JAMBI, SIGNALBERITA.COM – Suku Anak Dalam (SAD) Di hutan Merangin baru menjadi perhatian publik. Setelah penemuan Bilqis (4), korban penculikan, di tengah komunitas Suku Anak Dalam (SAD) di desa Mentawak, kabupaten Merangin, Jambi.
SAD, yang sering di kenal sebagai Orang Rimba, bukan sekadar komunitas yang “terisolasi”. Mereka adalah warisan etnografi hidup, menempuh rute nomaden mengikuti sungai dan musim. Menurut Dr. Hanafi, antropolog dari Universitas Jambi, “SAD adalah keturunan proto-Melayu, yang memilih hidup berpindah di hutan untuk menjaga identitas dan keselamatan dari kekuasaan kolonial maupun konflik kerajaan.”
Asal Usul: Dua Jejak Besar dalam Sejarah
Sejumlah peneliti menyebut asal-usul Suku Anak Dalam mengerucut pada dua teori besar:
1. Keturunan Pelarian Kerajaan Melayu Kuno
Sebagian antropolog berpendapat bahwa SAD merupakan keturunan masyarakat Melayu yang dahulu melarikan diri ke pedalaman akibat konflik politik atau peperangan antar-kerajaan.
Mereka memilih bertahan di hutan, menjaga pola hidup lama yang nyaris tak tersentuh modernisasi.
2. Kelompok Proto-Melayu Penjaga Rimba
Teori lain menyebut bahwa mereka merupakan kelompok Proto-Melayu yang sudah lebih dulu tinggal di Sumatra jauh sebelum kebudayaan Melayu berkembang pesat di pesisir.
Ciri fisik, bahasa, serta kepercayaan mereka disebut memiliki akar budaya yang lebih tua.
Kedua teori itu menyatu dalam satu kesimpulan: Suku Anak Dalam adalah bagian penting dari sejarah awal Sumatra, membawa jejak kebudayaan lama yang bertahan sampai hari ini.
Cara Hidup: Berpindah, Beradat, dan Hidup dari Rimba
SAD dikenal sebagai masyarakat semi-nomaden. Mereka berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain mengikuti musim, ketersediaan makanan, dan aturan adat.
Mereka hidup dari:
- Berburu babi hutan dan kijang
- Mengumpulkan rotan, damar, dan madu
- Mendirikan sudung (rumah sederhana dari daun dan kayu)
- Menjaga adat ketat seperti melangun—perpindahan setelah kematian anggota keluarga
Hutan bagi mereka bukan sekadar tempat tinggal, tetapi ruang hidup, sekolah, pasar, sekaligus kepercayaan.
Kepercayaan: Dewa Alam dan Roh Penjaga
SAD menganut kepercayaan animisme, mempercayai bahwa pohon, hewan, sungai, dan rimba memiliki roh masing-masing. Tokoh adat tertinggi, Temenggung, menjadi pengarah hidup, penjaga adat, sekaligus penentu keputusan penting seperti perpindahan, pernikahan, hingga penyelesaian konflik.
Gelombang Perubahan
Dalam 20 tahun terakhir, sebagian SAD sudah mulai menetap di daerah binaan pemerintah atau kelompok-kelompok masyarakat.
Ada yang bekerja sebagai petani karet, ada pula yang berjualan hasil hutan.
Namun sebagian lain menolak meninggalkan kehidupan lama.
Bagi mereka, rimba bukan masa lalu. Rimba adalah rumah
Bilqis: Peringatan bagi Publik
Kasus Bilqis bukan sekadar berita kriminal. Ia menjadi cermin eksistensi Suku Anak Dalam, komunitas yang hidup berdampingan dengan alam, namun tetap rentan terhadap ketidakpastian modern. Publik diingatkan bahwa di balik rimba Sumatra, ada manusia yang memelihara tradisi ribuan tahun—dengan cara mereka sendiri.
Di Merangin, rimba itu terus berdetak dengan cerita-cerita lama. Setiap langkah, setiap sungai, adalah sejarah yang bergerak, hidup, dan menunggu untuk dihargai.Bilqis: Peringatan bagi Publik
Kasus Bilqis bukan sekadar berita kriminal. Ia menjadi cermin eksistensi Suku Anak Dalam, komunitas yang hidup berdampingan dengan alam, namun tetap rentan terhadap ketidakpastian modern. Publik di ingatkan bahwa di balik rimba Sumatra, ada manusia yang memelihara tradisi ribuan tahun—dengan cara mereka sendiri.
Di Merangin, rimba itu terus berdetak dengan cerita-cerita lama. Setiap langkah, setiap sungai, adalah sejarah yang bergerak, hidup, dan menunggu untuk di hargai.(Tim)









