MERANGIN, SIGNALBERITA.COM – Perselisihan lahan perkebunan di Tabir Ulu, Kabupaten Merangin, berujung pada dugaan penganiayaan yang melibatkan dua oknum guru SMPN 32 Tabir Ulu terhadap seorang mantan ASN warga Muara Jernih.
Peristiwa itu di benarkan pihak keluarga korban melalui juru bicara, Muhlisin. Ia menjelaskan bahwa kejadian bermula dari persoalan tanah yang akan di jadikan akses jalan menuju kebun, Selasa (18/11/25).
Menurut keterangan keluarga korban, pria berinisial A memiliki sebidang tanah kebun karet yang hendak ia ubah menjadi kebun sawit dengan bantuan ekskavator. Untuk mencapai lokasi, alat berat harus melintas melalui lahan milik P karena menjadi jalur terdekat.
“Karena lahan kebun inisial P merupakan jalur terdekat menuju lokasi, inisial A meminta izin untuk melintas. Setelah perundingan, inisial P mengizinkan, sehingga bapak A membawa alat beratnya ke lokasi kebunnya,” jelas pihak keluarga.
Setelah ekskavator masuk, P kembali menghubungi A. Ia menyampaikan bahwa jalan tersebut akan di gunakan dalam jangka panjang dan menawarkan agar A membeli sebagian lahan sebagai akses tetap.
Lahan berukuran 3 meter × 63 meter itu awalnya di tawarkan seharga Rp30 juta. Keluarga A kemudian menawar Rp10 juta, hingga muncul penawaran Rp28 juta. Namun negosiasi buntu dan tidak ada kesepakatan.
Karena tidak ada titik temu, keluarga A akhirnya membuka jalur alternatif sejauh 200 meter dari lahan P.
Keesokan harinya, Rabu (12/11/25), keluarga A mendatangi SMPN 32 Muara Jernih untuk bertemu P. Setelah menunggu sekitar 10 menit, keduanya bertemu. P diberi tahu bahwa akses ke kebun sudah di buat sendiri oleh A, dan P tidak diperkenankan melewati tanah milik A. Situasi tersebut diduga memicu pertengkaran antara kedua belah pihak.
Pihak keluarga A kemudian mengklarifikasi tuduhan penganiayaan yang di alamatkan kepada mereka.
“hari ini kami mengklarifikasi bahwa tuduhan penganiayaan terhadap Inisial P tidak sepenuhnya benar. Keluarga kami juga menjadi korban. Inisial A mengalami luka di kepala, tangan dan muka, dan perut, sehingga harus di rawat di rumah sakit beberapa hari hingga tidak sadarkan diri,” ujar keluarga korban.
Kasus ini kini menunggu penanganan lebih lanjut dari pihak berwenang. (Tim)









