KERINCI, SIGNALBERITA.COM – Menyusutnya air Danau Kerinci beberapa pekan terakhir, menjadi viral di media sosial dan masyarakat. Pasalnya salah satu penyebab di kabarkan karena uji coba turbin PLTA di Danau Kerinci.
Hal ini menuai sorotan Pemerhati lingkungan Kerinci–Sungai Penuh, Yose Chua. Dia mempertanyakan uji coba pengaliran turbin Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang berlangsung pada 1–16 Januari 2026. Yose menilai klaim bahwa hanya satu dari tiga pintu air yang di buka setinggi 20 sentimeter selama masa uji coba tidak serta-merta meniadakan dampak terhadap lingkungan.
Menurut Yose, di lapangan terjadi penyusutan signifikan volume air Danau Kerinci, yang selama ini menjadi sumber utama pasokan air PLTA sekaligus penopang ekosistem dan kehidupan sosial masyarakat sekitar. Ia menegaskan Danau Kerinci memiliki fungsi ekologis yang tidak dapat di pisahkan dari keberlanjutan lingkungan dan ekonomi warga.
“Danau Kerinci bukan sekadar wadah air untuk kepentingan turbin. Ia merupakan ekosistem hidup yang menopang biodiversitas, perikanan rakyat, dan keseimbangan lingkungan,” kata Yose.
Ia menjelaskan, penurunan muka air dalam waktu singkat berpotensi merusak habitat ikan, mengganggu siklus biologis, menurunkan kualitas air, serta memicu ketidakseimbangan ekologi yang dampaknya sulit di pulihkan dalam waktu dekat.
Selain dampak ekologis, Yose mempertanyakan wacana pemberian kompensasi kepada masyarakat terdampak. Menurut dia, kompensasi finansial tidak dapat menggantikan kerusakan ekosistem yang terjadi. Yose juga menilai belum ada kejelasan mengenai mekanisme kompensasi maupun rencana pemulihan lingkungan.
Yose menyoroti belum adanya informasi terbuka terkait rencana rehabilitasi lingkungan atau langkah mitigasi atas potensi kerusakan akibat uji coba turbin. Ia juga mengkritik proses uji coba yang di nilai di lakukan tanpa sosialisasi dan persetujuan masyarakat.
Menurut Yose, kebijakan teknis yang berdampak langsung pada ruang hidup publik seharusnya melibatkan warga secara aktif. Ia menilai pelaksanaan uji coba tanpa partisipasi publik mencerminkan pendekatan pembangunan yang mengabaikan aspek sosial dan ekologis.
Yose juga mempertanyakan dampak jangka panjang ketika PLTA beroperasi penuh. Tanpa keterbukaan data debit air, kajian dampak lingkungan yang dapat di akses publik, serta pengawasan independen, kekhawatiran masyarakat di nilainya beralasan.
Ia menegaskan pembangunan energi tidak seharusnya mengorbankan danau, ekosistem, dan kehidupan masyarakat. “Danau Kerinci harus diperlakukan sebagai entitas ekologis dan ruang hidup bersama, bukan semata-mata sebagai sumber input bagi mesin turbin,” ujarnya.
Yose memperingatkan, tanpa perubahan pendekatan menuju pembangunan yang berkelanjutan dan berkeadilan, uji coba PLTA berpotensi menjadi awal krisis lingkungan di Danau Kerinci.(Fra)








