JAKARTA, SIGNALBERITA.COM — Langit dunia akan kembali di hiasi peristiwa astronomi langka pada 3 Maret 2026. Fenomena yang dikenal sebagai “Bulan Merah Darah” (Blood Moon) itu akan muncul bersamaan dengan gerhana bulan total, dan dapat di saksikan di sebagian wilayah Asia, Eropa, serta Amerika.
Bulan Merah Darah terjadi ketika Bumi berada tepat di antara Matahari dan Bulan, membuat bayangan Bumi menutupi permukaan Bulan sepenuhnya. Namun sebagian cahaya Matahari yang melewati atmosfer Bumi tetap mencapai Bulan, membiaskan rona merah jingga di permukaannya.
“Cahaya Matahari yang di biaskan oleh atmosfer Bumi menghasilkan warna merah menyala di permukaan Bulan. Itulah sebabnya fenomena ini disebut Blood Moon,” tulis keterangan dari NASA.
Para astronom menyebut, selain indah untuk di saksikan, gerhana bulan total ini juga menjadi momen penting bagi penelitian ilmiah. Selama peristiwa berlangsung, peneliti dapat mempelajari bagaimana partikel di atmosfer Bumi memengaruhi warna dan intensitas cahaya yang di pantulkan ke Bulan.
Waktu terbaik untuk menyaksikan fenomena ini bervariasi di tiap wilayah, namun puncak gerhana di perkirakan terjadi sekitar pukul 19.45 UTC. Para pengamat di sarankan menggunakan teleskop atau kamera dengan filter cahaya rendah agar dapat menikmati keindahan fenomena ini secara maksimal.
Fenomena Bulan Merah Darah selama ini selalu memikat perhatian masyarakat dunia. Selain karena keindahannya, peristiwa ini juga sarat dengan makna budaya dan mitologi kuno. Namun, secara ilmiah, gerhana tersebut menjadi bukti keteraturan dan keindahan sistem tata surya.
“Gerhana bulan total memberi kita kesempatan untuk memahami hubungan dinamis antara Matahari, Bumi, dan Bulan,” tulis European Space Agency (ESA) dalam keterangan resminya.
Peristiwa langka ini menjadi pengingat bahwa keindahan langit malam bukan hanya untuk di nikmati, tetapi juga untuk dipelajari dan dimaknai.***
Sumber: NASA, European Space Agency (ESA), Time and Date Observatory









