcoin Masih Dipengaruhi Sentimen Global
Walaupun sejumlah indikator mulai menunjukkan arah bullish, analis tetap mengingatkan bahwa pergerakan Bitcoin masih sangat di pengaruhi kondisi pasar global, khususnya saham teknologi Amerika Serikat.
Jika pasar saham AS kembali mengalami tekanan besar atau sentimen risk-off meningkat, momentum kenaikan Bitcoin berpotensi melambat dalam jangka pendek.
Namun untuk saat ini, kombinasi penguatan data on-chain, meredanya tekanan short futures, dan dorongan dari options market membuat peluang Bitcoin menuju area US$85.000 kembali menjadi pembahasan utama di kalangan trader dan investor kripto.***









