JAKARTA, SIGNALBERITA.COM – Kondisi Harga minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) kembali mengalami kenaikan signifikan di Bursa Malaysia Derivatives (BMD).
Seperti pada Selasa, 26 Mei 2026. Salah satu pemicu ini penguatan harga ini terjadi setelah sebelumnya pasar sempat melemah.
Kenaikan harga CPO di picu beberapa faktor utama, mulai dari melonjaknya harga minyak mentah dunia, melemahnya produksi sawit Malaysia, hingga pelemahan nilai tukar ringgit terhadap dolar Amerika Serikat.
Data perdagangan menunjukkan kontrak berjangka CPO untuk pengiriman Juni 2026 naik menjadi 4.429 ringgit Malaysia per ton. Sementara kontrak Juli hingga November 2026 juga kompak menguat dengan kenaikan bertahap di setiap seri perdagangan.
Harga Minyak Dunia Jadi Pendorong Utama
Analis komoditas dari Sunvin Group, Anilkumar Bagani, menyebut lonjakan harga minyak mentah global menjadi faktor terbesar yang mengangkat harga CPO.
Harga minyak Brent tercatat melonjak sekitar 3 persen setelah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama usai serangan militer Amerika Serikat ke Iran.
Situasi tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi dunia dan keamanan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.
Kenaikan harga minyak mentah membuat CPO semakin di minati sebagai bahan baku biodiesel karena di nilai lebih kompetitif di banding minyak nabati lainnya.
Produksi Sawit Malaysia Diperkirakan Melemah
Selain faktor energi global, pasar juga merespons proyeksi penurunan produksi sawit Malaysia sepanjang Mei 2026.
Pelaku pasar menilai produksi yang melambat berpotensi mengurangi pasokan di pasar internasional sehingga menopang kenaikan harga.
Di sisi lain, perdagangan CPO Malaysia juga akan memasuki masa libur Idul adha sehingga aktivitas pasar menjadi lebih terbatas.
Pelemahan Ringgit Bantu Dongkrak Harga CPO
Faktor lain yang turut memperkuat harga sawit adalah pelemahan mata uang ringgit Malaysia terhadap dolar AS.
Ringgit tercatat turun sekitar 0,38 persen, membuat harga CPO Malaysia menjadi lebih murah bagi pembeli asing yang menggunakan dolar AS maupun mata uang lainnya.
Kondisi tersebut biasanya meningkatkan daya saing ekspor sawit Malaysia di pasar global.
Ekspor Sawit Malaysia dan Indonesia Sama-Sama Menurun
Meski harga sedang menguat, data ekspor justru menunjukkan pelemahan.
Laporan perusahaan inspeksi kargo AmSpec Agri Malaysia dan Intertek Testing Services mencatat ekspor sawit Malaysia pada periode 1–25 Mei turun antara 14,5 hingga 18 persen di banding bulan sebelumnya.
Sementara dari Indonesia, data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menunjukkan ekspor produk sawit nasional pada Maret 2026 hanya mencapai 2,17 juta ton, turun di banding periode yang sama tahun lalu sebesar 2,88 juta ton.
Penurunan ekspor tersebut menjadi perhatian pelaku industri karena dapat memengaruhi stabilitas pasar sawit global dalam beberapa bulan mendatang.
Isu Under-Invoicing Ikut Jadi Sorotan
Di tengah kenaikan harga CPO, pemerintah Indonesia juga tengah menyoroti dugaan praktik under-invoicing atau manipulasi nilai ekspor sawit.
Menteri Keuangan menyebut sejumlah perusahaan besar sawit, termasuk Wilmar International dan Musim Mas Group, sedang dalam proses pemeriksaan terkait dugaan tersebut.
Kasus ini menjadi perhatian karena berkaitan dengan potensi kerugian negara dari sektor ekspor komoditas sawit.
Harga CPO Diprediksi Masih Fluktuatif
Pelaku pasar memperkirakan harga CPO masih akan bergerak fluktuatif dalam waktu dekat.
Pergerakan harga minyak dunia, situasi geopolitik Timur Tengah, nilai tukar ringgit, hingga data produksi sawit Malaysia di perkirakan tetap menjadi faktor utama yang memengaruhi pasar.
Jika harga minyak mentah terus naik dan pasokan sawit global tetap terbatas, maka harga CPO berpotensi bertahan di level tinggi dalam beberapa waktu ke depan.***









