Pada masa keemasan Majapahit, ketika langit Nusantara di lukis dengan panji-panji kemenangan, berdirilah seorang lelaki teguh bernama Gajah Mada. Ia bukan darah biru. Ia lahir dari tanah, di besarkan oleh sumpah, dan tumbuh menjadi legenda.
Tidak akan aku makan buah palapa, katanya, Sebelum Nusantara bersatu di bawah Majapahit.
Dan seperti api yang tak pernah padam, ia menaklukkan kerajaan demi kerajaan. Bukan dengan pedang semata, tapi dengan strategi, diplomasi, dan keyakinan yang tak tergoyahkan. Dari Sumatra, Kalimantan, Bali, hingga ke timur jauh, nama Majapahit menjulang karena satu nama Gajah Mada.
Namun kejayaan tak datang tanpa bayang-bayang.
Dalam Peristiwa Bubat, Gajah Mada memerintahkan penghadangan rombongan Putri Dyah Pitaloka dari Sunda. Apa yang di maksudkan sebagai pernikahan politik, berubah menjadi tragedi berdarah. Raja Sunda gugur, dan rakyat Sunda menorehkan luka yang tak mudah hilang.
Sejak saat itu, nama Gajah Mada menjadi senyap. Ia mengundurkan diri, menghilang dari catatan resmi istana, seakan di telan bumi.
Beberapa berkata, ia mundur ke gunung, hidup sebagai pertapa, berteman sepi dan kabut, mencari penebusan dari ambisi yang melukai.
Yang lain percaya, ia wafat diam-diam di sebuah tempat sunyi, jauh dari singgasana, tanpa upacara megah, tanpa tugu peringatan.
Namun, benarkah Gajah Mada pernah benar-benar pergi?
Ia tak ada di catatan kematian.
Ia tak di makamkan di candi megah.
Tapi ia hidup dalam ingatan.
Dalam semangat menyatukan bangsa.
Prinsip teguh yang tak bisa dibeli.
Dalam setiap perjuangan untuk negeri ini.
Dan kini, setiap kali ada anak bangsa yang berkata:
“Aku akan menuntaskan sumpahku,”
di sanalah roh Gajah Mada kembali hidup.***









