JAKARTA, SIGNALBERITA.COM – Dampak dari lonjakan harga minyak mentah dunia yang mengalami kenaikan, hal ini di perkirakan mulai memengaruhi pola konsumsi masyarakat di Asia Tenggara. Kenaikan harga energi dan pangan membuat konsumen lebih berhati-hati dalam berbelanja, terutama untuk produk non-primer di platform e-commerce.
Kondisi tersebut di prediksi berdampak langsung terhadap pertumbuhan nilai transaksi digital atau gross merchandise value (GMV) sejumlah platform belanja online seperti Shopee dan TikTok Shop.
Berdasarkan analisis Bloomberg Economics, apabila harga minyak Brent bertahan di kisaran US$100 per barel, nilai transaksi e-commerce Asia Tenggara berpotensi turun sekitar 8% hingga 9%. Penurunan itu di picu oleh perubahan prioritas pengeluaran rumah tangga yang kini lebih fokus pada kebutuhan pokok.
Konsumen Kurangi Belanja Non-Prioritas
Naiknya biaya hidup akibat harga bahan bakar dan pangan membuat masyarakat mulai mengurangi pembelian produk sekunder seperti fesyen, elektronik, hingga produk gaya hidup.
Bloomberg Economics memperkirakan potensi penurunan GMV industri e-commerce di kawasan dapat mencapai US$13 miliar dalam kondisi harga minyak tinggi berkepanjangan.
Shopee di proyeksikan mengalami penurunan transaksi sekitar 8%, sementara TikTok Shop di nilai lebih rentan dengan potensi tekanan mencapai 8,6% secara regional.
Dalam skenario yang lebih berat, ketika seluruh kenaikan biaya hidup dibebankan langsung kepada konsumen, nilai transaksi e-commerce bahkan di perkirakan bisa terpangkas hingga US$19 miliar.
Penurunan transaksi otomatis akan berdampak pada pendapatan platform digital, terutama dari sisi komisi penjualan dan iklan.
TikTok Shop Dinilai Lebih Rentan
TikTok Shop di sebut memiliki risiko lebih besar di banding Shopee karena porsi produk non-esensial di platform tersebut relatif lebih tinggi.
Produk seperti fesyen, aksesoris, dan barang gaya hidup mendominasi transaksi TikTok Shop sehingga lebih sensitif terhadap penurunan daya beli masyarakat.
Sementara Shopee masih memiliki kombinasi kategori produk yang lebih beragam, termasuk kebutuhan rumah tangga dan produk semi-esensial yang cenderung tetap di cari konsumen meski kondisi ekonomi melemah.
Indonesia dan Vietnam Paling Terdampak
Indonesia dan Vietnam di perkirakan menjadi negara yang paling rentan terkena dampak lonjakan harga minyak karena sebagian besar pendapatan masyarakat masih digunakan untuk kebutuhan dasar.
Di Indonesia, sekitar 41% pengeluaran rumah tangga di alokasikan untuk makanan, sementara belanja di skresioner atau non-primer hanya sekitar 22%.
Jika harga minyak bertahan tinggi, pengeluaran non-esensial masyarakat Indonesia di perkirakan turun lebih dari 14%. Vietnam juga mengalami pola serupa dengan potensi penurunan konsumsi diskresioner mencapai 14,6%.
Sebaliknya, Singapura di nilai lebih tahan terhadap tekanan inflasi karena porsi belanja kebutuhan dasar masyarakatnya relatif kecil di banding pengeluaran gaya hidup.
Produk Kebutuhan Harian Jadi Penopang
Meski tekanan daya beli meningkat, industri e-commerce di nilai masih memiliki penopang dari kategori produk semi-esensial seperti kesehatan, kecantikan, perlengkapan bayi, hingga kebutuhan rumah tangga.
Kategori tersebut di nilai tetap memiliki permintaan stabil meskipun konsumen cenderung memilih produk dengan harga lebih murah.
Sementara itu, pertumbuhan e-commerce Asia Tenggara kini mulai lebih merata. Thailand dan Malaysia tercatat menjadi negara dengan pertumbuhan transaksi digital tercepat sepanjang 2025, sehingga membantu menopang pasar regional.
Kebijakan Subsidi Pengaruhi Dampak Inflasi
Besarnya dampak kenaikan harga minyak terhadap masyarakat juga di pengaruhi kebijakan energi masing-masing negara.
Indonesia dan Malaysia masih menahan tekanan harga bahan bakar melalui subsidi pemerintah, sehingga dampaknya terhadap konsumen tidak secepat negara yang menggunakan mekanisme harga pasar penuh seperti Thailand dan Filipina.
Meski demikian, apabila harga minyak dunia terus bertahan tinggi dalam jangka panjang, tekanan terhadap daya beli masyarakat dan industri e-commerce di perkirakan akan semakin besar.***









