SB – Timnas Mesir datang ke Piala Dunia 2026 dengan membawa harapan besar untuk mengakhiri catatan buruk mereka di ajang sepak bola terbesar dunia.
Meski berstatus sebagai salah satu negara tersukses di Afrika dengan tujuh gelar Piala Afrika, Mesir belum pernah meraih kemenangan dalam sejarah penampilannya di putaran final Piala Dunia.
Sorotan utama tertuju kepada Mohamed Salah yang memasuki turnamen sebagai pemimpin skuad sekaligus simbol kebangkitan sepak bola Mesir. Pada usia 33 tahun, Salah memiliki kesempatan untuk mencatatkan warisan bersejarah dengan membawa negaranya melangkah lebih jauh dibanding edisi-edisi sebelumnya.
Mesir menjalani persiapan matang dengan menjadikan Spokane, Washington, sebagai markas selama fase grup. Dukungan fasilitas latihan yang memadai, jarak perjalanan yang relatif singkat, serta performa impresif selama babak kualifikasi menjadi modal penting bagi pasukan Hossam Hassan.
Namun demikian, sejarah masih menjadi tantangan besar. Sejak debut di Piala Dunia 1934, Mesir belum pernah memenangkan satu pertandingan pun dan belum pernah lolos ke fase gugur. Rekor tersebut menjadi motivasi tambahan bagi skuad untuk menciptakan sejarah baru di Piala Dunia 2026.
Di sisi lain, hubungan positif antara pelatih Hossam Hassan dan Mohamed Salah menjadi salah satu faktor yang memperkuat suasana tim. Meski sempat memiliki perbedaan pandangan di masa lalu, keduanya kini bersatu demi membawa Mesir meraih prestasi terbaik.
Bagi Mohamed Salah, Piala Dunia 2026 juga menjadi kesempatan untuk melengkapi warisan karier internasionalnya.
Hingga saat ini, ia belum pernah mempersembahkan trofi bagi Timnas Mesir. Karena itu, performa Salah akan menjadi kunci dalam upaya Mesir mematahkan rekor buruk dan mencetak sejarah baru di panggung dunia.(*)









