JAKARTA, Signalberita.com — Kondisi perdagangan aset kripto di Indonesia sepanjang Juli 2026 menunjukkan tingginya minat terhadap aset yang memiliki likuiditas besar.
Berdasarkan data PT Central Finansial X (CFX), bursa kripto berizin yang berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), terdapat lima aset kripto yang mencatat volume perdagangan terbesar selama 1–31 Juli 2026.
Kelima aset tersebut terdiri dari Tether (USDT), Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), Hyperliquid (HYPE), dan Solana (SOL).
Tether (USDT)
Tether (USDT) menempati posisi teratas sebagai aset kripto dengan volume perdagangan terbesar di Indonesia selama Juli 2026.
USDT merupakan stablecoin yang di rancang untuk mempertahankan nilai yang mendekati dolar Amerika Serikat dengan rasio 1:1. Aset ini tersedia di sejumlah jaringan blockchain, seperti Ethereum, Tron, dan Solana.
Tingginya aktivitas perdagangan USDT menunjukkan pentingnya peran stablecoin dalam ekosistem kripto Indonesia. Selain di gunakan untuk transaksi, USDT juga kerap di manfaatkan pelaku pasar sebagai tempat menyimpan likuiditas ketika tidak ingin mengambil risiko pada aset yang pergerakannya lebih volatil.
Bitcoin (BTC)
Bitcoin (BTC) berada di peringkat kedua berdasarkan volume perdagangan sepanjang Juli 2026.
Sebagai aset kripto pertama yang di perkenalkan pada 2009, Bitcoin hingga kini tetap menjadi aset dengan kapitalisasi pasar terbesar di industri kripto. Jaringannya menggunakan sistem terdesentralisasi dan memiliki batas suplai maksimum sebanyak 21 juta BTC.
Posisi Bitcoin di jajaran teratas menunjukkan bahwa aset kripto dengan kapitalisasi besar masih menjadi pilihan utama bagi sebagian trader dan investor Indonesia.
Ethereum (ETH)
Ethereum (ETH) menempati posisi ketiga dalam daftar aset kripto dengan volume perdagangan terbesar di Indonesia selama Juli.
Ini bukan hanya berfungsi sebagai aset digital, tetapi juga merupakan jaringan blockchain yang mendukung smart contract dan berbagai aplikasi terdesentralisasi.
Ekosistem Ethereum berkembang di berbagai sektor, termasuk decentralized finance (DeFi), tokenisasi aset, NFT, dan aplikasi berbasis blockchain. Besarnya ekosistem serta tingkat likuiditas ETH membuatnya tetap menjadi salah satu aset yang aktif diperdagangkan di pasar Indonesia.
Hyperliquid (HYPE)
Hyperliquid (HYPE) menjadi salah satu aset yang menarik perhatian karena berhasil masuk lima besar volume perdagangan kripto di Indonesia pada Juli 2026.
HYPE merupakan token asli dari ekosistem Hyperliquid, sebuah platform perdagangan terdesentralisasi yang berfokus pada aktivitas on-chain, termasuk perdagangan derivatif kripto.
Hyperliquid berupaya menghadirkan pengalaman perdagangan yang menyerupai bursa terpusat atau centralized exchange (CEX), sementara infrastrukturnya dibangun menggunakan teknologi on-chain.
Tingginya aktivitas perdagangan HYPE menunjukkan meningkatnya perhatian pasar terhadap perkembangan bursa terdesentralisasi atau DEX serta sektor perdagangan derivatif berbasis blockchain.
Solana (SOL)
Solana (SOL) berada di posisi kelima dalam daftar aset kripto dengan volume perdagangan terbesar di Indonesia selama Juli 2026.
SOL merupakan token asli jaringan Solana yang digunakan antara lain untuk membayar biaya transaksi dan mendukung aktivitas staking dalam ekosistemnya.
Jaringan Solana memiliki ekosistem yang mencakup DeFi, NFT, pembayaran, aplikasi konsumen, hingga perdagangan berbagai token dan memecoin.
Masuknya SOL bersama HYPE ke dalam lima besar memperlihatkan bahwa aktivitas perdagangan investor Indonesia tidak hanya terpusat pada aset kripto utama seperti USDT, Bitcoin, dan Ethereum, tetapi juga mencakup aset dari ekosistem blockchain yang berkembang.
Aktivitas Perdagangan Masih Didominasi Aset Likuid
Data perdagangan Juli 2026 memperlihatkan kombinasi antara aset yang sudah mapan dan aset yang berkembang di sektor blockchain.
USDT, BTC, dan ETH tetap mendominasi daftar melalui peran masing-masing sebagai stablecoin, aset kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar, dan fondasi utama ekosistem aplikasi blockchain. Sementara itu, masuknya HYPE dan SOL menunjukkan adanya minat terhadap perkembangan sektor perdagangan terdesentralisasi serta ekosistem blockchain alternatif.
Meski memiliki potensi, aset kripto merupakan instrumen dengan risiko tinggi. Pergerakan harga dapat berubah secara signifikan dalam waktu singkat sehingga keputusan investasi perlu didasarkan pada riset dan pemahaman terhadap risiko masing-masing aset.
Informasi mengenai aktivitas perdagangan bukan merupakan rekomendasi untuk membeli atau menjual aset kripto tertentu. Investor tetap perlu melakukan riset secara mandiri dan menggunakan platform aset kripto yang beroperasi secara legal serta sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Indonesia.(*)




















