Signalberita.com – Pergerakan Harga Bitcoin Hari Ini kembali tertekan, hal ini setelah gagal mempertahankan posisinya di atas US$75.000. Pasar hari ini (2/6) mentransaksikan BTC di kisaran US$70.811, mencatat penurunan sekitar 4% dalam 24 jam terakhir. Di sisi lain, volume perdagangan justru melonjak hingga lebih dari 147%.
Di tengah dinamika pasar yang meningkat, para trader kini mengarahkan perhatian penuh pada area support US$69.000. Mereka menilai level ini sangat penting untuk menentukan arah pergerakan Bitcoin selanjutnya.
Investor Mulai Merealisasikan Kerugian

Data Glassnode menunjukkan bahwa pasar Bitcoin mulai kehilangan kekuatannya. Indikator Realized Profit/Loss Ratio yang merosot ke angka -0,87 menjadi sorotan utama.
Angka tersebut membuktikan bahwa mayoritas investor lebih memilih menjual aset dalam kondisi rugi daripada mengamankan keuntungan. Fenomena ini biasanya terjadi saat pasar kehilangan kepercayaan dan tekanan jual mulai memegang kendali.
Glassnode juga mencatat bahwa aliran modal baru ke dalam pasar melambat, sementara pasar spot justru mencatat peningkatan aktivitas jual dalam beberapa hari terakhir.
“Penjual masih mendominasi pasar spot. Investor menarik dana sekitar US$1,3 milar dari ETF Bitcoin, sementara aliran modal baru mulai mandek. Struktur pasar melemah dan momentum harga saat ini masih mengarah pada penurunan jangka pendek,” tulis Glassnode.
Aliran Dana Meninggalkan ETF Bitcoin
Keluarnya dana dari ETF Bitcoin spot turut memperburuk sentimen pasar. Data mingguan menunjukkan ETF Bitcoin mencatat net outflow sekitar US$1,27 miliar.
Arus keluar ini menandakan bahwa investor institusi—yang selama ini menjadi motor penggerak utama permintaan Bitcoin—mulai mengurangi minat beli mereka. Jika tren ini terus berlanjut, harga BTC akan kehilangan penopang utamanya.
Ancaman Likuidasi Mengintai Pasar
Meskipun harga Bitcoin merosot, pelaku pasar derivatif tetap mempertahankan funding rate di wilayah positif. Artinya, mayoritas trader masih membuka posisi long karena optimis harga akan berbalik menguat.
Namun, pilihan ini justru memperbesar risiko likuidasi massal jika harga terus merosot. Ketika pasar memaksa trader menutup posisi long mereka, hal itu akan menciptakan tekanan jual tambahan yang mempercepat kejatuhan harga.
Fokus Utama Menuju Support US$69.000
Dari sudut pandang teknikal, Bitcoin telah menembus ke bawah area support penting di kisaran US$73.800 hingga US$75.800. Kini, zona tersebut berubah fungsi menjadi area resistance yang harus ditembus kembali oleh Bitcoin untuk memicu pemulihan.
Saat ini, pasar mengalihkan fokus ke level US$69.000, sebuah titik yang sebelumnya berulang kali menjadi area konsolidasi penting.
-
Jika Bitcoin mampu mempertahankan support tersebut, aset ini berpeluang memicu pantulan harga jangka pendek.
-
Namun jika level tersebut jebol, para analis memproyeksikan koreksi lanjutan menuju area US$65.000 sebagai zona permintaan berikutnya.
Sementara itu, indikator Relative Strength Index (RSI) bertengger di sekitar level 31, mendekati wilayah jenuh jual (oversold). Kondisi ini memang bisa memicu rebound sementara, tetapi indikator Chaikin Money Flow (CMF) yang masih berada di bawah nol menunjukkan bahwa pasar belum mampu menghentikan aliran modal keluar.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, sejumlah indikator menegaskan bahwa tekanan bearish masih mencengkeram Bitcoin. Investor terus menjual rugi, ETF mencatat arus keluar dana berskala besar, dan momentum pasar kian melemah.
Dalam jangka pendek, para pelaku pasar menjadikan level US$69.000 sebagai acuan utama. Kemampuan Bitcoin menjaga support ini akan menentukan apakah harga mampu bangkit kembali atau justru terseret turun ke area yang lebih rendah.(*)









