KERINCI, SB – Dinas Kesehatan kabupaten Kerinci bersama dengan Puskesmas di kabupaten Kerinci terus melakukan upaya dalam pencegahan dan menekan angka kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di setiap desa di kabupaten Kerinci.
Berbagai upaya terus dilaksanakan Dinas Kesehatan kabupaten Kerinci, mulai dari pelaksanaan Sosialisasi ke masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan yang bersih, kemudian penaburan Abate dan pelaksanaan Fogging.
Kepala Dinas Kesehatan kabupaten, Hermendizal, pada Rabu (18/09/2024) menyampaikan bahwa pada awal hingga pertengahan tahun 2024 kasus DBD di kabupaten Kerinci sedikit mengalami kenaikan capai 51 kasus di bulan Februari lalu.
“Berbagai upaya penanganan kita laksanakan, menindak lanjuti surat edaran PJ Bupati dan mengeluarkan surat Edaran Dinas ke masing-masing Puskesmas tentang himbauan kewaspadaan Kasus DBD, termasuk petugas keliling menghimbau untuk jaga kebersihan lingkungan,”jelasnya.
Selain menindak lanjuti surat edaran tersebut, lanjut Hermendizal, pihaknya juga melakukan sosialisasi penyuluhan ke masyarakat untuk menghimbau agar menjaga kebersihan lingkungan, Pemberantasan sarang nyamuk (PSN), terutama tempat bintik nyamuk.
“Kita sudah turun ke desa sosialisasi tentang Pemberantasan sarang nyamuk (PSN), dengan langsung mendatangi rumah yang terindikasi DBD dan menaburkan serbuk Abate di tempat genangan air,”jelasnya.
Dari proaktif proses penanganan kasus DBD, kata Hermendizal, pada bulan Agustus ini kasus DBD di kabupaten Kerinci mengalami penurunan cukup signifikan yang tersisa 8 kasus. “Alhamdulillah setiap bulan mengalami penurunan, Agustus tinggal 8 kasus yang sebelumnya 33 kasus bulan Juli. Kalau September belum ada data karena laporan dari puskesmas setiap akhir bulan,”ucapnya.
Disinggung banyaknya masyarakat yang meminta Dinas Kesehatan untuk melakukan Fogging ke desa, menurutnya pelaksanaan Fogging bukan merupakan solusi Utama untuk memberantas nyamuk Aedes di desa.Â
“Sebenarnya Fogging itu bukan solusi yang tepat, karena Fogging itu hanya membunuh nyamuk dewasa saja, sedangkan bintiknya tidak mati, sehingga bintiknya mendatangkan nyamuk kembali. Tindakan yang tepat itu Bersih lingkungan dari sampah dan genangan air dan taburkan Abate,”sebutnya.
Namun, dalam kondisi yang membutuhkan, Kata Hermendizal, pihak petugas dari dinas kabupaten Kerinci juga melakukan Fogging di lingkungan masyarakat. “Kita juga ada melakukan Fogging ke beberapa desa di Kerinci termasuk diwilayah puskesmas Sungai Tutung. Seperti di Sungai Abu petugas kita juga ada melakukan turun melakukan penyuluhan dengan membagikan Abate,”terangnya.
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Hermizan, bahwa untuk kasus DBD pada periode Agustus dan September terjadi penurunan.
“Sebenarnya data yang kita dapat data per Agustus dan September ini menurun data sebelumnya, kalau sebelumnya ada sekitar 5 dalam 1 desa, tapi ini ada paling 1 kasus. cuma sekarang tidak juga mengkhawatirkan,”ungkapnya.
Ditanya terkait dengan adanya indikasi 5 kasus DBD yang dialami warga desa Sungai Abu ? Kata Hermizan, pihaknya sudah menurunkan petugas Puskesmas untuk melakukan penyelidikan ke desa tersebut, untuk tindaklanjutnya.
“Mungkin data dari rumah sakit yang menentukan, saat dirawat di rumah sakit dicek labor terjadi penurunan trombosit, kalau ada penurunan trombosit disangkakan DBD. Penentuan trombosit turun, masih suspek, nanti petugas kita cek lagi yang pernah dirawat indikasi DBD,”jelasnya.
Menurutnya penanganan DBD Sudah dilakukan sesuai prosedur dan hasil penyelidikan kasus di lokasi penderita oleh tim kesehatan Puskesmas terkait tindakan penanganan kasus DBD tidak mutlak fogging, yang lebih penting adalah Pemberantasan sarang nyamuk(PSN) dan upaya bebas jentik di lingkungan masyarakat melalui Abate.
“Tindakan Fogging itu tidak begitu jadi prioritas penanganan DBD, karena hanya mengejar nyamuk dewasa, yang paling penting pencegahan dengan memberantas sarang nyamuk dengan Abate, karena Fogging itu tidak menyelesaikan masalah,”pungkasnya.(Fra)









