SERANG – Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau Ciujung Cidurian (BBWS C3), Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum, terus mengintensifkan penanganan kekeringan untuk menjaga ketersediaan air bagi sektor pertanian di Provinsi Banten.
Melalui Satuan Tugas (Satgas) Kekeringan, BBWS C3 melakukan berbagai langkah, mulai dari pengoperasian pompa air hingga pendistribusian air ke sejumlah wilayah pertanian yang mengalami keterbatasan pasokan air selama musim kemarau.
Upaya tersebut di lakukan untuk membantu petani mempertahankan produktivitas lahan, khususnya sawah tadah hujan yang masih memiliki potensi sumber air di sekitarnya.
Salah satu langkah penanganan di lakukan dengan menyediakan pompa air untuk mengalirkan air dari sumber terdekat menuju lahan pertanian.
Sementara itu, pada wilayah yang tidak memiliki sumber air memadai, BBWS C3 melakukan pendistribusian air guna memenuhi kebutuhan pengairan.
Dukungan tersebut antara lain menjangkau lahan pertanian seluas 40 hektare di Desa Cibitung, Kecamatan Munjul, serta 9 hektare di Desa Cimanis, Kecamatan Sobang, Kabupaten Pandeglang.
Berdasarkan data BBWS C3, sejak 25 Juli hingga 2 November 2026, penanganan kekeringan telah dilakukan di 31 lokasi terdampak yang tersebar di Kabupaten Tangerang, Pandeglang, dan Serang.
Dengan mengerahkan pompa berdiameter 3 hingga 6 inci, kegiatan pompanisasi dan pendistribusian air tersebut telah mendukung pengairan lahan pertanian dengan total luas mencapai 2.012 hektare.
Kepala BBWS C3, Dedi Yudha Lesmana, mengatakan penanganan kekeringan tersebut merupakan tindak lanjut arahan Menteri Pekerjaan Umum untuk memastikan kebutuhan air sektor pertanian tetap mendapat perhatian di tengah musim kemarau.
Menurutnya, BBWS C3 terus mengoptimalkan pemanfaatan sumber air alternatif, dukungan pompanisasi, serta koordinasi dengan pemerintah daerah dan kelompok tani agar penanganan dapat di sesuaikan dengan kondisi di lapangan.
“Penanganan kekeringan ini merupakan bentuk komitmen kami untuk memastikan kebutuhan air bagi lahan pertanian tetap di upayakan, terutama di wilayah yang mengalami keterbatasan pasokan air. Kami terus mengoptimalkan dukungan pompanisasi, memanfaatkan sumber air alternatif, serta berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan kelompok tani agar penanganan dapat di lakukan sesuai kebutuhan di lapangan,” ujar Dedi.
Manfaat penanganan tersebut juga di rasakan langsung oleh petani. Ibrohim, petani di Desa Tobat, Kabupaten Tangerang, mengaku sangat terbantu dengan penyediaan pompa air yang selama ini dinantikan Kelompok Tani Cariu II.
Ia mengatakan, ketersediaan air menjadi faktor penting bagi petani untuk kembali mengolah lahan dan melanjutkan kegiatan tanam yang sempat terkendala akibat kekeringan.
“Senang banget. Saya sendiri dari kemarin-kemarin mengharapkan ada air, dari mana saja ada air. Karena kalau tidak ada air, saya tidak bakal tanam lagi. Sekarang sudah ada air, merasa terbantu dan senang banget karena saya bisa tanam lagi,” ungkap Ibrohim.
BBWS C3 menyatakan akan terus mengoptimalkan layanan sumber daya air dan memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak guna mendukung kebutuhan pengairan pertanian, terutama ketika menghadapi ancaman kekeringan.
Masyarakat yang menemukan atau mengalami dampak kekeringan dapat menyampaikan laporan melalui hotline Satgas Kekeringan BBWS (*)


















