JAKARTA, Signalberita.com – Kabar gembira bagi para mahasiswa Indonesia, Pemerintah Maroko menyatakan komitmennya untuk terus mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia melalui program beasiswa pendidikan. Selain mempertahankan sekitar 50 kuota beasiswa setiap tahun, Maroko juga membuka peluang penambahan kuota sesuai kebutuhan Indonesia.
Komitmen tersebut di sampaikan dalam pertemuan antara Duta Besar Maroko untuk Indonesia, Redouane Houssaini, dengan Menteri Agama Nasaruddin Umar di Kantor Kementerian Agama, Jakarta.
Maroko Siap Tambah Kuota Beasiswa
Dalam pertemuan itu, kedua belah pihak membahas penguatan kerja sama pendidikan, termasuk upaya mengatasi berbagai kendala administrasi yang selama ini menjadi hambatan bagi mahasiswa Indonesia yang ingin melanjutkan studi ke Maroko.
Houssaini menegaskan pemerintah Maroko siap mempertimbangkan peningkatan jumlah penerima beasiswa apabila terdapat kebutuhan dari Indonesia.
“Kami tetap menyediakan sekitar 50 beasiswa bagi mahasiswa Indonesia setiap tahun dan akan menyampaikan aspirasi Indonesia kepada pemerintah Maroko apabila di perlukan penambahan kuota,” ujarnya.
Kemenag Soroti Kendala Administrasi
Sementara itu, Menteri Agama Nasaruddin Umar mengungkapkan Indonesia sebelumnya secara rutin mengirim mahasiswa melalui program visiting student. Pada tahun lalu, Kementerian Agama mengirim 30 mahasiswa untuk mengikuti program magister dan doktoral di Maroko.
Namun, rencana pengiriman mahasiswa pada tahun ini belum dapat di realisasikan karena proses administrasi yang dinilai cukup rumit.
Menurut Nasaruddin, penyederhanaan persyaratan menjadi langkah penting agar lebih banyak mahasiswa Indonesia dapat memanfaatkan peluang pendidikan di Maroko.
Ia juga berharap kerja sama pendidikan antara kedua negara tidak hanya berfokus pada bidang studi keislaman, tetapi di perluas ke berbagai disiplin ilmu seperti teknik, sains, dan bidang strategis lainnya.
Program Bahasa Arab Jadi Solusi
Menanggapi hal tersebut, Houssaini mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Kementerian Urusan Islam Maroko untuk menyederhanakan sejumlah persyaratan administrasi. Upaya tersebut mendapat respons positif dan saat ini masih dalam tahap pembahasan.
Selain itu, kedua negara juga mengkaji program peningkatan kemampuan bahasa Arab bagi calon mahasiswa Indonesia. Salah satu opsi yang di bahas adalah menghadirkan pengajar bahasa Arab dari Maroko ke Indonesia agar peserta dapat mengikuti pelatihan selama tiga hingga enam bulan sebelum berangkat melanjutkan studi.
Program tersebut di harapkan mampu mempermudah proses adaptasi mahasiswa Indonesia sekaligus meningkatkan keberhasilan kerja sama pendidikan antara kedua negara di masa mendatang.(*)











