JAKARTA, Signalberita.com – Pada Selasa (09/06), pergerakan Nilai tukar rupiah menunjukan tren positif terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Penguatan ini membuka peluang bagi rupiah untuk melanjutkan tren kenaikan, meskipun pasar masih menghadapi sejumlah tekanan dari kondisi ekonomi global.
Berdasarkan data perdagangan pasar spot, rupiah tercatat menguat 39,50 poin atau 0,22 persen ke level Rp18.148 per dolar AS pada pukul 12.25 WIB. Di waktu yang sama, indeks dolar AS melemah 0,10 persen ke posisi 99,947.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengatakan rupiah masih berpotensi melanjutkan penguatan dalam perdagangan mendatang. Namun, ruang kenaikan tersebut di perkirakan tetap terbatas.
“Jika rupiah kembali menguat, kemungkinan pergerakannya dapat terbatas hingga kisaran Rp17.800 per dolar AS,” ujar Ibrahim.
Pasar Menanti Data Inflasi AS
Sebelumnya, Ibrahim memperkirakan rupiah masih akan bergerak fluktuatif dan berpeluang melemah ke kisaran Rp18.180 hingga Rp18.230 per dolar AS.
Menurutnya, perhatian pelaku pasar saat ini tertuju pada rilis data inflasi Amerika Serikat berupa Indeks Harga Konsumen (CPI). Data tersebut akan menjadi salah satu indikator penting dalam menentukan arah kebijakan moneter AS ke depan.
Selain faktor eksternal, pergerakan rupiah juga di pengaruhi oleh kondisi ekonomi dalam negeri. Bank Indonesia mencatat cadangan devisa Indonesia mencapai US$144,9 miliar atau sekitar Rp2.590,2 triliun pada akhir Mei 2026.
Angka tersebut menurun di bandingkan posisi bulan sebelumnya yang tercatat sebesar US$146,2 miliar.
Kebutuhan Dolar AS Masih Jadi Perhatian
Ibrahim menjelaskan pemerintah perlu memperhatikan peningkatan kebutuhan dolar AS yang di pengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk kenaikan harga minyak mentah global akibat ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Kenaikan harga energi tersebut dapat meningkatkan kebutuhan impor bahan bakar dan berpotensi memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Meski demikian, penguatan rupiah saat ini menunjukkan adanya sentimen positif dari pasar. Investor masih memantau perkembangan ekonomi global, kebijakan suku bunga Amerika Serikat, serta kondisi pasar keuangan sebelum mengambil keputusan investasi.
Dengan dukungan sentimen positif dan pergerakan dolar AS yang melemah, rupiah masih memiliki peluang untuk mempertahankan tren penguatan dalam beberapa waktu ke depan.***









