SIGNALBERITA.COM – Hongkong merupakan negara yang Harga bahan bakar mengalami kenaikan cukup tajam dan kini tercatat sebagai yang tertinggi di dunia. Warga harus membayar bensin setara RON 95 hingga sekitar Rp70.000 per liter, seiring lonjakan harga energi global.
Kenaikan ini di picu ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama setelah kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Iran yang memperburuk krisis energi. Dampaknya merambat ke pasar global, termasuk kawasan Asia yang sangat bergantung pada pasokan energi dari wilayah tersebut.
Selain faktor konflik, harga bensin di Hong Kong memang sejak lama tergolong paling mahal secara global. Situasi makin di perparah oleh gangguan distribusi energi, termasuk tekanan pada jalur strategis seperti Selat Hormuz yang menjadi jalur utama pengiriman minyak dunia.
Ketergantungan tinggi terhadap energi impor membuat kawasan Asia, termasuk Hong Kong, rentan terhadap fluktuasi harga. Meski demikian, pemerintah setempat menyatakan pasokan energi masih aman karena sebagian besar kebutuhan di penuhi dari daratan China.
Lonjakan harga ini mulai berdampak pada kehidupan sehari-hari. Biaya logistik meningkat, memicu potensi inflasi, dan menekan daya beli masyarakat. Sejumlah warga bahkan memilih mengisi bahan bakar di kota-kota daratan seperti Shenzhen yang menawarkan harga lebih murah.
Di sisi lain, mahalnya bahan bakar serta tingginya biaya kepemilikan kendaraan membuat tingkat kepemilikan mobil di Hong Kong tetap rendah. Kondisi ini ditopang oleh sistem transportasi publik yang relatif maju dan efisien.
Namun, para ekonom mengingatkan, jika tren kenaikan harga energi terus berlanjut, tekanan terhadap ekonomi kota bisa semakin besar, terutama pada sektor transportasi dan distribusi barang.***









