JAKARTA, Signalberita.com – Pergerakan Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (23/06/2026) kembali mengalami tekanan. Pada perdagangan terbaru, rupiah tercatat melemah ke kisaran Rp17.843 per dolar AS akibat sentimen global dan kondisi ekonomi yang masih menjadi perhatian pasar.
Pergerakan mata uang Garuda dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari ketegangan geopolitik internasional hingga perkembangan ekonomi Amerika Serikat.
Konflik AS-Iran Jadi Perhatian Investor
Tekanan terhadap rupiah salah satunya berasal dari meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap konflik geopolitik antara AS dan Iran.
Situasi tersebut membuat investor lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan, sehingga mendorong penguatan dolar AS sebagai aset yang dianggap lebih aman.
Meski demikian, perkembangan komunikasi antara kedua negara disebut mampu sedikit meredakan kekhawatiran terkait pasokan energi global.
Data Ekonomi AS dan Kebijakan Bank Sentral Jadi Sorotan
Selain faktor geopolitik, pasar juga menunggu sejumlah data ekonomi Amerika Serikat, termasuk laporan pertumbuhan ekonomi dan indikator inflasi.
Arah kebijakan moneter bank sentral AS juga menjadi perhatian karena dapat memengaruhi pergerakan dolar terhadap mata uang negara lain, termasuk rupiah.
Faktor Dalam Negeri Ikut Pengaruhi Rupiah
Dari sisi domestik, pergerakan rupiah dipengaruhi oleh kondisi inflasi nasional. Penyesuaian harga BBM nonsubsidi disebut menjadi salah satu faktor yang berpotensi memberikan tekanan terhadap harga barang dan jasa.
Kenaikan harga energi dapat berdampak pada inflasi melalui biaya produksi dan distribusi yang meningkat.
Ancaman El Nino dan Harga Pangan
Selain inflasi energi, pasar juga mencermati potensi gangguan cuaca akibat fenomena El Nino yang diperkirakan terjadi hingga beberapa bulan ke depan.
Kondisi tersebut berisiko memengaruhi produksi pangan dan mendorong kenaikan harga kelompok bahan pangan tertentu.
Rupiah Diperkirakan Masih Bergerak Fluktuatif
Dengan berbagai sentimen yang ada, rupiah diperkirakan masih bergerak dinamis dalam perdagangan berikutnya.
Investor akan terus memantau perkembangan global, kebijakan ekonomi AS, serta kondisi ekonomi dalam negeri yang menjadi faktor utama arah pergerakan nilai tukar.(*)











