SB– Fabio Di Giannantonio membagikan kisah unik di balik helm balap kesayangannya yang sempat hilang selama bertahun-tahun. Pembalap tim VR46 Ducati itu mengaku berhasil menemukan kembali helm tersebut setelah mengunggah sebuah foto di Instagram.
Meski baru saja turun ke peringkat kelima klasemen sementara MotoGP 2026 usai mengalami kecelakaan di GP Jerman di Sachsenring, Di Giannantonio tetap optimistis mampu bersaing dalam perebutan gelar juara dunia musim ini.
“Kalau saya bilang tidak ingin menjadi juara dunia, orang tua saya di rumah pasti marah dan tim juga akan mengusir saya. Semua pilihan dan komitmen yang saya jalani selalu mengarah pada satu tujuan, yaitu menjadi juara dunia,” ujar pembalap asal Italia itu.
Karier Di Giannantonio di kejuaraan dunia dimulai pada Moto3 musim 2015 bersama Gresini Honda. Ia berhasil menjadi runner-up Moto3 pada 2018 sebelum naik ke Moto2 bersama Speed Up. Setelah dua musim tanpa hasil memuaskan, ia kembali ke Gresini pada 2021.
Setahun kemudian, Di Giannantonio naik ke kelas MotoGP bersama Gresini Ducati. Meski sempat meraih kemenangan di GP Qatar 2023, masa depannya di MotoGP nyaris berakhir karena kesulitan mendapatkan kursi balap. Tim VR46 Racing akhirnya merekrutnya untuk musim 2024 dan menjadi titik balik dalam kariernya.
Pembalap berusia 27 tahun itu mengakui awal bergabung dengan VR46 terasa canggung karena sebelumnya ia menganggap akademi Valentino Rossi sebagai rival. Namun, hubungan tersebut perlahan berubah menjadi kerja sama yang solid.
“Saya menemukan orang-orang luar biasa di tim ini. Kami membangun hubungan yang sangat baik dan saya merasa ini adalah situasi terbaik sepanjang karier saya,” katanya.
Di Giannantonio juga mengungkapkan besarnya pengaruh Valentino Rossi terhadap gaya balapnya. Menurutnya, Rossi mengajarkan teknik berkendara yang lebih bersih dan efisien sehingga membantunya berkembang sebagai pembalap.
Selain itu, ia mengaku tersentuh saat menerima pesan dari legenda World Superbike, Carl Fogarty. Sebagai penggemar balap sejak kecil, perhatian dari idolanya menjadi pengalaman yang sangat berkesan.
Di Giannantonio juga berusaha membalas dukungan para penggemar muda dengan meluangkan waktu untuk bertemu dan memberikan tanda tangan. Baginya, hal itu mengingatkan pada masa kecil saat rela mengantre demi bertemu Troy Bayliss.
Mengenai risiko balapan, Di Giannantonio menegaskan bahwa setiap pembalap pasti memiliki rasa takut.
“Siapa pun yang mengatakan tidak pernah takut saat mengendarai motor balap, itu tidak benar. Rasa takut justru membantu kita memahami batas kemampuan dan membuat keputusan yang lebih rasional,” ujarnya.
Ia pun menegaskan keyakinannya bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk menjadi juara dunia jika terus berkembang dan bekerja keras.
Di akhir wawancara, Di Giannantonio menceritakan pengalaman tak terlupakan saat berhasil menemukan kembali helm balapnya yang hilang berkat media sosial.
“Saya mengunggah sebuah foto di Instagram. Asisten saya kemudian berkata, ‘Lihat, itu helmmu.’ Saya langsung mengenalinya dari stiker-stikernya. Orang yang menyimpannya sangat baik dan akhirnya mengembalikan helm tersebut. Sebagai bentuk terima kasih, saya menghadiahinya sebuah helm baru,” ungkap Di Giannantonio.
Saat ini Di Giannantonio berada di posisi kelima klasemen sementara MotoGP 2026 dengan koleksi 184 poin, terpaut 24 poin dari pemimpin klasemen, Jorge Martin.(*)









