Jakarta — Sejumlah ekonom memperkirakan kebutuhan dana kompensasi energi untuk bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite dapat mencapai sekitar Rp14,8 triliun per bulan.
Hal itu di picu oleh selisih antara harga keekonomian dan harga jual resmi di SPBU yang semakin melebar.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menyebut harga keekonomian Pertalite (RON 90) saat ini di perkirakan telah mencapai Rp16.088 per liter. Sementara itu, harga jual di SPBU Pertamina masih di pertahankan di level Rp10.000 per liter.
Menurut Josua, kuota Pertalite tahun 2026 di tetapkan sebesar 29,2 juta kiloliter (kl) atau sekitar 2,44 juta kl per bulan. Dengan selisih harga sekitar Rp6.088 per liter, pemerintah di perkirakan harus menanggung kompensasi energi hingga Rp14,8 triliun setiap bulan apabila seluruh kuota terserap.
“Dengan selisih Rp6.088/liter, kebutuhan kompensasi Pertalite berdasarkan kuota penuh mencapai sekitar Rp14,8 triliun/bulan,” ujar Josua, Senin (18/5/2026).
Isu kenaikan beban subsidi dan kompensasi BBM kembali menjadi perhatian di tengah tekanan harga minyak global dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Sejumlah laporan sebelumnya juga memproyeksikan potensi lonjakan beban APBN akibat kompensasi untuk Pertalite dan Pertamax.
Di sisi lain, pemerintah menegaskan kebijakan subsidi dan kompensasi BBM tetap di arahkan untuk menjaga daya beli masyarakat serta stabilitas ekonomi domestik.(*)










