JAKARTA, Signalberita.com – Angka obesitas Indonesia sebesar 11,52 persen belakangan ramai di perbincangkan setelah muncul dalam pemeringkatan obesitas global. Dalam daftar tersebut, Indonesia terlihat memiliki prevalensi lebih rendah di bandingkan sejumlah negara seperti Denmark dan Swiss.
Namun, angka tersebut tidak dapat langsung di anggap sebagai gambaran terbaru kondisi obesitas masyarakat Indonesia. Perbedaan metode pengukuran dan batas indeks massa tubuh (IMT) menjadi salah satu alasan munculnya perbedaan angka dengan data kesehatan nasional.
Angka 11,52 Persen Bukan Data Tahun 2025
Angka 11,52 persen yang beredar tersebut merupakan estimasi prevalensi obesitas Indonesia pada 2022, bukan hasil survei langsung pada 2025.
Data tersebut berasal dari estimasi NCD Risk Factor Collaboration (NCD-RisC) yang di gunakan dalam pemeringkatan World Obesity Federation (WOF). Estimasi tersebut di susun berdasarkan berbagai penelitian populasi dari sejumlah negara.
NCD-RisC menggunakan data dari ribuan penelitian yang melibatkan ratusan juta peserta untuk memperkirakan prevalensi obesitas di berbagai negara dan wilayah selama periode 1990 hingga 2022.
Karena itu, angka 11,52 persen lebih tepat di pahami sebagai hasil estimasi berdasarkan model statistik, bukan angka hasil survei kesehatan nasional terbaru Indonesia.
Perbedaan Batas IMT
Perbedaan angka juga dipengaruhi oleh definisi obesitas yang digunakan. Estimasi NCD-RisC menggunakan batas IMT 30 kg/m² atau lebih untuk mengategorikan seseorang sebagai obesitas pada orang dewasa. Sementara itu, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menggunakan batas IMT 27 kg/m² atau lebih untuk indikator obesitas pada penduduk berusia lebih dari 18 tahun.
Perbedaan batas tersebut membuat jumlah orang yang masuk dalam kategori obesitas dapat berbeda. Batas IMT yang lebih rendah akan memasukkan lebih banyak orang ke dalam kategori tersebut.
Data SKI 2023 Capai 23,4 Persen
Berdasarkan SKI 2023, prevalensi obesitas pada penduduk Indonesia berusia lebih dari 18 tahun mencapai 23,4 persen. Angka ini meningkat di bandingkan prevalensi pada 2018 yang tercatat sebesar 21,8 persen.
Data SKI memiliki tujuan untuk menggambarkan kondisi kesehatan masyarakat Indonesia berdasarkan survei nasional. Sementara data NCD-RisC digunakan untuk menghasilkan estimasi yang memungkinkan perbandingan antarnegara.
Dengan perbedaan metode tersebut, angka 11,52 persen dan 23,4 persen tidak dapat di bandingkan secara langsung sebagai dua angka yang mengukur hal yang sama.
WOF Memiliki Estimasi Lebih Baru
Selain data 2022 yang menghasilkan angka 11,52 persen, WOF juga mencantumkan estimasi yang lebih baru.
Dalam data WOF 2024, prevalensi obesitas Indonesia tercatat sebesar 12,14 persen. Meski demikian, angka tersebut tetap merupakan estimasi berdasarkan metodologi yang di gunakan WOF dan bukan pengganti hasil survei kesehatan nasional Indonesia.
Karena itu, masyarakat perlu lebih cermat ketika menemukan peringkat prevalensi obesitas di media sosial. Tahun data, sumber penelitian, kelompok usia, metode penghitungan, serta batas IMT merupakan sejumlah hal penting yang perlu diperhatikan.
Untuk melihat kondisi obesitas berdasarkan survei kesehatan nasional, SKI 2023 dengan angka 23,4 persen menjadi salah satu rujukan yang relevan untuk memahami kondisi obesitas pada penduduk dewasa Indonesia.(*)




















