JAKARTA, Signalberita.com – Google mulai menguji konsep pusat data berbasis satelit dengan membawa chip kecerdasan buatan (AI) ke luar angkasa. Eksperimen tersebut menjadi bagian dari proyek bernama Suncatcher, yang di gagas untuk mengembangkan infrastruktur komputasi AI di orbit Bumi.
Dalam tahap awal, Google mengirimkan empat chip Tensor Processing Unit (TPU) ke orbit menggunakan roket SpaceX dari California, Amerika Serikat. Eksperimen ini di rancang berlangsung sekitar satu tahun untuk mengetahui kemampuan chip tersebut beroperasi dalam kondisi lingkungan luar angkasa.
Google mengembangkan satelit prototipe tersebut bersama Planet Labs. Satelit di lengkapi panel surya sebagai sumber energi untuk menjalankan perangkat komputasi di dalamnya.
Bayangkan Data Center Berada di Orbit
Melalui proyek Suncatcher, Google membayangkan pembangunan jaringan satelit dalam jumlah besar yang saling terhubung dan di gunakan untuk menjalankan komputasi AI.
Salah satu alasan yang mendorong konsep tersebut adalah ketersediaan energi Matahari. Google memperkirakan panel surya yang di tempatkan di orbit tertentu dapat memperoleh paparan sinar Matahari lebih konsisten dibandingkan panel surya di permukaan Bumi.
Di Bumi, produksi energi surya di pengaruhi oleh atmosfer, cuaca, serta pergantian siang dan malam.
Travis Beals, Senior Director of Paradigms of Intelligence di Google, menyebut Matahari memiliki potensi energi yang sangat besar untuk mendukung kebutuhan komputasi di masa depan.
Google berencana mengembangkan satelit yang dapat di tempatkan pada sun-synchronous orbit, sehingga perangkat tersebut bisa mendapatkan paparan Matahari secara optimal.
Bisa Di gunakan untuk Pengolahan Data Satelit
Konsep data center di luar angkasa tidak hanya di tujukan untuk kebutuhan AI. Infrastruktur tersebut juga berpotensi di gunakan untuk mengolah data yang berasal dari satelit secara langsung.
Dengan pemrosesan di orbit, data hasil pengamatan satelit dapat dianalisis tanpa harus seluruhnya di kirim terlebih dahulu ke pusat data di Bumi.
Selain itu, pusat data orbital berpotensi di gunakan untuk kebutuhan penyimpanan data tertentu, termasuk data yang dianggap strategis oleh pemerintah.
Pendukung konsep ini juga melihat adanya potensi untuk mengurangi sejumlah persoalan yang dihadapi pusat data di darat, seperti kebutuhan lahan, pasokan energi, dan penolakan masyarakat terhadap pembangunan fasilitas data center berukuran besar.
Tantangan Besar Menanti
Meski menawarkan sejumlah kemungkinan, membangun pusat data di luar angkasa bukan perkara mudah.
Salah satu tantangan adalah kondisi ekstrem saat peluncuran. Google memperkirakan chip AI dapat menerima gaya hingga sekitar 100 kali gravitasi Bumi ketika roket membawa satelit menuju orbit.
Setelah berada di luar angkasa, perangkat juga harus menghadapi radiasi kosmik dan aktivitas Matahari yang dapat memengaruhi komponen elektronik.
Masalah lain adalah panas. Chip AI menghasilkan panas ketika melakukan pemrosesan komputasi. Sistem pendingin seperti yang di gunakan pada data center di Bumi tidak dapat di terapkan dengan cara yang sama di ruang angkasa.
Sebagai gantinya, satelit membutuhkan radiator untuk membuang panas ke lingkungan luar angkasa melalui radiasi inframerah.
John Abraham, profesor teknik mesin di University of St. Thomas, mengingatkan bahwa pengelolaan panas menjadi salah satu persoalan penting dalam pengembangan pusat data orbital.
Biaya Bisa Capai Ratusan Triliun Rupiah
Skala infrastruktur yang di butuhkan juga menjadi tantangan tersendiri.
Satelit prototipe Google saat ini berukuran kurang lebih sebesar kulkas. Namun, generasi berikutnya diperkirakan dapat membawa puluhan TPU dalam satu satelit.
Kebutuhan panel surya dan radiator pun akan meningkat drastis. Bahkan, radiator yang di butuhkan untuk satelit generasi mendatang di perkirakan dapat memiliki ukuran sangat besar.
Travis Beals memperkirakan sekitar 10.000 satelit di perlukan untuk membangun pusat data orbital berkapasitas 1 gigawatt.
Val Elbert dari Boston Consulting Group memperkirakan pembangunan sekaligus peluncuran pusat data berkapasitas tersebut saat ini dapat membutuhkan biaya sekitar US$30 miliar, atau sekitar Rp500 triliun dengan asumsi kurs Rp16.700 per dolar AS.
Penurunan biaya peluncuran roket di masa depan memang berpotensi membuat proyek tersebut lebih ekonomis. Namun, biaya pembangunan pusat data di orbit masih menjadi tantangan utama dibandingkan fasilitas yang dibangun di Bumi.
Google Siapkan Eksperimen Berikutnya
Google saat ini masih menunggu hasil pengujian terhadap empat TPU yang telah dikirim ke orbit.
Perusahaan membutuhkan waktu untuk mengetahui apakah chip tersebut mampu beroperasi dalam kondisi luar angkasa tanpa mengalami kerusakan dan apakah performanya tetap sesuai dengan hasil pengujian di Bumi.
Google juga telah menyiapkan tahap eksperimen berikutnya. Pada 2027, perusahaan berencana mengirim lebih banyak TPU menggunakan dua satelit yang saling terhubung.(*)




















