JAKARTA, Signalberita.com – Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menanggapi kritik mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal terkait frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto. Menurut Teddy, masukan dari berbagai pihak merupakan hal yang wajar dalam demokrasi, namun penilaian terhadap aktivitas diplomasi pemerintah perlu melihat hasil yang telah di capai.
Dalam keterangan yang di siarkan Sekretariat Kabinet pada Senin, 1 Juni, Teddy menjawab sejumlah kritik yang di sampaikan Dino melalui media sosial. Salah satu isu yang di soroti adalah besarnya biaya perjalanan dinas Presiden.
Teddy menegaskan bahwa apabila terdapat pengeluaran yang melebihi anggaran negara yang telah di tetapkan, biaya tersebut di tanggung secara pribadi oleh Presiden Prabowo. Ia menyebut hal itu sebagai bentuk komitmen untuk menjaga akuntabilitas penggunaan anggaran negara.
Delegasi Pemerintahan Prabowo Lebih Kecil
Mengenai ukuran rombongan dalam kunjungan kenegaraan, Teddy mengatakan jumlah delegasi pada masa pemerintahan Prabowo justru lebih kecil di bandingkan periode sebelumnya. Menurut dia, jika pada masa lalu satu kunjungan dapat melibatkan lebih dari seratus orang, kini jumlah peserta di batasi sekitar 50 hingga 60 orang.
Teddy juga menjelaskan bahwa pendekatan diplomasi yang di jalankan Prabowo mengandalkan hubungan personal dengan para pemimpin dunia. Strategi tersebut di nilai penting di tengah dinamika geopolitik global yang di tandai berbagai konflik dan ketegangan internasional.
“Hubungan baik antarnegara perlu di bangun dan di pelihara. Dalam situasi tertentu, hubungan itu dapat menjadi modal penting bagi kepentingan nasional,” kata Teddy.
Menanggapi usulan agar jadwal perjalanan Presiden di umumkan secara lebih terbuka, Teddy mengatakan agenda kepala negara bersifat dinamis dan tidak seluruhnya dapat di rencanakan jauh hari. Selain menghadiri forum internasional rutin, seperti ASEAN, G20, dan APEC, Presiden juga harus merespons perkembangan situasi global yang berubah dengan cepat.
Menurut Teddy, penentuan prioritas kunjungan luar negeri di lakukan berdasarkan kebutuhan nasional dan pertimbangan diplomatik yang di bahas bersama Menteri Luar Negeri Sugiono.
Di akhir keterangannya, Teddy mengapresiasi perhatian dan masukan yang di berikan Dino Patti Djalal. Namun, ia mengingatkan bahwa efektivitas diplomasi tidak hanya di ukur dari frekuensi perjalanan, melainkan juga dari manfaat yang di peroleh Indonesia dalam memperkuat posisi dan kepentingannya di tingkat internasional.(*)









