Signalberita.com – Badan Gizi Nasional (BGN) Nusa Tenggara Timur terus mempercepat pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di sejumlah wilayah, termasuk Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada. Langkah ini di lakukan untuk memastikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat segera menjangkau lebih banyak penerima manfaat, mulai dari siswa, ibu hamil, hingga ibu menyusui.
Kepala Regional BGN NTT, Oswaldus Ngani, saat meninjau pembangunan dapur MBG di Riung, mengatakan pihaknya menargetkan layanan program tersebut mulai berjalan pada Juli 2026. Karena itu, pembangunan berbagai fasilitas pendukung terus di pacu agar sesuai jadwal yang telah di tetapkan.
Menurut Oswaldus, wilayah Riung di rencanakan memiliki enam dapur MBG yang terdiri atas tiga SPPG daerah terpencil dan tiga dapur aglomerasi. Dapur aglomerasi dirancang untuk melayani lebih dari 1.000 penerima manfaat dalam satu kawasan pelayanan.
Ia menjelaskan bahwa keberhasilan program MBG tidak hanya bergantung pada kesiapan dapur dan tenaga pelaksana, tetapi juga membutuhkan dukungan masyarakat sekitar, terutama dalam penyediaan bahan baku pangan.
BGN mendorong para petani lokal untuk mengambil peran sebagai pemasok utama kebutuhan dapur MBG, seperti sayuran, buah-buahan, telur, dan berbagai bahan pangan bergizi lainnya. Dengan keterlibatan petani setempat, rantai pasok di harapkan lebih stabil sekaligus mampu meningkatkan perekonomian masyarakat.
Selain menjadi pemasok bahan baku, masyarakat juga di dorong untuk berpartisipasi sebagai relawan dalam mendukung operasional program MBG di daerah masing-masing.
“Dapur MBG hanya bisa berjalan optimal apabila pasokan bahan baku tersedia secara berkelanjutan dan stabil,” ujar Oswaldus.
Pemkab Ngada Percepat Realisasi SPPG
Sementara itu, Wakil Bupati Ngada, Bernadinus Dhey Ngebu, mengungkapkan bahwa dari total alokasi 35 SPPG untuk Kabupaten Ngada, saat ini sudah terdapat sembilan unit yang beroperasi.
Pemerintah daerah terus melakukan koordinasi dengan masyarakat, pihak ketiga, serta penyedia lahan guna mempercepat pembangunan dapur MBG yang masih dalam tahap persiapan.
Bernadinus juga mengajak masyarakat untuk memanfaatkan peluang ekonomi yang muncul dari program MBG dengan meningkatkan produksi pertanian dan peternakan. Menurutnya, kebutuhan bahan baku dalam jumlah besar akan membuka pasar baru bagi petani lokal.
Ia berharap masyarakat mulai menanam dan mengembangkan komoditas pertanian yang di butuhkan oleh dapur MBG agar manfaat program tidak hanya di rasakan penerima makanan bergizi, tetapi juga mampu menggerakkan ekonomi desa.
Dengan semakin banyaknya dapur MBG yang di bangun di NTT, keterlibatan petani dan masyarakat lokal menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan program sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.***









