Salah satunya datang dari Hendra Susanto, pendiri Beskabean Coffee. Siapa sangka, bisnis kopi yang kini memiliki 14 cabang itu dulunya hanya dimulai dengan omzet harian Rp 50 ribu.
Hendra memulai semuanya pada 2016. Saat itu ia merintis usaha seorang diri. Dari mengurus kebun kopi, membangun roastery kecil, hingga membuka coffee shop pertamanya. Perlahan, bisnisnya berkembang. Kini, ia mempekerjakan sekitar 85 karyawan.
Namun, perjalanan itu tidak dibangun dalam semalam.
Di balik pertumbuhan bisnisnya, ada proses panjang pendampingan yang ia jalani bersama Bank Indonesia melalui program Wirausaha Unggulan Bank Indonesia (WUBI).
Program tersebut menjadi pintu masuk bagi Hendra untuk memahami manajemen bisnis, strategi pengembangan usaha, hingga cara menembus pasar internasional.
“BI itu tidak sekadar kasih bantuan. Mereka ngajarin bagaimana kami bisa berdiri sendiri. Dari pelatihan bisnis sampai manajemen semuanya didampingi,” ujar Hendra saat ditemui di Bangkok, Kamis (7/5/2026).
Menurutnya, pendekatan yang dilakukan BI lebih berorientasi pada penguatan kapasitas usaha dibanding bantuan instan. Pola itulah yang membuat banyak UMKM akhirnya mampu naik kelas.
Kini, produk kopinya mulai dikenal di pasar internasional. Kehadirannya di World of Coffee menjadi salah satu tonggak penting perjalanan bisnis yang dibangun hampir satu dekade terakhir.
Tak jauh dari stan Beskabean Coffee, kisah serupa juga datang dari Gusti Iwan Darmawan, pemilik Kojal Coffee.
Berbeda dengan Hendra yang membangun jaringan coffee shop, Gusti fokus mengangkat karakter kopi liberika asal Kalimantan Barat.
Usaha itu dirintis bersama istrinya sejak 2017. Bermodal kecintaan terhadap kopi lokal, mereka membangun bisnis kecil yang seluruh bahan bakunya berasal dari petani Kalimantan Barat.
Di sela kesibukannya menyeduh kopi untuk pengunjung internasional, Gusti bercerita bahwa bisnisnya tidak hanya soal menjual kopi, tetapi juga mendampingi petani agar kualitas produksi meningkat.
“Sejak awal kami memang fokus mendampingi petani di Kalbar. Jadi bukan cuma beli kopi mereka, tapi ikut bantu meningkatkan kualitasnya,” kata Gusti.
Keikutsertaan dua UMKM tersebut di World of Coffee menunjukkan bahwa kopi Indonesia tidak lagi hanya dikenal sebagai komoditas mentah. Kini, pelaku UMKM mulai tampil membawa identitas, cerita, hingga ekosistem kopi yang dibangun dari akar rumput.
Dari omzet puluhan ribu rupiah hingga tampil di forum kopi internasional, perjalanan mereka menjadi bukti bahwa UMKM Indonesia punya peluang besar menembus pasar global asal mendapat pendampingan, akses, dan keberanian untuk terus tumbuh.(*)









