JAKARTA, Signalberita.com — Di tengah pergerakan pasar saat ini Perak dan Bitcoin keduanya memunculkan pertanyaan, mana yang memiliki peluang kenaikan lebih besar hingga 2028?
Berdasarkan data yang di kutip dari CoinMarketCap, harga perak pada Agustus 2026 berada di kisaran US$64–US$66 per ounce. Sementara itu, Bitcoin diperdagangkan di sekitar US$62.000–US$64.000.
Perbandingan prospek kedua aset tersebut juga di analisis menggunakan tiga model kecerdasan buatan (AI), yakni Grok, ChatGPT, dan Claude. Meski memiliki pendekatan berbeda dalam menilai risiko, ketiganya melihat adanya peluang pertumbuhan baik pada perak maupun Bitcoin hingga 2028.
Harga Perak Masih Bertahan di Level Tinggi
Perak mengalami kenaikan signifikan sejak 2025. Harga komoditas tersebut mengawali 2025 di bawah US$30 per ounce, kemudian melonjak sekitar 145–150 persen dan sempat berada di kisaran US$71–US$72 pada akhir tahun.
Pergerakan positif berlanjut pada awal 2026. Harga perak bahkan sempat menembus kisaran US$90 hingga lebih dari US$120, tergantung pada acuan harga spot maupun kontrak berjangka.
Namun, reli tersebut tidak berlangsung tanpa koreksi. Harga perak kembali turun ke sekitar US$70 dan kemudian menyentuh kisaran US$56–US$58 pada Juni 2026.
Setelah tekanan jual mereda dan minat beli kembali muncul, harga perak pulih ke kisaran US$64–US$66 pada Agustus.
Meski terkoreksi, level tersebut masih jauh lebih tinggi di bandingkan posisi perak sebelum reli besar pada 2025.
Permintaan Industri Jadi Penopang Perak
Salah satu faktor yang dapat mendukung harga perak hingga 2028 adalah permintaan dari sektor industri.
Perak banyak di gunakan dalam berbagai kebutuhan industri karena memiliki kemampuan menghantarkan listrik yang sangat baik. Perkembangan kendaraan listrik, energi bersih, serta pembangunan pusat data berpotensi meningkatkan kebutuhan terhadap logam tersebut.
Di sisi lain, pasokan perak tidak mudah meningkat dalam waktu singkat. Sebagian besar produksi perak berasal dari tambang yang menjadikan tembaga, seng, atau timbal sebagai komoditas utama.
Artinya, kenaikan harga perak tidak serta-merta membuat produksi meningkat secara cepat.
Namun, perak tetap memiliki risiko. Jika aktivitas industri melemah, permintaan manufaktur dapat ikut turun. Peningkatan aktivitas daur ulang juga berpotensi menambah pasokan ke pasar.
Bitcoin Masih Berusaha Pulih
Kondisi berbeda terjadi pada Bitcoin.
Bitcoin mengawali 2025 di sekitar US$94.000 dan kemudian mencapai rekor sekitar US$126.198 pada Oktober 2025. Kenaikan tersebut antara lain di dukung meningkatnya permintaan institusional dan perkembangan kebijakan kripto di Amerika Serikat.
Setelah mencapai rekor, Bitcoin mengalami tekanan akibat kondisi pasar dan aksi likuidasi besar-besaran. Harga kemudian mengakhiri 2025 di sekitar US$87.000.
Pada Januari 2026, Bitcoin sempat kembali berada di kisaran US$92.000–US$95.000. Namun, kondisi ekonomi yang lebih ketat serta melemahnya permintaan institusional membuat aset kripto tersebut kesulitan kembali mencetak rekor.
Tekanan jual kemudian berlanjut hingga pertengahan 2026. Arus dana keluar dari spot Bitcoin ETF serta aksi jual sejumlah perusahaan pertambangan turut memberikan tekanan.
Pada Agustus 2026, Bitcoin bergerak di kisaran US$62.000–US$64.000.
Dari posisi tersebut, Bitcoin membutuhkan kenaikan hampir 100 persen untuk kembali mencapai rekor Oktober 2025.
Apa yang Bisa Mendorong Bitcoin hingga 2028?
Ada sejumlah faktor yang berpotensi memengaruhi pergerakan Bitcoin dalam dua tahun mendatang.
Beberapa di antaranya adalah:
meningkatnya arus dana ke spot Bitcoin ETF;
bertambahnya pembelian Bitcoin oleh perusahaan;
penurunan suku bunga dan meningkatnya likuiditas global;
bertambahnya cadangan Bitcoin yang di miliki pemerintah;
regulasi aset kripto yang semakin jelas;
meningkatnya partisipasi investor institusional.
Namun, Bitcoin juga menghadapi tantangan dari sisi industri pertambangan.
Setelah halving 2024 mengurangi imbalan blok, penambang harus menghadapi biaya listrik dan komputasi yang lebih tinggi. Kondisi tersebut dapat memberikan tekanan tambahan terhadap pelaku industri apabila harga Bitcoin berada di bawah biaya produksi.
Proyeksi Perak hingga 2028
Sejumlah proyeksi yang disebut dalam analisis tersebut menunjukkan harga perak berpotensi mengalami pertumbuhan moderat hingga 2028.
RBC Capital Markets memperkirakan harga perak dapat berada di sekitar US$80 per ounce. Sementara LongForecast memproyeksikan kisaran sekitar US$73,57–US$91,62.
Adapun CoinDCX memperkirakan harga berada di kisaran US$65–US$82.
Jika menggunakan harga US$64 sebagai titik awal, kenaikan menuju US$92 berarti sekitar 44 persen.
Sementara untuk menghasilkan kenaikan 100 persen dari level US$64, harga perak harus mencapai sekitar US$128 per ounce.
Perak atau Bitcoin, Mana yang Lebih Cuan?
Dari sisi potensi keuntungan, Bitcoin memiliki ruang kenaikan yang lebih besar apabila mampu kembali mendekati atau bahkan melampaui rekor sebelumnya.
Namun, potensi keuntungan yang besar juga datang bersama risiko volatilitas yang jauh lebih tinggi.
Perak cenderung memiliki karakter berbeda karena dipengaruhi oleh permintaan industri, kondisi ekonomi global, pasokan tambang, serta aktivitas investasi pada komoditas.
Dengan demikian, tidak tepat menyebut salah satu aset sebagai pilihan terbaik untuk semua investor.
Bitcoin menawarkan potensi pertumbuhan lebih agresif tetapi dengan volatilitas tinggi, sedangkan perak cenderung memiliki karakter sebagai aset komoditas dengan dukungan permintaan industri.
Investor yang mempertimbangkan kedua aset tersebut sebaiknya tidak hanya melihat target harga. Faktor seperti toleransi risiko, jangka waktu investasi, kondisi pasar, dan kemampuan menanggung potensi kerugian juga perlu diperhitungkan.(*)




















