Syair Tanpa Ditulis Tinta “Ilmu Menanggal Kesombongan”
Ada syair yang tidak ditulis dengan tinta,
melainkan dengan air mata seorang hamba.
Ketika dibaca, ilmu menanggalkan kesombongannya,
dan hati bersujud sebelum dahi menyentuh tanah.
Wahai hati, mengapa engkau mencari Tuhan
di kejauhan,
sedang setiap tarikan napasmu
adalah panggilan-Nya?”
Imam Ahmad terdiam.
Lalu air matanya jatuh perlahan,
bukan karena syair itu menyedihkan,
tetapi karena ada kebenaran
yang terlalu dalam untuk dijelaskan oleh kata-kata.
Ia telah mengenal banyak ilmu tentang Tuhan,
namun syair itu membawanya
dari pengetahuan menuju pengenalan,
dari lisan menuju hati,
dari banyak kata menuju satu kesadaran
bahwa Tuhan tidak pernah jauh.
Kita yang berjalan menjauh.
Kita yang tertutup oleh keinginan,
oleh nama, kedudukan, pujian,
bahkan oleh amal yang diam-diam
ingin kita miliki sebagai milik kita sendiri.
Maka syair itu seakan berbisik
“Jangan sibuk mencari cahaya
jika engkau masih memeluk bayang-bayangmu.
Lepaskan dirimu,
dan engkau akan menemukan
bahwa Dia telah menunggumu
di kedalaman yang paling sunyi dalam dirimu.”
Imam Ahmad menangis.
Sebab terkadang
air mata adalah bahasa terakhir
ketika hati telah sampai
pada sesuatu yang tak mampu dijelaskan oleh akal.
Dan mungkin,
itulah sebabnya manusia menangis ketika benar-benar mengenal Allah
Karena akhirnya sadar
bahwa selama ini Dia tidak pernah pergi.
Yang pergi hanyalah hati.
Dan ketika hati pulang,
ia tidak menemukan Tuhan di ujung perjalanan.
Ia menemukan-Nya
di setiap langkah yang membawanya pulang.
Barangkali seluruh perjalanan hidup kita
bukanlah perjalanan mencari Tuhan,
melainkan perjalanan panjang
agar hati kita akhirnya sadar
bahwa sejak awal
kita sedang dipanggil-Nya pulang.




















