By: Dapur Redaksi
Ini dogeng ketika Undang-Undang Perampasan Aset di berlakukan. Pagi itu suasana kota mendadak berbeda. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi mobil mewah seharga miliaran rupiah kini ramai oleh sepeda ontel tua yang berdecit di setiap putaran rodanya.
Di sebuah persimpangan, warga terheran-heran melihat Pak Darto, seorang pengusaha terkenal yang biasanya ke mana-mana naik mobil mewah dengan sopir pribadi. Kini ia mengayuh sepeda ontel berwarna hijau kusam sambil mengenakan topi caping.
“Pak Darto, mobilnya mana?” tanya seorang tetangga.
Pak Darto langsung menoleh ke kanan dan kiri sebelum menjawab pelan.
“Mobil apa? Saya ini dari dulu rakyat sederhana. Pecinta lingkungan.”
Tetangga itu mengernyit. Seminggu yang lalu Pak Darto baru saja mengunggah foto mobil sport terbarunya di media sosial.
“Tapi kemarin Bapak masih pamer mobil…”
“Itu mobil tetangga,” jawabnya cepat.
Sejak isu Undang-Undang Perampasan Aset ramai dibicarakan, banyak orang kaya mendadak mengalami perubahan gaya hidup yang luar biasa. Yang biasanya sarapan di hotel berbintang kini terlihat makan singkong rebus di warung pinggir jalan.
Yang biasanya memakai jam tangan seharga rumah subsidi kini mendadak mengenakan jam plastik hadiah sabun cuci.
Bahkan ada yang mengaku hobi memelihara ayam.
“Saya ini peternak kecil,” katanya.
Padahal ayamnya cuma dua ekor dan baru dibeli kemarin sore.
 Fenomena itu semakin menarik ketika sebuah komunitas baru muncul di kota tersebut. Namanya Komunitas Ontel Nusantara.
Anggotanya puluhan orang kaya raya.
Mereka setiap pagi berkeliling kota dengan sepeda tua sambil mengenakan kaus lusuh.
Di antara mereka ada pemilik hotel, kontraktor, eksportir, dan beberapa orang yang selama ini terkenal sangat dekat dengan proyek-proyek bernilai fantastis.
Motto komunitas itu sangat sederhana:
“Hidup sederhana sebelum disederhanakan.”
Setiap minggu mereka mengadakan lomba siapa yang paling terlihat miskin.
Juara bertahan tiga bulan berturut-turut adalah seorang pengusaha properti yang berhasil datang memakai sandal jepit putus dan membawa karung berisi singkong.
Sayangnya ia didiskualifikasi setelah panitia mengetahui karung itu dibawa oleh asistennya yang mengikuti dari belakang menggunakan mobil mewah.
 Di tempat lain, Pak Burhan juga sedang panik.
Ia memanggil seluruh keluarganya untuk rapat darurat.
“Kita harus hidup sederhana mulai sekarang!”
Semua mengangguk.
Mulai hari itu kolam renang di rumahnya resmi disebut “bak penampung air hujan.”
Mobil mewah disebut “kendaraan operasional keluarga.”
Rumah tiga lantai disebut “pondok sederhana.”
Sedangkan vila di puncak gunung disebut “gubuk untuk berteduh.”
Anaknya yang masih kecil kebingungan.
“Ayah, kalau kita sederhana, kenapa rumah kita ada lift?”
Pak Burhan terdiam cukup lama.
“Itu… tangga yang terlalu rajin belajar.”
 Namun yang paling lucu adalah perubahan media sosial para orang kaya tersebut.
Foto-foto liburan ke Eropa perlahan menghilang.
Unggahan restoran mahal mendadak diganti foto nasi tempe.
Caption yang dulu berbunyi:
“Kerja keras tidak mengkhianati hasil.”
Kini berubah menjadi:
“Kesederhanaan adalah kemewahan yang sesungguhnya.”
Netizen pun hanya bisa tersenyum.
Mereka tahu bahwa kesederhanaan yang muncul mendadak biasanya bukan karena mendapat hidayah, melainkan karena mendapat kabar.
 Pada akhirnya, seorang kakek yang sejak muda memang hidup sederhana hanya tertawa melihat semua kejadian itu.
“Saya heran,” katanya.
“Dulu orang berlomba-lomba terlihat kaya. Sekarang orang kaya berlomba-lomba terlihat tidak kaya.”
“Lalu siapa yang benar-benar kaya?”
Kakek itu tersenyum sambil mengayuh sepeda ontelnya yang memang sudah ia pakai selama tiga puluh tahun.
“Mungkin yang paling kaya adalah orang yang hartanya diperoleh dengan tenang, sehingga tidak perlu berpura-pura miskin ketika aturan datang.”
Sepeda ontelnya terus melaju perlahan.
Sementara di belakangnya, rombongan orang kaya baru sedang sibuk belajar cara mengayuh sepeda agar terlihat meyakinkan. Ada yang masih kikuk, ada yang hampir jatuh, dan ada pula yang diam-diam bertanya kepada sopirnya:
“Kalau naik ontel begini, bensinnya isi di mana?”
Sopir itu menatap kosong ke arah langit.
Negeri ini memang tidak pernah kehabisan bahan untuk tertawa.











