SB – Setiap kali nilai tukar rupiah melemah, sebagian kalangan kerap terburu-buru menyimpulkan bahwa kondisi tersebut akan terus berlanjut dan menjadi pertanda krisis ekonomi yang lebih besar.
Padahal, dalam perspektif ekonomi modern, pergerakan nilai tukar tidak dapat di baca secara sederhana. Kurs merupakan salah satu variabel ekonomi yang sangat sensitif terhadap sentimen global sehingga sering bergerak lebih cepat di bandingkan perubahan fundamental ekonomi yang sebenarnya.
Sejumlah indikator menunjukkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi yang relatif kuat dan sehat. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pelemahan rupiah hingga saat ini belum memberikan dampak signifikan terhadap aktivitas perekonomian nasional.
Menurutnya, kondisi fiskal pemerintah tetap berada dalam koridor yang aman karena depresiasi nilai tukar telah di perhitungkan dalam asumsi penyusunan APBN.
Pemerintah, lanjut Purbaya, tidak hanya berfokus menjaga stabilitas kurs dalam jangka pendek, tetapi juga memastikan pertumbuhan ekonomi nasional tetap kuat dalam jangka pendek, menengah, dan panjang. Karena itu, situasi yang terjadi saat ini tidak dapat di kategorikan sebagai keadaan darurat ekonomi. Yang di lakukan pemerintah adalah mengelola dinamika pasar keuangan secara terukur sambil menjaga momentum pertumbuhan ekonomi tetap berjalan.
Dalam perspektif ekonomi internasional, pelemahan mata uang tidak selalu identik dengan melemahnya ekonomi suatu negara. Pada periode tertentu, nilai tukar justru berfungsi sebagai shock absorber atau peredam kejut terhadap tekanan global. Ketika terjadi gejolak geopolitik, kenaikan suku bunga di negara maju, atau penguatan dolar Amerika Serikat, pasar keuangan biasanya bereaksi lebih cepat di bandingkan sektor riil.
Pandangan tersebut sejalan dengan analisis Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian. Ia menilai rupiah saat ini berada dalam fase overshooting, yaitu kondisi ketika pelemahan nilai tukar bergerak lebih dalam di bandingkan kondisi fundamental ekonomi jangka panjang Indonesia. Menurutnya, pasar tidak hanya merespons data ekonomi saat ini, tetapi juga berbagai sentimen dan ekspektasi global yang berkembang.
Tekanan Rupiah
Fakhrul menegaskan bahwa tekanan terhadap rupiah tidak berarti fundamental ekonomi Indonesia mengalami pelemahan drastis. Inflasi masih terkendali, sektor perbankan tetap sehat, dan pertumbuhan ekonomi masih berada pada jalur yang positif.
Konsep overshooting sendiri telah lama di kenal dalam teori ekonomi internasional melalui pemikiran ekonom Rudiger Dornbusch. Dalam kondisi tertentu, pasar keuangan dapat bereaksi berlebihan terhadap suatu informasi sehingga nilai tukar bergerak jauh dari posisi keseimbangannya. Namun, ketika sentimen mereda dan pelaku pasar kembali memperhatikan faktor fundamental, nilai tukar umumnya akan bergerak menuju level yang lebih wajar. Karena itu, pelemahan rupiah saat ini tidak tepat jika langsung dianggap sebagai tren permanen.
Jika di lihat dari faktor eksternal, tekanan terhadap nilai tukar juga tidak hanya di alami Indonesia. Penguatan dolar Amerika Serikat terjadi hampir di seluruh dunia. Mata uang negara-negara Asia seperti yen Jepang, yuan China, won Korea Selatan, ringgit Malaysia, hingga dolar Singapura juga mengalami tekanan serupa. Kondisi ini menunjukkan bahwa fenomena yang terjadi bersifat global, bukan persoalan yang spesifik dialami Indonesia.
Di sisi domestik, sejumlah indikator justru menunjukkan ketahanan ekonomi yang cukup baik. Sektor perbankan nasional masih berada dalam kondisi solid dengan rasio kecukupan modal (CAR) yang tinggi, tingkat kredit bermasalah yang terjaga, serta fungsi intermediasi yang berjalan normal. Konsumsi rumah tangga yang menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia juga tetap relatif stabil.
Indonesia pun masih menjadi salah satu negara dengan prospek pertumbuhan ekonomi terbaik di dunia. Di antara negara-negara G20, Indonesia berada dalam kelompok dengan tingkat pertumbuhan ekonomi tertinggi setelah India. Prospek tersebut diyakini tetap menarik bagi investor asing, baik untuk investasi langsung maupun investasi portofolio.
BI jaga Stabilitas Keuangan
Pemerintah dan Bank Indonesia juga terus mengambil langkah untuk menjaga stabilitas sektor keuangan. Salah satunya melalui intervensi di pasar obligasi guna menahan kenaikan yield agar tidak terlalu tinggi dan tidak memicu arus keluar modal secara berlebihan.
Langkah tersebut juga bertujuan menjaga kepercayaan investor terhadap pasar keuangan nasional dengan meminimalkan potensi capital loss yang terlalu besar.
Masyarakat juga perlu memahami bahwa nilai tukar bukan satu-satunya indikator kesehatan ekonomi. Negara dengan kurs yang kuat belum tentu memiliki pertumbuhan ekonomi yang baik. Sebaliknya, negara yang mata uangnya sedang mengalami tekanan belum tentu berada di ambang krisis.
Karena itu, tidak ada alasan untuk larut dalam pesimisme. Pelemahan rupiah saat ini lebih tepat di pandang sebagai bagian dari proses penyesuaian ekonomi global yang bersifat sementara, bukan cerminan keruntuhan fundamental ekonomi Indonesia. Dengan koordinasi kebijakan yang semakin solid serta meredanya ketidakpastian global, ruang penguatan rupiah masih terbuka.
Fundamental ekonomi yang tetap kuat, sektor keuangan yang stabil, koordinasi erat antara pemerintah dan Bank Indonesia, serta prospek pertumbuhan yang menjanjikan menjadi modal penting bagi Indonesia untuk melewati fase tekanan saat ini. Seperti berbagai episode sebelumnya, gejolak nilai tukar akan berlalu, sementara fondasi ekonomi yang kuat akan tetap menjadi penopang utama pembangunan nasional.(*)










