JAKARTA SB– Saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) resmi tidak lagi masuk dalam indeks MSCI Small Cap. Namun, sejumlah analis menilai kondisi tersebut belum mengubah prospek fundamental perseroan yang masih cukup solid.
Laporan UBS menyebutkan bahwa kinerja bisnis nikel ANTM masih menunjukkan ketahanan. Perseroan tercatat mampu membukukan margin kas sekitar US$2.500 per ton dari penjualan feronikel.
Angka tersebut di topang harga jual rata-rata (ASP) yang mencapai sekitar US$14.500 per ton, sementara biaya kas berada di kisaran US$12.000 per ton.
Di sisi lain, harga jual rata-rata bijih nikel saprolit yang di pasarkan ANTM tercatat mencapai sekitar US$80 per ton pada April 2026. Penjualan bijih nikel tersebut menyumbang sekitar 20 persen dari total penjualan nikel perusahaan pada periode tersebut.
Manajemen ANTM juga menyampaikan bahwa hingga saat ini belum terlihat adanya pelemahan permintaan, meskipun harga bijih nikel masih berada pada level yang relatif tinggi.
Untuk tahun 2026, kuota produksi nikel nasional yang telah memperoleh persetujuan pemerintah diperkirakan berada pada kisaran 240 juta hingga 250 juta ton.
UBS menilai peluang revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pada kuartal II-2026 cukup kecil karena pemerintah masih berupaya menjaga keseimbangan pasokan melalui kebijakan suplai yang ketat.
Selain bisnis nikel, penjualan emas ANTM pada kuartal I-2026 juga di laporkan melampaui target yang telah di tetapkan perusahaan. Saat ini, manajemen lebih fokus mengoptimalkan penjualan dalam skala besar (wholesale) guna menjaga margin keuntungan di tengah tren penurunan harga emas.
Dengan fundamental yang masih kuat dan dukungan dari bisnis nikel serta emas, ANTM di nilai tetap memiliki ruang pertumbuhan meski tidak lagi menjadi bagian dari indeks MSCI Small Cap.(*)









