SIGNALBERITA.COM – Saat ini sejumlah pelaku usaha mulai dari brand lokal dan pelaku UMKM kini mulai mengurangi ketergantungan pada marketplace seperti Shopee dan TikTok Shop karena biaya layanan platform di nilai semakin tinggi.
Brand lokal tinggalkan marketplace 2026 ini ini membuat banyak pelaku usaha mulai mencari strategi baru agar bisnis tetap bertahan dan keuntungan tidak terus tergerus biaya operasional digital.
Brand Lokal Tinggalkan Tarketplace 2026
Dalam beberapa tahun terakhir, marketplace memang menjadi tempat utama pelaku usaha menjual produk secara online. Namun kini tren mulai berubah.
Akibat brand lokal tinggalkan marketplace 2026 ini Banyak brand lokal mulai membangun website sendiri, memperkuat penjualan melalui media sosial, live shopping, hingga menerapkan sistem direct-to-consumer (D2C) atau penjualan langsung ke pelanggan.
Strategi ini di nilai memberi keuntungan lebih besar karena pelaku usaha bisa mengontrol harga, data pelanggan, hingga pengalaman belanja konsumen secara langsung tanpa terlalu bergantung pada algoritma marketplace.
Selain itu, pelaku usaha juga bisa membangun identitas brand yang lebih kuat melalui kanal penjualan milik sendiri.
Biaya Marketplace Di nilai Semakin Membebani Seller
Meningkatnya biaya layanan di marketplace menjadi salah satu alasan utama banyak seller mulai mencari alternatif lain.
Seller mengeluhkan tingginya biaya admin, komisi penjualan, biaya layanan, hingga kewajiban memasang iklan agar produk tetap muncul di pencarian teratas.
Persaingan harga yang semakin agresif juga membuat margin keuntungan pelaku usaha terus menipis, terutama bagi UMKM dengan keuntungan produk yang relatif kecil.
Tanpa promosi berbayar, banyak produk sulit bersaing karena jumlah seller di marketplace semakin banyak.
Akibatnya, sebagian pelaku usaha memilih menaikkan harga produk atau mengurangi keuntungan demi tetap bertahan di tengah persaingan digital yang semakin ketat.
Marketplace Masih Jadi Kanal Penting
Meski banyak brand mulai membangun penjualan mandiri, marketplace tetap memiliki peran besar dalam ekosistem e-commerce Indonesia.
Platform seperti Shopee dan TikTok Shop masih menawarkan jutaan pengguna aktif, sistem pembayaran terintegrasi, logistik cepat, hingga perlindungan transaksi yang memudahkan konsumen maupun seller.
Bagi UMKM baru, marketplace masih menjadi pintu utama untuk menjangkau pasar nasional tanpa modal besar.
Karena itu, sebagian besar pelaku usaha belum sepenuhnya meninggalkan marketplace. Mereka justru mulai menerapkan strategi multichannel dengan tetap berjualan di marketplace sambil membangun website dan media sosial secara bertahap.
Tren Omnichannel Jadi Strategi Baru UMKM
Tren omnichannel kini menjadi strategi utama banyak brand lokal di Indonesia.
Melalui pendekatan ini, pelaku usaha memanfaatkan berbagai kanal penjualan sekaligus seperti marketplace, website resmi, media sosial, live commerce, hingga toko offline.
Perubahan perilaku konsumen juga menjadi faktor penting. Saat ini pembeli bisa menemukan produk lewat media sosial, melihat ulasan di marketplace, lalu melakukan transaksi langsung melalui website resmi brand.
Strategi omnichannel membantu bisnis menjadi lebih fleksibel dan tidak terlalu bergantung pada satu platform tertentu.
Website Sendiri Mulai Jadi Pilihan
Banyak brand kini mulai serius membangun website resmi sebagai pusat penjualan utama.
Selain mengurangi potongan biaya platform, website sendiri memberi kebebasan dalam mengatur tampilan toko, promosi, hingga pengalaman pelanggan.
Website juga dianggap mampu meningkatkan kredibilitas bisnis sekaligus menjadi aset digital penting dalam jangka panjang.
Namun demikian, membangun website tetap membutuhkan strategi pemasaran yang kuat. Pelaku usaha harus aktif memanfaatkan SEO, media sosial, influencer, hingga iklan digital agar trafik pengunjung terus meningkat.
Pemerintah Pastikan Ekosistem Digital Tetap Tumbuh
Pemerintah menilai perpindahan seller dari marketplace tidak akan menghambat pertumbuhan perdagangan digital nasional.
Pelaku usaha disebut akan memilih kanal penjualan paling efisien sesuai kebutuhan bisnis masing-masing.
Karena itu, pemerintah terus mendorong keseimbangan antara keberlanjutan platform digital dan kemampuan UMKM untuk berkembang sehat di tengah persaingan industri e-commerce yang semakin kompetitif.
Persaingan E-Commerce Diprediksi Semakin Ketat
Industri e-commerce Indonesia di perkirakan tetap tumbuh pesat pada 2026. Namun persaingan antar platform maupun seller di prediksi semakin agresif.
Marketplace akan terus menghadirkan fitur baru seperti live commerce, logistik cepat, hingga integrasi AI untuk mempertahankan pengguna.
Di sisi lain, brand lokal mulai fokus membangun komunitas pelanggan sendiri agar tidak sepenuhnya bergantung pada platform marketplace.
Fenomena ini menunjukkan bahwa industri perdagangan digital Indonesia mulai memasuki fase yang lebih matang, di mana pelaku usaha tidak hanya mengejar trafik besar, tetapi juga fokus pada profitabilitas dan keberlanjutan bisnis jangka panjang.
Kesimpulan
Fenomena brand lokal yang mulai mengurangi ketergantungan terhadap marketplace menunjukkan perubahan strategi bisnis digital di Indonesia.
Marketplace seperti Shopee dan TikTok Shop masih memiliki peran penting dalam perdagangan online nasional. Namun banyak brand kini semakin sadar pentingnya memiliki kanal penjualan mandiri agar bisnis lebih stabil dan menguntungkan dalam jangka panjang.
Tren omnichannel di perkirakan akan terus berkembang, dan pelaku usaha yang mampu memadukan marketplace, media sosial, website, serta penjualan langsung kemungkinan akan lebih unggul menghadapi persaingan digital di masa depan.***









